Orang Lembata Sulit Diberitahu Kalau Bangkai Babi Itu Bau

Suluh Nusa, Lembata – Resah juga gelisah. Keresahan ini dirasakan warga nelayan Kubur China, Kelurahan Lewoleba Tengah. Sementara kegelisaan menghantui warga peternak babi. Nelayan Kelurahan Lewoleba tengah dan sekitarnya mengaku resah dengan kondisi laut yang dipenuhi dengan sampah babi. Sampah babi mati akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) yang dibuang sembarang orang yang tidak kenal.

Saban malam nelayan ini pergi melaut mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sayangnya tempat mereka mencari nafka tercemar dengan bauh Bangkai babi yang berserakan di laut.

Hal ini diakui oleh Hamid Akim, Seorang nelayan di pesisir pantai Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Kamis, 14 Januari 2020.

Hamid mengaku dua kali menemukan bangkai ternak babi mengapung-apung di laut saat dirinya memancing di tengah laut.

“Bangkai babi itu besar sekali. Mengapung dekat perahu saat saya sedang memancing. Bangkai itu dari arah Barat. Saya tidak tau berasal dari mana. Itu hari pertama, sedangkan hari kedua turun melaut juga demikian. Saya temukan bangkai Babi mengapung di laut,” ujar Hamid Akim. Najis memang.

Akibat penemuan bangkai babi di tengah laut, para nelayan kini kesulitan menjual ikan hasil tangkapannya.

“Sekarang orang tidak mau beli ikan, karena banyak bangkai mengapung di laut. Orang takut wabah ASF. Sudah 4 hari belakangan ini, omset penjualan ikan menurun. Biasanya sehari bisa dapat 800 ribu, sekarang menurun drastis sampai 200 ribu rupaiah per hari,” ujar Kadijah Taher, penjual ikan di Kelurahan Lewoleba.

Kematian massal babi akibat serangan virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika telah menimbulkan masalah baru di Kota Lewoleba dan sekitarnya. Banyak bangkai babi yang dibuang sembarangan dan tidak dikuburkan secara baik. Pencemaran lingkungan tak terhindarkan lagi.

Bahkan di lingkungan Waikomo, RT 46, ditemukan bangkai babi dibuang sembarang oleh warga dalam selokan. Sementara air selokan DAS Waikomo itu kerap digunakan oleh warga untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Mengantisipasi pembuangan bangkai babi sembarangan yang dapat meluasnya penyebaran virus ASF, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata langsung mengeluarkan kebijakan menyiapkan lokasi penguburan massal bangkai babi. Lokasi yang ditetapkan yakni di sebelah timur Pasar Lamahora, tepatnya di lokasi eks GOR Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur, Kecamatan Nubatukan.

Hal itu tertuang dalam pengumuman yang dikeluarkan Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata Paskalis Ola Tapobali d Ngan nomor TUK.124/54/DISNAK/I/2021 tertanggal Rabu, 13 Januari 2021.

Dalam pengumuman itu, Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali menegaskan bahwa meningkatnya kematian ternak babi akibat ASF di Kota Lewoleba dan sekitarnya dan penanganan bangkai yang tidak tepat dengan cara dibuang sembarangan, telah menimbulkan pencemaran lingkungan dan mempercepat penyebaran virus ASF.

Karena itu, Pemkab Lembata mengimbau masyarakat agar setiap babi yang mati wajib dikuburkan secara baik di tempat masing-masing dan dipastikan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Walau demikian perilaku orang membuang Bangkai babi di sembarang tempat masih saja terjadi.

Jika pemilik babi tidak sanggup menguburkan secara baik, maka pemerintah sudah menyiapkan lokasi penguburan massal menggunakan peralatan eksavator di sebelah timur Pasar Lamahora, di lokasi eks GOR Lamahora. Oleh karena itu, peternak dapat mengantarnya ke lokasi tersebut dengan biaya sendiri untuk dikuburkan secara baik oleh petugas gabungan dari Pemkab Lembata.

Penguburan bangkai babi dilakukan setiap hari mulai pukul 08.00-17.00 mulai 14-28 Januari. Untuk itu diimbau kepada peternak babi atau pengantar agarembawa bangkai babi pada jam yang sudah ditentukan tersebut.

Dijelaskannya pula bahwa sejak mewabah pada 23 Desember 2020 yang lalu, virus ASF telah membunuh lebih kurang 495 ekor babi di Kota Lewoleba dan sekitarnya.

Sementara periode November ssampai 7 Januari 2021 ASF sudah membunuh sekitar 750 ekor ternak babi milik warga Kota Lewoleba.

Pemerintah Kabupaten Lembata sudah mengirim sampel darah dan organ tubuh babi untuk diperiksa di Balai Veteriner Denpasar. Hasil uji laboratorium tersebut bertujuan untuk mengetahui penyebab kematian babi yang begitu cepat dan meluas di Kabupaten Lembata.

Hasil uji Laboratorium Veteriner Denpasar membuktikan ribuan babi yang mati di Lembata karena virus ASF dan sudah ditetapkan oleh pemerintah kabupaten Lembata sebagai Kejadian Luar Biasa atau KLB. (sandrowangak/SN/weeklyline media network)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *