Spesialis Monyet

suluhnusa.com_Yogjakarta memang istimewa. Seperti yang sudah umum dikenal, Yogyakarta selain sebagai kota pelajar, juga adalah kota seni dan budaya. Bahkan bersama Bandung dan Bali,Yogyakarta disebut sebagai poros kesenian Indonesia, baik kontemporer maupun klasik. Unik, ada pelukis yang menyebut dirinya sebagai pelukis spesialis monyet.

Penobatan  Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya memang sangat tepat. Di kota inilah, sangat mudah sekali ditemukan berbagai sanggar sanggar ataupun galeri-galeri seni. Karya-karya senipun “berserakan” dengan indahnya di seluruh pojok kota. Seniman? Jangan ditanya.

Hampir semua jenis seniman dari berbagai kategori hidup dan berkarya dengan baiknya di sini. Mulai dari seniman tari sampai pemahat patung. Mulai dari lulusan akademi seni luar negeri ataupun yang tidak pernah mengenyam jenjang pendidikan formal apapun. Dari yang disiplin dan serius sampai yang suka bercanda dan terkesan sangat santai ada di sini. Ini jugalah mengapa kota ini menjadi salah satu barometer perkembangan dunia seni dan budaya di Indonesia.

Dan salah satu seniman yang hidup dan terus konsisten berkarya di kota Yogyakarta adalah Bapak Agustinus Sunaryo, atau yang lebih akrab dipanggil Om Naryo. Bapak dua anak ini sudah hampir dua puluh tahun tinggal di kota Yogyakarta. Walau begitu, nama dan karya Om Naryo sendiri bisa dikatakan tidak pernah terdeteksi. Padahal, karya-karya Om Naryo, terutama karya lukisnya sangat unik, atau mungkin bisa dikatakan satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia.

Mahakarya dari Polusi

Banyak yang mengatakan seniman sering memilih prinsip dan gaya hidup yang unik yang sering tidak sama dengan yang dipilih oleh kebanyakan orang. Inilah juga yang dipilih oleh om Naryo. Bahkan untuk ukuran seniman sekalipun, Om Naryo juga terbilang cukup “revolusioner”, dalam arti berani melawan arus deras gaya hidup seniman. hal ini terwakilkan dari karya lukisnya yang ia pajang di tembok-tembok rumahnya, bukan di galeri seni. 

Ada sepuluh karya seni yang tertempel “liar”dinding rumahnya. Yang sangat menarik, semua karya seni luar biasa itu memiliki beberapa kesamaan; beraliran realis, kaya makna yang nyata dan dalam, dibuat di atas media karton serta memakai langes sebagai media utamanya.

langes sendiri berasal dari bahasa jawa. Penulis merasa sangat kesulitan untuk mencari padanannya dalam bahasa Indonesia, begitu pula dengan Om Naryo. Langes berasal dari sisa-sisa polusi dari pembakaran lampu senthir, sejenis lampu minyak yang memakai sumbu dan berbahan bakar minyak tanah. Bagaimana Om Naryo mendapatkan langes sebagai bahan utama melukisnya?

 Pertama-tama lampu senthir dinyalakan dengan api. Kemudian di atasnya, Om Naryo meletakkan sebuah genting sebagai media untuk menangkap langesnya. Genting ditaruh sedemikian rupa seperti selayaknya membakar daging. Api, hawa panas dan asap dari lampu senthir itu kemudian ditangkap oleh genting dalam bentuk noda-noda hitam yang agak cair.

Inilah kemudian yang disebut langes atau sisa pembakaran dari minyak tanah. Langes dapat digolongkan sebagi polusi, sama seperti asap kendaraan bermotor dan asap pabrik. Dengan bantuan kapas, om Naryo mengambil langes tersebut dan mempergunakannya untuk menghasilkan lukisan-lukisannya yang luar biasa.

Menurut Om Naryo, alasan beliau menggunakan media langes sendiri sangat sederhana. Beliau tidak ingin mengekor pada cara dan teknik yang sudah ada. Beliaupun menggunakan media ini untuk menunjukkan bahwa sebenarnya polusi, limbah atau bahan-bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna juga sebenarnya dapat dimanfaatkan dengan baik.

Beliau juga memilih karton, bukan kanvas, kain atau kertas minyak sebagai alas lukisnya. Ia berusaha menunjukkan bahwa karya seni dapat diciptakan dari  dapat berasal dari media-media sederhana yang terjangkau oleh kantong masyarakat pada umumnya.

Sejuta filosofi dalam lukisan

Di atas adalah contoh dari lukisan karya Om Naryo. Lukisannya begitu hidup dan memiliki aura filosofis yang cukup dalam. Bahkan andaikata tidak berasal dari media langes, lukisan ini juga cukup pantas untuk masuk galeri seni atau menjadi koleksi.

Om Naryo sengaja memilih aliran realis karena menurut beliau, seni akan lebih bermanfaat jika mampu menangkap dan mencerminkan hal-hal yang nyata yang hidup dalam masyarakat sehari-hari. Menurut beliau, realis adalah anak tangga pertama yang sejatinya dilewati oleh semua pelukis sebelum memilih aliran lainnya. Dalam setiap lukisannya, om Naryo menyuntikkan pesan-pesan filosofis yang “down to earth” atau membumi, tidak mengawang-awang, terbang ke langit ketujuh, mengembara dalam angan-angan seseorang dan meninggalkan tanah. Setiap orang harus menjejakkan kakinya ke tanah dan tidak boleh lupa akan hal itu, begitupula dengan seorang seniman. Lanjut beliau, lukisannya adalah potret dari apa yang dilihatnya sehari-hari dalam alur hidup dan latar tempat dimana ia tinggal.

 

Mengabadikan perjuangan seorang ibu, karya lukisan Om Naryo (foto : guritno)
Mengabadikan perjuangan seorang ibu, karya lukisan Om Naryo (foto : guritno)

Ambil contoh  lukisan 1. Dalam lukisan ini, Om Naryo ingin mengabadikan perjuangan seorang ibu, baik dalam mencari nafkah ataupun sebagai kodratnya untuk menjaga anaknya. Om Naryo tidak pernah memberi nama pada lukisannya, hanya saja sering menyebut lukisan ini sebagai perwujudan susahnya mencari makan. Ibu yang ada dalam lukisan ini benar-benar nyata dan dapat ditemui di daerahnya dengan mudah.

Penulis pun membuktikannya. Keesokan harinya, ketika jam belum menunjukkan pukul lima, dapat dijumpai beberapa orang ibu-ibu yang dengan mengendarai sepeda, menyusuri jalan yang masih lenggang untuk mengantarkan sayur mayur, seperti kubis, wortel dan tomat ke sebuah pasar tradisional bernama Pasar Serangan. Ketika hari mulai siang ibu tersebut kembali pulang melalui jalan yang sama, tapi bedanya kini ibu tersebut harus berjuang di tengah-tengah truk, mobil ataupun angkot yang mulai berseliweran menguasai jalanan.

Menikmati Hari Tua, karya lukisan Om Naryo (foto : guritno)
Menikmati Hari Tua, karya lukisan Om Naryo (foto : guritno)

Sedang pada lukisan 2, Om Naryo menyebutnya “Menikmati Hari Tua’, dengan tetap menolak menyebutkan sebuah judul. Kakek pada lukisan tersebut adalah mertua dari Om Naryo sendiri, yang dilukiskan sedang menikmati sebuah rokok dan berpakaian khas Jogjakartanan.

Seorang ibu yang tengah menjahitkan kancing pada seragam putih anaknya yang mungkin masih duduk di sekolah dasar, karya lukisan Om Naryo  (foto : guritno)
Seorang ibu yang tengah menjahitkan kancing pada seragam putih anaknya yang mungkin masih duduk di sekolah dasar, karya lukisan Om Naryo (foto : guritno)

Pada lukisan 3, om Naryo berusaha menampilkan kembali kasih sayang seorang ibu. Digambarkan, seorang ibu yang tengah menjahitkan kancing pada seragam putih anaknya yang mungkin masih duduk di sekolah dasar. Om Naryo menyebut lukisan ini, “Pada Hari Senin”, tapi tetap menolak memberinya nama.

Spesialis Monyet

Dalam dunia seni lukis, terdapat beberapa pelukis yang gemar melukis objek tertentu, seperti misalnya pemandangan, wanita, buah-buahan ataupun panorama laut. Spesialisasi macam ini merupakan hal yang lumrah, yang dipengaruhi oleh kebudayaan, filosofi, pengalaman pribadi maupun tujuan dari sang pelukis. Hal ini juga dialami oleh Om Naryo.

Dia mendeklarasikan dirinya sebagai spesialis monyet. Setidaknya ada empat karya lukisnya yang berobjek utama monyet. Beliau mengatakan kagum dengan makhluk yang satu itu. Monyet, menurut beliau, sering diejek dan dan dihina oleh masyarakat, tapi sebenarnya ia hidup berdampingan dengan masyarakat. Kalimat yang cukup dalam ini dapat diasumsikan bahwa sebenarnya masyarakat setiap menggunakan kata monyet untuk menghina orang lain, pada saat yang sama mereka pun sedang menghina dirinya sendiri.

seorang anak sedang bermain dengan seekor monyet, karya Om Naryo (foto guritno)
seorang anak sedang bermain dengan seekor monyet, karya Om Naryo (foto guritno)

Dalam lukisan 4, om Naryo ingin menunjukkan bahwa hewan dan manusia  sebenarnya juga bisa akur. Tampak seorang anak sedang bermain dengan seekor monyet di sebelahnya.

seperti seekor monyet yang menggunakan buah semangka untuk mendinginkan kepalanya, karya om naryo (foto guritno)
seperti seekor monyet yang menggunakan buah semangka untuk mendinginkan kepalanya, karya om naryo (foto guritno)

Sedang pada lukisan 5 adalah potret keluarga dari om Naryo, yakni beliau, mantan istrinya dan kedua anaknya.

seperti seekor monyet yang menggunakan buah semangka untuk mendinginkan kepalanya, karya om naryo (foto guritno)
seperti seekor monyet yang menggunakan buah semangka untuk mendinginkan kepalanya, karya om naryo (foto guritno)

Pada lukisan 6, beliau ingin menunjukkan bahwa pada saat ini banyak orang merasa pusing sehingga mereka pun membutuhkan pegangan. Om naryo menggambarkannya seperti seekor monyet yang menggunakan buah semangka untuk mendinginkan kepalanya.

Menolak Pameran

Suatu waktu, pernah seorang pelukis yang  biasa mengadakan pameran berkunjung ke rumah beliau. Pelukis itu sangat mengagumi karya-karya om Naryo. Namun  ketika ditanya mengapa om Naryo tidak pernah mencoba memamerkan karyanya, alasan beliau pun cukup sederhana. Beliau mengatakan bahwa barang tak perlu dipamerkan. Karena itulah walau puluhan tahun berkarya, sosok beliau tidak pernah terdeteksi apalagi terambah media sampai hari ini. Beliau pun menolak untuk menjual karyanya, walau salah satu karyanya sudah diberikan secara Cuma-cuma pada seorang teman asal Magelang.

Lantas bagaimana Om Naryo memenuhi kebutuhannya? Bekerja. Beliau menjajakan ketrampilannya sebagai penjahit. Berbekal enam mesin jahit serta ketekunan, ia pun bekerja mencari nafkah, tanpa harus menjual karya dan idealismenya. kepada penulis, beliau mengatakan berangan-angan membuat lukisan lagi dalam waktu dekat dengan media yang tak kalah unik, serbuk kayu. Penulis pun merasa bahagia diizinkan tinggal semalam di rumah beliau. Mungkin sosok “low profile” seperti beliaulah yang harus dicontoh oleh generasi muda saat ini. Tekun bekerja dan teguh berkarya. (Guritno Adi Siswoko)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *