suluhnusa.com_Warga Desa Musi Kecamatan Gerogak Kabupaten Buleleng, Bali bersemangat mengolah kotoran sapi menjadi pupuk karena pasarnya cukup menjanjikan dengan diterimanya pupuk organik di hotel berbintang.
Salah satu Kelompok Simantri yang berhasil mengolah limbah sapi sehingga memiliki nilai ekonomis adalah Bina Karya Bhakti di Desa Musi, Buleleng. Lewat bantuan program Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri), mereka tidak hanya meraih keuntungan dengan penggemukan sapi namun juga mendapat nilai tambah dari kotoran sapi.
Menurut Ketua Simantri Desa Musi, Ketut Sumadi, sejak dijalankan program Simantri, seluruh organisasi dan anggota bisa memanfaatkan pupuk organik itu dengan prosentase 70 persen untuk organisasi dan 30 persen anggota.
Saat ini, ada 10 Gapoktan di desa yang bergabung dalam Simantri dengan menenmpati luas sekira 30 are.
Awalnya, ada 20 ekor setelah dikembangbiakkan berhasil berkembang menjadi 60 ekor sapi. Selain pengembangan sapi, juga mengembangkan pengolahan pupuk dari kotoran sapi yang telah berproduksi sejak tahun 2011.
Untuk produksi pupuk organik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jika sebelumnya, hanya memproduksi 82 ton telah meningkat menjadi 242 ton pada tahun 2012.
Peningkatan terjadi lagi pada 2013 di mana produksi pupuk mecapai 677 ton degan penyaluran sebanyak 650 ton.
“Tahun 2014 Kami produksi 167 dari Januari sampai Mei dan telah mengiirim 130 ton, hasilnya cukup lumayan,” katanya.
Sejak tahun 2009, kelompok usaha ternak sapi memulai mengembangbiakkan sapi-sapi Bali secara bersama-sama dengan memanfaatkan kotoran sapi.
Kotoran sapi yang biasanya dibuang karena tidak berguna, lewat program Simantri yang digulirkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, akhirnya memberi nilai tambah bagi peternak.
Lewat proses pengolahan kotoran sapi, melahirkan pupuk organik berkualitas tinggi. Pupuk inilah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hasil pertanian termasuk untuk mendukung pertumbuhan rumput sebagai pakan ternak.
Diakuinya, lewat dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten, mereka bisa lebih mudah memasarkan produk pupuk organik untuk pertanian hingga pasar hotel berbintang
Dan Pemerintah Provinsi Bali telah mengalokasikan anggaran hingga Rp14 Miliar lebih dalam program Simantri untuk pembelian pupuk kotoran sapi dari peternak.
Kabid sumber Daya Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Oka Darmawan mengakui tidak semua kelompok Simantri yang tersebar di seluruh Bali, kemudian berhasil mengembangkan hewan ternak dan pengolahan.
Untuk yang belum bisa memberi hasil optimal, pihaknya terus melakukan pendampingan pembinaan kepada mereka dalam mengatasi berbagai kendala dihadapi.
Bahkan dukungan pemerintah agar masyarakat terus mengembangkan pupuk organik itu, ditunjukkan dengan peningkatan alokasi anggaran untuk pembelian pupuk tersebut dari APBD yang terus meningkat.
Jika tahun 2013 lalu, disiapkan Rp6 Miliar untuk subsidi pembelian pupuk organik, tahun ini ditingkatkan menjadi Rp 14 Miliar. Dengan begitu, peternak tidak perlu lagi memikirkan masalah pemasaran pupuk mereka setelah berproduksi.
Oka menambahkan, saat ini ada sekira 418 Kelompok Simantri dan secara umum telah mengalami kemajuan seperti dalam paketan pengolahannya, baik pupuk bio urine, biogas.
Terhadap yang belum bisa berpoduksi maksimal, dilakukan pembinaan petugas dari kabupaten dan provinsi dan terus meningkatkan koordinasi.
“Yang pasti SImantri ini tidak boleh gagal karena telah menjadi program utama Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun pertanian,” katanya.
Salah satu upaya menerbos pasar, seperti dilakukan Simantri di Denpasar yang bekerjasama dengan Simantri di Lukluk Kabupaten Badung dalam pemasaran pupuk bio urine.
“Tahun 2013 anggaran yang disiapkan mencapai Rp4 M, tahun ini meningkat menjadi Rp10 Miliar, nantinya pemerintah akan membeli pupuk Sumantri dan dikembalikan ke petani dengan harga Rp100 perkilogramnya,” tambahnya. (sandrowangak)
