Pekerjaan Jalan PEN Disoroti Fraksi Nasdem-PKS, Begini Hasil Evaluasi Dinas PU Dua Kontraktor Dinilai Lamban

LEMBATA, SULUH NUSA – Pekerjaan infrastruktur jalan yang dibangun dengan menggunakan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Tahun Anggaran 2022, selain kualitasnya diragukan juga dipastikan tidak selesai tepat waktu.

 

Keraguan ini disoroti berbagai kalangan termasuk semua fraksi di DPRD Lembata dalam sidang paripurna pandangan Fraksi terhadap RTRW, 27 Februari 2023.

 

Fraksi Partai Nasdem-PKS dalam pandangannya memberikan apresiasi atas pencapaian pekerjaan jalan yang dibiayai dana PEN juga meminta pemerintah untuk memberikan penjelasan terkait progres pekerjaan alasan keterlambatan.

 

“Fraksi Partai NasDem – PKS juga menyampaikan sejumlah persoalan yang perlu pula mendapatkan atensi dan tindaklanjut dari pemerintah, di antaranya:
Penanganan pekerjaan jalan yang dibiayai dana pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari PT SMI yang saat ini sedang dalam tahapan pelaksanaan, Fraksi Partai NasDem – PKS mengapresiasi pencapaian yang telaih dicapai hingga saat ini. Namun, Fraksi juga perlu meminta penjelasan pemerintah terkait sejauh mana progres pelaksanaannya di lapangan. Sejuah ini, apakah ada kendala yang dihadapi para rekanan atau pihak ketiga dalam menyelesaikan pekerjaan. Jika tidak ada kendala, apa alasan para rekanan hingga memasuki akhir bulan Februari 2023 ini, pekerjaan proyek jalan tak kunjung diselesaikan. Mengingat, batas waktu adendum perpanjangan waktu pelaksanaan pekerjaan sudah di depan mata. Segmen mana saja yang hingga kini masih terkendala dalam pelaksanaan di lapangan”, demikian pandangan umum Fraksi Nasdem-PKS yang dibacakan oleh Rusliudin.

 

Selain itu, Fraksi Partai NasDem – PKS juga mendorong pengawasan yang lebih intensif baik oleh dinas teknis, PPK maupun konsultan pengawas terhadap sisa pekerjaan proyek jalan baik yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun yang didanai pinjaman PEN dari PT SMI agar pekerjaan lebih bertanggung jawab dan menghasilkan produk yang berkualitas serta dapat diselesaikan tepat waktu.

Kepala Dinas PUPR, Aloys Muli Kedang, usai mengikuti rapat paripurna DPRD, kepada wartawan menjelaskan saat ini dirinya sudah meminta kepada semua PPK untuk menghentikan semua pekerjaan karena kondisi cuaca dan hujan.

 

“Secara lisan saya sudah sampaikan kepada PPK untuk meminta rekanan menghentikan semua pekerjaan. Sejak hujan hari pertama kami sudah sampaikan. Kita harus mengutamakan kualitas. Pekerjaan yang dilakukan dalam kondisi hujan begini akan berpengaruh pada kualitas sehingga kita hentikan”, ungkap Aloys Muli Kedang.

 

Lebih jauh, Muli Kedang menungungkapkan saat ini pihaknya menambahkan waktu pekerjaan menjadi 50 hari tetapi dilihat hari efektif pekerjaan karena kondisi alam.

 

“Semua pekerjaan harus sudah selesai awal maret sesuai kontrak dengan tambahan 50 hari. Tetapi kita mengutamakan kualitas, konsekuensinya denda keterlambatan. Rekanan kita minta untuk utamakan kualitas sekalipun terlambat”, tutur Muli Kedang.

 

Menurut Muli, saat ini hampir semua paket pekerjaan yang berjumlah 50 itu sebagian besar sudah rampung.

 

Disinggung soal paket pekerjaan yang sampai saat ini terkesan lamban, Muli mengungkapkan hanya ada dua paket yaitu paket yang dikerjakan oleh PT. Lima Satu Merdeka dan CV. JPJ.

 

Salah satu paket proyek yang dinilai lambat adalah paket peningkatan jalan SDI Waikomo II – Lerek, segmen Lusikawak – Kalikasa, yang sedang dikerjakan oleh PT. Lima Satu Merdeka melalui Penyedia Jasa PT. Haberka Mitra Persada, dengan Konsultan Pengawas PT. Kencana Adya Daniswara dengan anggaran PEN sebesar Rp. 22.858.460.000 (Dua puluh dua milliar delapan ratus lima puluh delapan juta empat ratus enam puluh ribu rupiah).

 

Michael Tanudiredja, Direktur PT. Lima Satu Merdeka kepada SuluhNusa (weekly line media network) melalui saluran telepon, 27 Februari 2023 menjelaskan pihaknya sudah menerima pemberitahuan secara lisan dari PPK untuk mengehentikan sementara pekerjaan karena kondisi cuaca dan hujan.

 

Ia mengungkapkan beberapa kendala yang menyebabkan pekerjaan jalan yang ditangani terkesan lamban karena kondisi medan yang berat, kerusakan kapal pengangkut aspal mentah juga kondisi cuaca yang tidak menentu.

 

“Ini diperparah dengan kondisi curah hujan yang cukup tinggi, dengan intensitas hujan perhari di atas rata-rata karena memasuki musim penghujan, sehingga berpengaruh b juga dengan hari efektif pekerjaan. Intinya kami tetap mengutamakan kualitas.Kami tidak paksa kerja kalau sedang hujan karena akan menurunkan kualitas pekerjaan. Prinsipnya biar terlambat dan denda tetapi pekerjaan jalan harus berkualitas agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat”, ungkap Michael

 

Saat ini, demikian Mikhael, pihaknya sudah melakukan hormix jalan sepanjang 7 km dan akan dilanjutkan dalam minggu ini sepanjang 3 km.

 

“Kalau hujan pekerjaan hotmix kami hentikan”, tegas Michael.

 

PT Lima Satu Merdeka yang mengerjakan beberapa segmen jalan di Lembata mengaku berupaya untuk tetap bisa selesaikan pekerjaan dengan mempertahankan kualitas Walaupun dalam pelaksanaannya, mereka sendiri mendapat hambatan seperti musim hujan yang membuat para tukang di lapangan, tenaga menghampar aspal, sampai rumah produksi campuran aspal panas atau Asphalt Mixing Plant (AMP) juga terhenti.

 

Namun, Michael sendiri menjamin, proyek peningkatan infrastruktur jalan hotmix baik di dalam kota Lewoleba, di wilayah Lebatukan hingga ke kecamatan Atadei yang dierjakan itu tetap mengedepankan kualitas dan mutu. Lagi pula, sekarang perusahaan tersebut sudah mendatangkan dua alat pendukung proyek untuk menghampar aspal hotmix agar percepatan kemajuan kerja bisa terus meningkat.

 

“Hanya dengan kualitas jalan yang kuat dan tahan lama saja yang membuat masyarakat bisa menikmatinya dalam jangka waktu lama, mengingat juga anggaran proyek PEN tersebut bersumber dari pinjaman daerah dari pemerintah pusat. Kita tetap optimislah, dan tetap kerja dengan memberikan mutu yang baik dari pembangunan daerah ini,” terang Michael.

 

Untuk diketahui sebanyak 50 paket pekerjaan jalan di Lembata menggunakan pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp225 milliar, berdurasi delapan tahun ke PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI), dengan konsekuensi pengembalian pinjaman pokok bunga setiap tahun, sangat menguras APBD Lembata sehingga kualitas pekerjaannya juga harus diperhatikan.

 

Dan tahun 2023 ini masyarakat Lembata melalui APBD 2023 sudah dianggarkan cicilan pembayaran tahun pertama kepada PT. SMI. +++sandrowangak

One comment

  1. Trus gimana dengan PEN untuk simpang 5 Wangatoa simpang Watobua Wulandoni koq ga diapa apain????

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *