Mendakilah Dengan Pikiran Suci

suluhnusa.com_ Sebab, bagi orang Bali apapun agamanya, mengunjungi pura ini adalah adalah kewajiban walau hanya sekali dalam hidup.

Bila hendak ke Bali sangat tak elok bila tak sempat berkunjung ke Pura yang konon menjadi Pura Tertua di Bali. Pura itu namanya, Pura Lempuhyang Luhur. Ikuti catatan perjalanan Sandro Wangak, dari suluhnusa.com ke pura puncak Lempuhyang ini.

Sampai di tempat parkir pura, hawa yang begitu sejuk menyambut seolah melepas penatnya perjalanan. Petualangan menuju pura baru saja akan dimulai. Saat itu Kapolda Bali, Albertus Julius Benny Makolu, juga sedang sembahyang di Pura Lempuyang tepatnya di Pura Penataran Agung.

Hari itu 18 Desember 2013, perjalanan jauh dari Denpasar menuju Pura Lempuyang cukup melelahkan. Rasa penasaran dan ingin berkunjung ke Pura dengan tangga terbanyak dan tertinggi di Bali ini, lama terpendam. Keinginan itu tercapai.

Pura itu terletak di sepanjang Lereng Lempunyang sampai ke Puncak. Saat sampai di Parkiran Pura Penataran Agung, terlihat bebrapa Orang Bali sibuk menyiapkan peralatan sembahyang. Saya sendiri menyiapkan sebotol air mineral dan meminjam kain pada ibu pedagang minuman disekitar pura.

Menebak saya bukan asli Bali, Ibu pdagang yang belakangan di ketahi bernama Wayan Sunarsih itu mengungkapkan perjalanan pasti sangat melelahkan. “Jangan bilang capek atau mengeluh saat sedang mendaki tangga mengelilingi Pura 7 pura itu dan sampai ke puncak,” kata ibu itu.

Tiba di pura pertama yaitu Pura Penataran. Tangga-tangga menjulang tinggi menyambut kehadiran umat yang hendak bersebahyang dan pengunjung.

Bagian paling penting di sana bukan hutan itu tetapi gundukan tanah menjulang tinggi dibalut pepohonan hijau. Yaaa, itulah gunung tertinggi di Bali, Gunung Agung.

Siapa pun yang memperoleh kesempatan menyaksikan pemandangan menakjubkan akan membuatnya berhenti sejenak, merasa kecil, bangga, syukur yang teramat sangat. Seolah bercengkerama dengan awan-awan yang mengelilinginya, Gunung Agung benar-benar menunjukkan keagungannya ketika itu.

Dipura Penataran Agung dengan arsitektur yang megah, sebuah candi bentar dibalut batu putih seolah-olah memisahkan keduniawian para umat menuju Madya Mandala.

Bale memanjang di sisi kanan candi bentar dan sebuah bale yang lebih kecil di sisi kiri mempersilakan para penangkil yang merasa kelelahan untuk beristirahat  sejenak. Terlihat tiga buah kori putih menjulang tinggi dan beberapa ekor naga menjulur ke arah Madya Mandala.

Patung-patung denawa pun menyemarakkan megahnya gaya arsitektur di sini. Di pojok kiri berdiri sebuah bale kul-kul yang juga berwarna putih.

Menuju ke Utama Mandala tangga-tangga curam harus dilewati. Ketika menoleh ke belakang. Kemegahan Gunung Agung seolah mendorong dan menyemangati dari belakang. Dan sekali lagi siapa pun yang kembali menoleh ke arah barat akan berkata, “Waaaahhh, terlalu menakjubkan.”

Beberapa pelinggih berjejer di sebelah timur dan lebih sedikit di bagian utara. Beberapa berbentuk padmasana seperti pada umumnya. Seorang pemangku melakukan pemujaan, pemandangan yang sangat biasa kita saksikan di pura-pura.

Perjalanan selanjutnya Menuju ke pura Telaga Mas, jalan aspal yang menanjak kembali mengiringi. Dari Pura Penataran Agung ke Telaga Mas, pengunjung bias menggunakan kendaraan roda dua atau menggunakan jasa ojek. Jasa oje di sana berkisar Rp. 10.000 sampai Rp. 20.000.

Pura Telaga Mas
Warung-warung berjejeran di sepanjang jalan menuju tempat persembahyangan. Lebih enak jika santai sejenak, menikmati air mineral seraya menikmati keindahan alam alami. Menghela napas panjang sebelum menghaturkan bakti.

Jika beruntung dapat dijumpai beberapa monyet liar bergelantungan di dahan pohon. Mereka akan membuat keriuhan kecil. Lucu dan agak menakutkan, tapi cukup menghibur, dalam helaan napas tak teratur.

Suasana hening sejenak ketika semua terkonsentrasi pada satu, Hyang Widhi, diiringi gema suara genta, dan puja-puja mantra. Air suci pun dipercikan ketika persembahyangan telah usai. Ini baru seperlima dari perjalanan, dan jalanan becek dengan medan yang lebih berat berama puluhan anak tangga masih tersedia di depan.

Dar Pura Telaga Mas, pendakian di mulai menuju Pura Telaga Sawang dan Pura Lempuyang Madya. Perjalanan selanjutnya menuju pura Pasar Agung, tangga-tangga yang berjejer rapi membentuk irama menunggu untuk dilewati. Untungnya, ada pegangan besi yang membantu. Selalu ada warung ataupun pedagang asongan yang duduk-duduk sepanjang perjalanan menanti para pengunjung haus atau bahkan lapar, di tengah perjalanan.

Kini jalan menuju Pura Luhur kondisinya berbeda dengan jalan-jalan yang dilewati tadi. Lebih nyaman untuk berjalan karena ada batu-batu tipis yang tertata rapi sehingga perjalanan terasa lebih ringan. Namun, tak tertinggal tangga-tangga menanjak yang membuat kaki makin terasa pegal.

Sebuah tugu kecil bertuliskan Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur menyambut. Ini merupakan pura terakhir dan pura yang paling utama. Tak terlalu luas memang, tapi suasana yang dihadirkan di puncak ini pun semakin terasa begitu tenang.

Menghadap ke Barat tepat di depan Candi Bentar, ujung Gunung Agung yang menjulang tinggi terlihat semakin memesona. Terdapat dua buah pelinggih menghadap ke barat. Bentuknya hampir sama dengan pelinggih yang terdapat di Pura Pasar Agung, dan di Timur Laut terdapat Padmasana yang lebih tinggi.

Uniknya di utama mandala pura ini tumbuh bambu yang di dalamnya terdapat air yang dipergunakan sebgai wangsuhpada. Adapun beberapa masyarakat yang mengambil air suci ini untuk dibawa pulang.

Satu Dari Tiga Pura Besar di Bali

Dalam berbagai sumber lontar atau prasasti kuno, ada tiga pura besar yang sering disebut selain Besakih dan Ulun Danu Batur, yakni Pura Lempuyang.Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, Karangasem.

Pura ini diduga termasuk paling tua di Bali.Bahkan, diperkirakan sudah ada pada zaman pra-Hindu-Buddha yang semula bangunan suci yang terbuat dari batu.Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.

Mengutip berbagai sumber kuno, Jero Mangku I Nyoman Pasek Lempunyang Luhur, yang ditemui suluhnusa.com di Pura Puncak Lempuyang Luhur mengungkapkan orang Bali apa pun wangsanya tak boleh melupakan pura ini.

Paling tidak sekali waktu menyempatkan diri berkunjung sembahyang ke pura ini.Sebab, jika tidak pernah atau lupa memuja Tuhan yang manifestasinya beristana di pura ini, selama hidup bisa tak pernah menemukan kebahagiaan, kerap cekcok dengan keluarga atau masyarakat dan bahkan pendek umur.

Kewajiban masyarakat Bali untuk memuja Batara Hyang Gni Jaya di Lempuyang Luhur disebutkan dalam bhisama Hyang Gni Jaya yang tertulis dalam lontar Brahmanda Purana sebagai berikut: ”Wastu kita wong Bali, yan kita lali ring kahyangan, tan bakti kita ngedasa temuang sapisan, ring kahyangan ira Hyang Agni Jaya, moga-moga kita tan dadi jadma, wastu kita ping tiga kena saupa drawa.”

Jero Mangku I Nyoman Pasek Lempunyang Luhur mengatakan, untuk memulai belajar ilmu pengetahuan, apalagi ilmu keagamaan Hindu, sangat baik jika dimulai dengan mohon restu di Pura Lempuyang Luhur, sebab di Pura Lempuyang Luhur terdapat tirta pingit di pohon bambu yang tumbuh di areal Pura Luhur.

Konon, Jero Mangku I NYoman Pasek Lempuyang Luhur mengisahkan, ada sebuah informasi berdasarkan pemotretan dari angkasa luar, di ujung timur Pulau Bali muncul sinar yang amat terang.Paling terang dibandingkan bagian lainnya.Namun tak diketahui pasti dari kawasan mana sinar itu, dipastikan sinar itu dari Gunung Lempuyang.

Soal arti dari Lempuyang, ada berbagai versi. Dalam buku terbitan Dinas Kebudayaan Bali (1998) berjudul ”Lempuyang Luhur” disebutkan, lempuyang berasal dari kata ”lampu” artinya sinar dan ”hyang” untuk menyebut Tuhan, seperti Hyang Widhi.

Dari kata itu lempuyang atau lampuyang diartikan sinar suci Tuhan yang terang-benderang menyorot.Pura Lempuyang itu merupakan Istana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.

Versi lain menilik ”lempuyang” sebagai sebuah kata yang berdiri sendiri. Di Jawa lempuyang itu menunjuk sejenis tanaman untuk bumbu.Hal itu juga dikaitkan ada banjar di sekitar Lempuyang bernama Bangle dan Gamongan, keduanya juga tanaman sejenis yang bisa dipakai obat atau bumbu. Versi lain juga menyebut dari kata ”empu” atau ”emong” yang diartikan menjaga.

Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya turun untuk mengemong guna menjaga kestabilan Bali dari berbagai gunjangan bencana alam.

Ketiga putra-putri itu yakni Bathara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung) Agung dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur dan Batara Hyang Gni Jaya di Gunung Lempuyang.

Namun, apa pun versi dari lempuyang itu, Pura Lempuyang sendiri memiliki status yang sangat besar, sama seperti Besakih.

Nah, dilewng Gunung Lempuyag ini ada tujuh buah pura di sana. Sebelum mencapai puncak di Pura Lempunyang Luhur, ada ribuan anak tangga yang harus dilewati. Berdasarkan perhitungan suluhnusa.com, ada 1888 anak tangga.

Menurut Jero Mangku, belum pernah ada orang yang menghitung pasti berapa sebenarnya jumlah tangga naik ke Pura Luhur yang berketinggian lebih dari 1.174 meter. Ada yang mengatakan 1.750 tangga, ada juga yang mengatakan 1.800, seanjang perjalanan menitari lereng gunung Lempuyang dengan tujuh yakni Pura Penataran Agung, Telaga Mas, Pura Telaga Sawang, Lempuyang Madia, Pura Puncak Bisbis, lalu Pura Pasar Agung dan yang paling terakhir adalah Pura Lempuyang Luhur.

Mendakilah dengan Pikiran Suci

Saat naik ke Lempuyang Luhur, kata Jero Mangku I Nyoman Pasek Lempuyang, sejak awal pikiran, perkataan dan perbuatan harus disucikan. Tak boleh berkata kasar saat perjalanan.

Selain itu, wanita haid, menyusui, anak yang belum tanggal gigi susu sebaiknya jangan dulu masuk pura atau bersembahyang ke pura setempat.

”Membawa atau makan daging babi saat ke Lempuyang Luhur juga sebaiknya tak dilakukan, karena daging babi itu terbilang cemer. Pantangan ke Pura Lempuyang, hampir sama dengan ke Pura Luhur Batukaru,” ungkapnya.

Empat Jalur

Sesungguhnya ada empat jalur untuk mencapai Pura Lempuyang Luhur. Berdasarkan buku yang disusun Dinas Kebudayaan Bali (1998), bisa lewat Desa Purwayu. Dari rute ini bisa melewati Pura Penyimpenan, Penataran Agung, Telaga Mas, Pasar Agung barulah ke Lempuyang Luhur.

Dari jalur melewati Banjar Gamongan, melewati Pura Lempuyang Madya, terus naik ke Pura Telaga Sawang dan Pura Pasar Agung.

Sementara dari Banjar Batu Gunung, Desa Bukit melewati Pura Angrekasari, melewati lokasi Tirta Suniamerta, Tirta Jagasatru, Tirta Manik Ambengan, Pura Penataran Silawana Hyangsari, Tirta Sudamala, Tirta Empul, Pura Windusari, Pura Pasar Agung (panyawangan) terus ke Lempuyang Luhur.

Jalur terakhir melewati Banjar Jumenang, melewati Pura Penataran Kenusut, Pura Pasar Agung (penyawangan) dan naik ke Lempuyang Luhur.

Mendaki ribuan anak tangga menuju ke Lempuyang Luhur, menuju Jero Mangku, sebagai bagian dari penyucian diri. Melalui ribuan helaan napas dan jutaan tetesan kringat yang keluar.

“Mendaki ke Pura Lempuyang Luhur merupakan pendakian spiritual. Pengunjung yang benar-benar niatnya kuat dilandasi Tri Kaya Pasisudha yang mampu dengan mudah mampu mencapai Pura Luhur. Jika ragu-ragu atau tak tulus bisa terjadi halangan, seperti kepayahan bahkan terjatuh di jalan,” ujar Jero Mangku.

Dan beruntung saya, tidak kepayahan dan terjatuh di tengah perjalanan. (***)

GALLERY. (photo: Sandro Wangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *