Ada hendak meringkuk di sisi gulingmu
Menghangatkan mimpimu yang dingin
Kala malam-malam tak indah tuk lelap
Ada hendak menjadi kerling matamu
Menatap tatap kosong nun jauh mengawang
Jejak-jejak purba yang tak tuntas direngkuh
Lamunan ingar-bingar menyita sungkawa
Ada hendak menempel di balik cerminmu
Mengeringkan bebutiran hujan yang gugur
Kala rengsa tiba-tiba menohok kelopak mata
Ada hendak menjadi pernak-pernik kosmetikmu
Menggurat indah lekuk wajah dan senyum sumringa
Kala jerawat nestapa tumbuhi kerut dahi yang menoreh
Bahkan ada hendak menjadi segala
Di setiap terik dan hujan tubuhmu
Setiap langkah kaki dan degup jantung
Adakah sangsi hendak mengebat di ubun-ubun
Serupa mambang-mambang bergelayut
Antara ada dan tiada, bagimu?
Setidaknya ada serecup hendak di ceruk puisi
Tergores pada dinding-dinding waktu
Tiada mantra dan wangi setanggi
Pun rayu, apalagi dusta aksara
Mungkin sekelumit renjana yang hampir kau
(Kb, 04 Juli 2019)
