suluhnusa.com_Seminar Ikan Paus, digagas Menko Kementrian Maritim RI. Tanggal 31 Oktober 2016, sehari sebelum seminar dilaksanakan di Hotel Palm, Rombongan Kementerian Maritim, Kementerian Pariwisata, Kepala Dinas Pariwisata NTT bersama para petinggi dan Penjabat Bupati Lembata mengunjungi masyarakat Lamalera .
Dihadapan para petinggi Negra ini, masyarakat Komunitas Adat Lamalera menyatakan sikap terkait seminar Internasional Ikan Paus ini. Inilah pernyataan mereka selengkapnya:
Sebagai nelayan tradisional mencari dan menangkap ikan pau atau Koteklema, pada laut sawu merupakan mata pencaharian dan pekerjaan pokok kami para nelayan tradisional Lamalera guna menghidupi keluarga masing masing pada khususnya dan masyarakat Levo (kampung) Lamalera pada umumnya.
Dari laut hasil ikan tangkapan itu akan dibawah oleh ibu ibu dan perempuan (pnete alep) ke daerah pedalaman atau ke pegunungan dan dibarter dengan ubi, pisang, jagung, padi dan kacang kacangan.
Untuk itu penangkapan ikan paus berkaitan erat dengan tatanan sosial budaya sesuai fungsi dan tanggungjawab masing masing pihak menjadi tali pengikat kekerabatan yaitu Tena Laja, Suku Lamma dan Lango Uma. Ini adalah modal sosial dan nilai gotong royong masyarakat nelayan Lamalera .
Selain itu, penangkapan Koteklema atau Ikan Paus, merupakan sebuah aktivitas kultur budaya, mulai dari penebangan kayu, pembuatan perahu atau peledang, pesta perahu, pembuatan tali, pembukaan musim leva, dimana semua tahapan dan ritual ini dimulai dari rumah besar. Dalam aktivitas kultural tersebut, kami generasi nelayan tradisional Lamalera masa kini dipersatukan dengan masa lampau (nenek moyang kami yang sudah meninggal) dan bagaimana kami berusaha membangun masa depan bagi anak anak kami yang adalah merupakan warisan adat dan budaya kami.
Aspek imanensi, bagi nelayan tradisional Lamalera, menangkap ikan paus atau Koteklema merupakan penjelmaan dari nenek moyang kami yang sudah meninggal, yang memberi bagi kami dan anak cucu kami demi keberlangsungan hidup dan kehidupan generasi selanjutnya di Levo Lamalera . Hal ini nampak nyata dalam sapaan sapaan simbolis dan bahasa isyarat antara nelayan dan Koteklema yang mau ditikam.
Aspek spiritual, semuanya diawali dengan doa. Seekor ikan yang berhasil ditangkap itu semata mata adalah penyelengaraan ilahi. Pada tahun 1970 ketika generasi nelayan pada masa itu difasilitasi oleh FAO dalam penangakapan ikan secara modern dengan menggunakan harpoon. Bagi kami nelayan tradisional Lamalera posisi Tuhan dan Kekuata Levotana tidak bisa diganti dengan kekuatan apapun.
Lalu aspek moral dan harmonisasi, penangkapan Koteklema, akan membentuk dan menentukan perilaku kami para nelayan tradisional Lamalera . Sikap dan perilaku kami baik dalam keluarga maupun dalam lingkup sosial kemasyarakatan tidak boleh mengarah pada rasa dendam, dengki, penghinaan, permusuhan bahkan kaum lemah, (janda – jompo, yatim piatu) tersakiti. Jika semua ini sampai terjadi akan menimbulkan akibat fatal misalnya, bala bencana dalam keseluruhan penangkapan koteklema, seperti nelayan meninggal dunia, perahu pecah/hancur dan tenggelam. Berbulan bulan bahkan sampai tahunan tak ada hasil tangkapan.
Aspek politik dan esksitensi, tatanan pengorganisasian penangkapan Koteklema, telah membentuk etos politik kami yang tidak feodal, penuh asas kekeluargaan dengan penataan peran dan tanggungjawab masing masing sesuai fungsi dan tugas kami masing masing. Kehidupan sosial politik budaya dan kultur kami berpusat pada rumah besar dan kepala suku dengan tali pengikat, tena laja, suku lamma, lango uma.
Karena itu, penangkapan Koteklema, di Lamalera merupakan eksistensi kami nelayan tradisional Lamalera .
Penangkapan kotek lema di Lamalera merupakan satu kesatuan yang membentuk ke-Lamalera -an kami
Dengan menangkap kotek lema secara tradisional merupakan cara beradat, cara hidup, cara berpikir, serta membentuk karakter kami. Dan tidak ada penangakapan ikan paus secara tradisional berarti tidak ada orang Lamalera.
Menghentikan dan melarang penangkapan ikan paus sama artinya dengan usaha untuk menghilangkan bahkan membasmi orang Lamalera dan levo Lamalera .
Pernyataan Sikap :
Penangkapan ikan paus secara tradisional oleh kami nelayan tradisional Lamalera , telah membentuk karakteristik kami yang merupakan esensi dan eksistensi kami nelayan tradisional, maka bila ada tendensi penghentian dan pelararangan penangkapan Koteklema, maka kami akan melawan sampai kapan dan dimanapun selagi masih ada Levo Lamalera dan nelayan tradisional Lamalera.
Hal ini bagi kami merupakan hal serius karena disamping sebagai kebutuhan pokok, mempertahankan eksistensi kami sebagi hak hidup, membentuk karakteristik. Untuk itu, selagi masih ada Levo Lamalera dan kami nelayan tradisional Lamalera kami tetap berjuang dan mempertahankan Koteklema kami akan melawan sampai kapan dan dimanapun:
Yang menandatangni,
Unsur Levo Lamalera :
Lika Telo : Damianus Dasiona
Tuan Tanah : Marsianus Duan
Leva Alap :
1. Lamafa : Goris Krova
2. Meng : Mikel Soge
3. Lamauri : Felix Oleona
4. Tena Alap : Kosmas Beda
5. Atamole : Frans Beding
Penete Alap : Agnes Levo
Yoseph Molan Dasion
Kepala Desa Lamalera A
Yoseph Demon Ferui Bataona
Kepala Desa Lamalera B
