‘Tula Taan Dore Nuan, Gelekat Sampe Nuan Tutu’ di Punggung Guru Maria

Suluh Nusa, Adonara – Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur menyampaikan apresiasi dan rasa bangga untuk terobosan dan inovasi dari PGRI Cabang Witihama.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Witihama menyelenggarakan Konferensi PGRI Ranting I  di Obyek Wisata Meko, Dusun Meko, Desa Pledo, Kecamatan Witihama. Kegiatan ini dilaksanakan agar marwah guru dapat dipertahankan sebagai sebuah tanggungjawab profesi.

Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu, 17 Juni 2021.  Meko adalah destinasi wisata air yang mendapat anugerah terbaik II pada momentum Anugerah Pesona Indonesia (API) tahun 2020. Hal ini menjadi salah satu dorongan bagi Pengurus PGRI Cabang Witihama, memusatkan kegiatan di sana.

“Hebat, luar biasa dan menginspirasi. Bukan PGRI Cabang Witihama kalua tidak melakukan hal yang baru. Saya bangga dan mengapresiasi terobosan ini, bisa jadi proses pelantikan Pengurus PGRI Ranting seperti ini, baru terjadi di PGRI Cabang Witihama. Salut,” ungkap Maksi.

Pada pelantikan tersebut, para pengurus berdiri berjejer di atas pasir timbul Pulau meko. Hanya ada baliho dibelakang mereka. Tidak ada meja atau kursi. Para guru utusan dari tujuh sekolah yakni, SDK Regong, SDI woka, SDK Lewokemie, SDI Oringbele, SDK Witihama SDI Waiwuring dan SDI Mekko mengenakan seragam kebesaran Korpri.

Uniknya, selain melantik pengurus ranting Witihama I di Pasir Timbul Pulau Mekko, penandatanganan berita acara pelantikan dilakukan dengan menggunakan punggung salah satu guru. Guru tersebut menunduk rela dan iklas, punggungnya dijadikan meja. Dan Ketua PGRI Witihama, Petrus Kowa Deket membubuhkan tandatangan berita acara pelantikan pada punggung guru tersebut. Namanya Maria yosefina puhu gelong,S.Ag, guru agama Katolik SDI Woka.

Sebuah kerelaan dan keiklasan akan tanggungjawab sebagai guru menjaga marwah organisasi. Profesional guru menjadi taruhan marwah organisasi pun demikian, marwah organisasi menjadi tanggungjawag guru yang professional.

Guru memang dituntut professional. Dan peningkatan profesional guru bisa dicapai dengan menjaga dan merawat marwah guru itu sendiri.  Ada tiga ciri guru profesional.

Pertama, guru profesional adalah guru yang telah memenuhi kompetensi dan keahlian inti.

Perubahan zaman mendorong guru agar dapat menghadirkan pembelajaran abad ke-21, yaitu menyiapkan siswa untuk keterampilan berpikir kritis, kreatif, inovatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi. Hal tersebut tentu tidak akan dapat diwujudkan jika para guru berhenti belajar dan mengembangkan diri.

Kedua, mampu membangun kesejawatan. Bersama rekan-­rekan sejawat, guru terus belajar, mengembangkan diri, dan meningkatkan kecakapan untuk mengikuti laju perubahan zaman. Bersama teman sejawatnya pula guru terus merawat marwah dan menguatkan posisi profesinya.

Ketiga, guru yang profesional harus mampu merawat jiwa sosialnya. Para guru Indonesia adalah para pejuang pendidikan sesungguhnya yang menjalankan peran, tugas, dan tanggung jawab mulia sebagai panggilan jiwa.

“Dengan segala tantangan dan hambatan, para guru Indonesia berada di garda terdepan dalam pencerdasan kehidupan bangsa,” jelasnya.

Revolusi industry 4.0 yang sudah merambah ke semua sektor harus disikapi dengan arif karena telah mengubah peradaban manusia secara fundamental. Untuk itu diperlukan guru profesional yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang supercepat tersebut untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar pada setiap satuan pendidikan dalam rangka mempersiapkan SDM unggul dengan kompetensi global.

“Tula Taan Dore Nuan, Gelekat Sampe Nuan Tutu” (Berkarya mengikuti zaman sampai akhir zaman) demikian tema yang diusung dalam kegiatan Konferensi PGRI Ranting 1, PGRI Cabang Witihama. Hadir dalam kegiatan ini, Kepala Sekolah, Tenaga Pendidik dan Kependidikan (Anggota PGRI) se Ranting I Cabang Witihama sejumlah 50 orang.

Sebuah kerelaan dan keiklasan akan tanggungjawab sebagai guru menjaga marwah organisasi. Profesional guru menjadi taruhan marwah organisasi pun demikian, marwah organisasi menjadi tanggungjawag guru yang profesional

Petrus Kowa Deket, Ketua PGRI Cabang Witihama mengatakan, sudah saatnya Anggota PGRI bergerak bersama,  sehingga tidak ada pertanyaan PGRI buat apa, PGRI  ada di mana. Menurut Kowa Deket, PGRI Kabupaten Flores Timur saat ini, tidak seperti yang dulu.

“PGRI sekarang dibawah Komando Orang Muda, Maksimus Masan Kian, sejak dilantik akhir Desember 2020, hingga hari ini, melakukan percepatan -percepatan pemenuhan kebutuhan guru. Mesin organisasi dihidupkan mulai dari tingkat cabang hingga ke ranting-ranting. PGRI berjuang memecahkan persoalan yang dialami guru di sekolah-sekolah.

Sekian banyak persoalan yang dialami guru sudah, sedang dan akan terus diperjuangkan oleh PGRI. Dalam waktu dekat, PGRI Kabupaten Flores Timur akan membangun komunikasi langsung dengan Pemerintah Pusat terkait upaya penambahan kuota Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), termasuk guru honor yang tersebar di sekolah swasta yang sepertinya dianaktirikan dalam prioritas seleksi PPPK. Mari terus rapatkan barisan membangun semangat persatuan untuk  mendukung organisasi dengan cara memenuhi kebutuhan kebutuhan anggota.

Konferensi Ranting dalam tahapan pemilihan memilih Karim Kopong Boro, S.Pd sebagai ketua, Regina Due Duli, S.Pd (Wakil Ketua), Dewi Tanjung, S.Pd (Sekretaris I) Maria Gabriela Kewaelaga, S.Pd    (Sekretaris II)  Asmidar Ine Ese, A.Ma. PAI (Bendahara). Usai melakukan pemilihan, rombongan bergerak ke tengah laut menuju ke gundukan pasir putih Meko persis di tengah laut dan melakukan pelantikan di sana. Suasana yang unik dan memberikan energi positif dan inspirasi yang luar biasa. Karim Kopong Boro  Ketua ranting terpilih, menuturkan bahwa sudah saatnya kita bergerak bersama dengan moto bekerja tanpa mengharapkan upah dan balasan. Orang muda memimpin orang tua membimbing.Hari ini, kita dilantik di obyek wisata Meko, posisi tengah laut dengan gundukan pasir yang ikonik, akan selalu mengingatkan kita semua agar selalu memberi diri dalam pelayanan kepada rekan rekan guru,”kata Karim. ***(Azam Putra Lewokeda)

One comment

  1. Teruslah berkarya dengan hati yg tulus dan ikhlas demi mencerdaskan anak bangsa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *