suluhnusa.com_Penetapan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap kader terbaiknya (Jumat, 14/3/2014), Joko Widodo atau dikenal dengan Jokowi adalah sebuah langkah maju partai politik.
Sebagai mesin politik, PDIP telah melakukan proses regenerasi yang matang atas politik partainya. Selain itu, klaim aristokrasi dinasti partai dengan sendirinya luruh dalam pencapresan Jokowi dalam Pemilu 2014. Keputusan pancapresan Jokowi itu sudah sesuai dengan amanat AD/RT partai dan konggres partai pada tahun 2010 di Bali.
Jokowi adalah tokoh muda dalam politik nasional. Sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo, karir politik Jokowi meroket. Ia kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta. Gaya kepemimpinannya yang unik, menjadikan subyek pemberitaan yang menarik (media darling).
Jokowi pun mendapat simpati sebagain rakyat Indonesia lantaran gaya kepemimpinan yang dianggap revolusioner. Revolusioner di sini berarti merakyat dan dekat dengan rakyat. Di situ, tidak ada spasi yang tegas antara dirinya sebagai pemimpin dan rakyat. Model pemimpin yang egaliter ini membuat rakyat nyaman sekaligus dekat dengan pemimpinnya.
Keikutsertaan Jokowi dalam bursa pencapresan Pemilu 2014 berikut gaya kepemimpinannya merupakan sebuah fase baru kepemimpinan nasional. Kader muda PDIP Yogyakarta Agustinus Budiarta menegaskan, “selama ini nama-nama yang muncul ke publik dari berbagai partai politik merupakan tokoh-tokoh lama yang seharusnya sudah purna tugas, alias pensiun”.
Karena itu, bangsa Indonesia membutuhkan generasi-generasi pemimpin nasional yang baru, muda dan berjiwa muda. PDIP dengan moment Pemilu 2014 mendorong tokoh-tokoh muda untuk ikut dalam pertarungan politik Pemilu 2014.
Sebagai negarawan, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menyambut baik aspirasi-aspirasi rakyat yang menghendaki kadernya ikut dalam pancapresaan Pemilu 2014. Sebagai kader PDIP tebaik, Jokowi adalah tokoh muda ideal yang bisa menyambut begitu aspirasi rakyat. Jokowi adalah bukti keseriusan Megawati dalam memuculkan tokoh muda calon pemimpin bangsa.
“Megawati telah memberikan mandat kepada si kerempeng gaya banteng alis satrio piningit Joko Widodo sebagai capres dari PDIP”, demikian kata mantan aktivis PMKRI Yogyakarta itu.
Memunculkan tokoh muda sebagai pemimpin nasional adalah juga tanggung jawab bangsa. Bangsa Indonesia juga harus sudah memikirkan generasi penerus yang memimpin negara ini.
Agustinus Budiarta yang juga salah satu pengurus KNPI Yogyakarta menilai bahwa sudah saatnya tokoh muda merebut tongkat estafet kepemimpinan nasional.
Negara ini akan pincang jika saja terus-terusan dipimpin oleh tokoh-tokoh lama, apa lagi dengan beban sejarah yang kelam. Jika pada Pemilu 2014 tokoh-tokoh muda tidak diberikan kesempatan untuk memegang tongkat estafet kepemimpinan, bisa saja proses konsolidasi demokrasi di Indonesia akan berjalan mundur, mandeg.
Tentu, banyak kritikan yang dialamatkan kepada Jokowi terkait kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Hal itu bisa dimaklumi dalam politik. Jokowi tetap saja milik masyarakat Jakarta. Tetapi jika dalam Pemilu dia dikehendaki oleh segenap rakyat Indonesia, masyarakat Jakarta tentu harus ikut berbangga.
Sebab, jagoan mereka juga pantas untuk memimpin bangsa ini. Semua itu tergantung pilihan jujur rakyat Indonesia. rakyat Indonesialah sumber legitimasi kekuasaan politik tanah air. Suara rakyat adalah suara tuhan. Vox populi, vox dei.
19 Maret 2014
Alfred Tuname
