Ketika Muda-Mudi Bali Menari Tarian Sakral itu

suluhnusa.com_Tarian itu bernama Caru Sanghyang  Jaran. Tarian ini adalah sejenis tarian magis. Disebut magis karenasejumlah penari pria terlihat menendang bara api batok kelapa yang ada di tengah arena.

“Tak hanya ditendang, bara api panas juga diinjak-injak hingga diambil menggunakan tangan,” demikian dijelaskan salah seorang Sekaa Teruna-Teruni Banjar Dharma Bakti Mandala, di Banjar Petangan Gede-Desa Pakraman Ubung, Putu Agus Suweca.

Agus Suweca, menjelaskan Tari Sanghyang Jaran, ditarikan dalam kondisi kerahuan atau kerasukan. Semua penari pria yang tampil dalam kondisi tidak sadar, kesurupan roh jaran atau kuda. Mereka berlari sambil menginjak atau memainkan bara api dengan kaki dan tangan telanjang. Kendati bara api sangat panas, tidak satupun penari yang mengalami luka bakar.

Saat menari, penari diiringi kidung Sang Hyangjaran dan gamelan. Tari ini diawali dengan ritual nusdus, yakni upacara penyucian medium dengan asap maupun api. Proses selanjutnya adalah masolah, di mana para penari yang sudah kemasukan roh kuda mulai menari. Saat pria sedang menari datanglah tiga Bhutakalla dalam bentuk raksasa. Ketiga bhutakalla itu adalah Bhuta Ireng, Bhuta Hulu dan Bhuta Ijo. 

Tari Sang Hyangjaran digolongkan tari sakral karena hanya digelar pada saat-saat tertentu, seperti saat terjadi wabah penyakit. Bagi masyarakat Hindu Bali, tari ini dipercaya bisa menolak berbagai jenis roh jahat hingga wabah penyakit. Ini adalah cerita tentang Tari Sanghyang Jaran.

 “Secara etimologi Sanghyang Jaran terdiri dari 2 kata, Sanghyang dan Jaran. Sanghyang adalah dewa. Dalam hal ini adalah kekuatan atau energi yang begitu besar sedangkan Jaran berarti Kuda” jelas Suweca.

Sanghyang Jaran adalah Sang Pengendara Kuda yang berfungsi melindungi dari kekuatan penyakit dan kekuatan jahat. Ia menjadi tidak sadarkan diri saat mendengar alunan tembang. Ia berjalan diatas bara panas mengikuti tembang. Terinspirasi dari tarian yang berfungsi untuk melindungi masyarakat dari penyakit dan kekuatan jahat

Nah, untuk itu, dalam merayakan Hari Raya Nyepi di Banjar Petangan Gede, STT Dharma Bakti Mandala, menggelar tari magis ini. Tarian Sanghyang Jaran yang melibatkan sekitar 20 orang Teruna-Teruni.

Pementasan sendra tari Caru Sanghyang Jaran ini digelar, saat hari Pengerupukan, Minggu, 30 Maret 2014 malam, Pkl. 20.00 – 22.00 wita.

Selain pementasan sendra tari tersebut, Banjar petangan gede juga mengajak warga banjarnya untuk menghayati arti dan makna Tarian Caru Sanghayang Jaran melalui ogoh-ogoh.

Sebab, kisah tarian ini, dipersonifikasikan dengan ogoh-ogoh. Ada tiga Bhutakala datang mengganggu seorang yang sedang menunggang kuda mainan dan menginjak bara api.

Berkat kisah tarian Sanghyang Jaran ini, ogoh-ogoh hasil karya,  Teruna Teruni Dharma Bakti Mandala, Banjar Petangan Gede didapuk menjadi juara pertama untuk wilayah Denpasar Utara dari Pemerintah Kota Denpasar.  

Klian Banjar, Petangan Gede kepada suluhnusa.com, 26 April 2014, merasa bersyukur dengan keaktifan dari Teruna-Teruni di sana. Sebab, dengan demikian, mereka saling mengenal. saling menhibur dan saling menjaga. Sebab masa depan bali tergantung pada eksistensi banjar. Dan eksistensi banjar sangat tergantung pada eksistensi dan partisipasi dari teruna-teruni dalam menjaga. (sandrowangak)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *