suluhnusa.com_Adalah benar bahwa Soekarno itu seorang pemuda yang mengancam pemerintahan colonial belanda, dan adalah juga benar Soekarno itu adalah seorang pemuda yang berbahaya-tetapi juga benar bahwa Soekarno adalah sosok pemuda yang cerdas, oleh karena itu adalah tidak benar kalau saya memecat Soekarno, karena dia sosok pemuda yang berpandangan politik berbeda bagi bangsa ini…. (Rektor Technische Hogeschool,-sekarang ITB)
Inilah jawaban Rektor Technische Hogeschool,-sekarang ITB, terhadap surat pemerintah Kolonial Belanda perihal permintaan pemecatan Soekarno dari Technische Hogeschool.
Karena Soekarno adalah sosok pemuda yang berbeda dan memiliki misi politik kebangsaan, maka kebangsaan adalah proyek Soekarno seumur hidup. Dan ini tidak bisa dipungkiri. Bahwa Negara Indonesia ini ada karena ideologi Soekarno, tetapi lebih dari itu-Negara Indonesia lahir belakangan dari bangsa Indonesia.
Oleh karena itu sangatlah tepat bila ada yang mengajukan pertanyaan, andaikan tidak Soekarno, apakah Indonesia ada..?
Pertanyaan ini diajukan oleh Dewa Gede Palguna, Mantan Hakim Konstitusi, dihadapan ratusan generasi muda Bali, belum lama ini di Denpasar.
Palguna lalu menegaskan saat Soekarno melakukan perjuangan dan melahirkan ideologi bangsa ini, Bung Karno masih terlalu muda-sejak menjadi mahasiswa di Technische Hogeschool atau ITB saat ini.
“Kebangsaan adalah proyek seumur hidup saya. Itulah kata-kata Soekarno,” ungkap Palguna. Dan dalam setiap sejarah selalu melibatkan keterlibatan pemuda termasuk sejarah bangsa ini.
Menurut Palguna, Pancasila menjadi penting, karena selain sebagai dasar negara yang mempersatukan bangsa ini, juga karena Pancasila terlahir dari seorang pemimpin yang cerdas, gagasan, pemikiran dan tindakan Bung Karno.
”Generasi muda diharapkan jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena dunia ini tidak akan ada tanpa sejarah yang ditorehkan oleh kaum muda bahwa jangan sampai terjadi amnesia sejarah,” ungkap Palguna. Selain itu, dia juga menggambarkan betapa naifnya Negara Indonesia dalam memberikan rasa perkabungan saat Bung Karno meninggal.
“Bahwa, saat Bung Karno meninggal Negara Indonesa hanya mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari, tetapi di Yugoslavia Presiden Boris Tito mengibarkan bendera setengah tiang selama 1 bulan,” cetus Palguna seraya berkata, Orang Yugoslavia lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri.
Palguna lalu menutup pernyataan dengan kembali menggugat rasa Orang Indonesia dengan pertanyaan, Andaikan Tak ada Bung Karno, Apakah ada Indonesia..?.
”Jawabannya adalah bila tak ada Soekarno maka Negara indonesiapun tak ada,” tutup Palguna. (sandro wangak)
