suluhnusa.com_Di sinilah aku berada, di masa yang senyap, memanggil sunyi meski hampa yang terdengar. Kisah yang berlalu kiranya telah membuat segala kenangan tidak lagi menjadi serpihan luka untuk disesali, semua terpusat dalam kumparan waktu yang sewaktu-waktu dapat saja terulang dan terulang lagi. Biar segala nestapa menjadi cerita rumit yang sia-sia, sehingga tatkala tiap pintu hati terketuk, ia terbuka lebar dan meraih semua tangan yang lemah di mana seluruh mata yang menatap kosong tidak lagi berharap dengan sia-sia.
Kekasih jiwa, meski kepedihan telah merasuk dalam sendi-sendi dan aliran kehidupan, inilah dia yang datang kepadaku dan mengatakan apa pun yang akan terjadi, terjadilah dan aku tetap memegang jemarimu dengan kuat. Hati yang luka tak lagi menganga lalu mengharapkan urapan minyak dari para pendeta yang berjalan dalam ketenangan. Masa yang senyap telah memuaskan dahaga pedih yang terangkum dalam berbagai kisah kehidupan. Di sana ada suka, di sana ada pula duka. Semuanya berpadu dalam irama dedaunan yang membisikkan beragam kisah tentang kau dan aku.
Di masa yang senyap, kusimpan ribuan kisah di balik awan gemawan sehingga tatkala periode yang telah berlalu itu tampak, ia tak lagi menjadi ungkapan-ungkapan kata yang membingungkan. Begitu juga dengan derita, jangan biarkan ia menjadi epidemi yang diperalat oleh pemikiran-pemikiran durjana dari mahluk sesat yang serakah dan bebal.
Dunia memang bukan milikmu, bukan juga miliknya dan milikku. Jika idealisme dan materi berpadu menjadi satu kekuatan tanpa rasa iba, maka neraka perlahan-lahan menyusup di setiap sanubari. Jangan…jangan rencanakan segala yang jahat di setiap bilik hati. Jangan tanamkan benih kebencian menguat dan mengkristal lalu menusuk setiap persekutuan yang telah terjalin. Andai hati masih tetap bersinar dan menebarkan cahayanya dengan kuat, di masa yang senyap, biarlah rasa damai menyusup dengan diam-diam di segenap pori. Cinta, bahagia dan kebersamaan terkecap sekejap lalu lenyap. Jika begitu, mengapa kita tidak mempertahankannya? Di masa yang senyap, kau, aku dan dia di sana, lalu mengapa kita tidak tertawa bersama agar beban yang tertimbun dengan kuat semakin ringan terasa, mengapa? ***
Fanny J. Poyk