Tanam Jali Jali Untuk Menjaga Tradisi Orang Kedang

SULUH NUSA, LEMBATA – Leye atau Jali-jali adalah sejenis pangan lokal. Bagi orang Kedang, khususnya Hoelea, Leye biasanya digunakan dalam upacara adat. Ada beberapa suku di Hoelea, karena alasan budaya dan tradisi, mereka hanya mengkonsumsi Leye, seumur hidup.

Hal ini kemudian menjadi alasan bagi Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Lamun Lama Leteng melakukan kegiatan prosesi Miwaq Leye/Tanam Jali-jali di Kampung lama Hoelea.

Kegiatan ini dilakukan pada Sabtu, 06 November 2021.

Rangkaian kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Lembata, yang diwakili oleh Staf Ahli Nasrun Nebo, Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kadis Pertanian, Camat Omesuri dan melibatkan pemerintah Desa dan masyarakat Desa Hoelea dan Hoelea II.

Beberapa item kegiatan yang dilakukan diantaranya, mengunjungi situs sejarah “Beheng Nobol”, untuk melihat bekas kaki dan cicinnya. Menurut tuturan sejarah, Beheng Nobol adalah seorang raksasa, hal ini juga terbukti dari cicinnya yang berukuran besar. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman Leye atau Jali-Jali, Pengukuhan POKDARWIS Lamun Lama Leteng dan Klub Sepak Bola Persedim.

Camat Omesuri, Ade Hasan Yusuf dalam sambutannya mengatakan bahwa kita semua mempunyai tanggungjawab dalam menjaga dan mempertahankan budaya. Keaslian budaya harus terus dijaga, jangan sampai tergerus oleh arus globalisasi. Kedepannya dengan kelompok yang baru saja dikukuhkan harus bersinergi dengan pemerintah dalam usaha pengembangan budaya.

Sementara itu, Bupati Lembata dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahlinya, Nasrun Nebo menyampaikan apresiasi kepada kelompok Lamun Lama Leteng yang sudah menginisiasi kegiatan Miwaq Leye ini. Kegiatan seperti ini merupakan usaha untuk membudidayakan pangan lokal. Leye sangat dekat dan menjadi bagian budaya dari masyarakat Kedang, karena masih ditemukan orang yang karena alasan tradisi dan budaya hanya mengkonsumsi leye, seperti yang ada di Hoelea ini.

Usaha pangan lokal berpotensi sebagai tambahan pendapatan keluarga dan menjadi pengerak ekonomi daerah bila dilakukan secara sungguh-sungguh, sebagai usaha ekonomi produktif.  Kedepannya harus ada usaha untuk mengembangkan usaha pangan lokal.

Semoga kegiatan hari ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada pangan lokal, dengan cara membudidayakan tanaman lokal sekaligus untuk mempromosikan pengunaan pangan lokal bagi untuk konsumsi keluarga dan usaha ekonomi kreatif. +++y.edangwala

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *