Malam di Dermaga Buleleng

bulan  menyembul, saat gulita barulah muncul

tampak klenteng kuno berdiri anggun,

diantara pengunjung yang resah meminta nujum

tercium asap hio seharum rambutmu

yang datang bersama doa-doa, oh dewi

 

aku mengenang kisah purba yang tertulis di dermaga tua

di hamparan pasir yang pasrah digerus ombak

pada bangku  taman yang kesepian diejek lampu remang

atau pada kesetiaan mercusuar yang berkedip memberi isyarat pada nelayan

aku mengembara dalam jejak yang kerap berjarak

 

malam semakin lelap , suasana semakin senyap

samar terlihat bangunan peninggalan Belanda yang lelah bersaksi

melewati putaran waktu yang berulang acuh membisu

penjaja cinta bersandar genit merayu lembar rupiah

pada lorong lorong yang setia menunggu dengan ngilu

 

sementara penjaga malam meringkuk ditemani kebosanan

berharap  lelap  dibalik dinding rumah yang hangat

seorang gelandangan menyandarkan lesu pada tiang lampu

bermimpi tentang rumah dengan atap yang ramah

dan aku tenggelam dalam malam yang semakin kelam

mengejar kenangan yang tergerus jaman

luh widyastuti

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *