Api Ancam Kampung Adat Di Lewohala, Pihak Polhut Hanya Datang dan Menonton

MEDIA WLN – Postingan Yogi Making petang tadi Selasa 8/9/2020 sekira pukul 15.00 wita melalui laman FB bertajuk “Kabakaran Di Ile Ape, Kobaran Api Terus Menjalar, 101 Rumah Adat Di Jontona Ikut Terancam” mendapat tanggapan beragam. Selain menyampaikan keprihatinan dan mendesak pihak penegak hukum untuk menangkap pelaku pembakaran, anehnya, ada pula yang mencoba klarfikasi.

Kendati tidak menjelaskan kapasitas, diduga, para pihak yang mencoba klarifikasi berasal dari instansi tertentu.

Sebagaimana postingan Yogi, Keturunan Sulung Suku Soromaking pada laman Fb-nya, kobaran api terus membakar belukar di kaki gunung Lewotolok, dalam wilayah desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur.

Upaya mencegah rambatan api dan pemadaman diisiniasi oleh pemerintah Desa Jontona dan Desa Todanara. Ratusan warga dua desa ini dibagi menjadi dua tim. Sebagian orang muda desa Jontona dan Todanara diterjunkan langsung ke titik api di sekitar area kampung adat Lamariang. Sementara tim lainnya ditugaskan untuk membuka jalur api, sebagai upaya mencegah rambatan api di seputara kampung adat Lewuhala.

Yogi dalam postingan itu menyampaikan kalau belum terlihat tim penanggulangan bencana, pun tim Polhut, UPTD Dinas Kehutana Povinsi NTT.

Namun demikian, petang tadi dalam komuniasi via telepon dengan Kades Jontona, Rufus Payong dan salah satu orang muda Jontona Loys Walang, menyebutkan, siang tadi sekira pukul 02.00 Wita BPBD Lembata menerjunkan 4 orang ke lokasi kebakaran di Lamariang. Tim utusan BPBD itu, hadir dengan membawa bantuan perbekalan berupa 2 karung beras dan air minum kemasan 10 dos, dan diserahkan langsung ke Kepala Desa Jontona. Tim Kehutanan kata Kades Jontona, terlihat hadir memantau api dari Lamariang sekitar pukul 16.00 wita.

“Ada empat orang bawa bantuan beras 2 karung dan air kemasan 10 dos dari BPBD. Dua orang turun ke TKP, tapi hanya sampai di hutan lamatoro. Tidak sampai ke lokasi kobaran api, dua orang lainnya tunggu dimobil yang diparkir di jalan Lamariang. Ada juga orang dari kehutanan, tapi datang hanya pantau dari jalan. Mereka tidak turun ke lokasi terbakar, hanya warga yang turun padamkan api,” jelas Penjabat Kepala Desa Jontona itu.

Informasi Kades Jontona, secara tak langsung dibenarkan oleh postingan foto Linus Purek. Dalam tanggapan pada postingan status FB Yogi Making,  Linus meng-up load gambar 4 orang yang berdiri disamping sebuah kendaraan ditemani seorang warga, dan terlihat seolah sedang memantau dari kejauhan.

Selain Linus, beberapa orang lainnya ikut mengklarifikasi, dan seakan menegaskan kebenaran informasi yang disampaikan Kepala Desa Jontona. Seseorang dengan nama akun FB Riss Virganza, ketika nimbrung menjawab postingan Yogi mengatakan, hanya menjalankan fungsi koordinasi.

Tak beda dengan Riss, akun FB Wilhemus Dore menulis sedang mengikuti tahapan. Entah apa yang dimaksudkan dengan fungsi koordinasi juga mengikuti tahapan oleh Riss dan Willhelmus, tetapi tanggapan dua orang yang belum diketahui kapasitasnya secara persis itu, langsung disambut pedas oleh pengguna FB lainnya.

Loys Walang, pemuda desa Jontona menimpali Riss Virganza pedas, “Iya ama, jangan lupa koordinasi juga dengan api tu..omong di api itu bilang boleh terbakar tapi pelan-pela saja e…” tulis Loys. Tak kalah dengan Loys, komentar bernada miring juga dilontarkan Ama Kewama. “hahaha.. yang penting petugas datang lalu menonton saja. Nanti baru api padam sendiri ..” kata Ama.

Terbaca dalam tanggapan terhadap postingan Yogi Making, kalau warga Jontona dan Todanara yang terjun langsung mencegah dan memadamkan kobaran api, kaki gunung Lewotolok itu, terkesan menyampaikan kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Lembata yang belum terlihat tindakan nyata untuk memadamkan api. Padahal kebakaran yang melanda Ile Ape itu terlah terjadi beberapa pekan silam.

Sementara itu, Loys Walang melalui sambungan telepon malam ini Selasa 8/9/2020 mengatakan, upaya pemadaman yang dilakukan warga sejak pagi hingga soreh tadi belum berhasil. Api terus menjalar dan mengacam 101 rumah adat di Kampung Adat Lewohala.

“Dengan peralatan seadanya, kami turun langsung untuk padamkan api. Memang sebagian area berhasil padam, tetapi di hutan kayu persis di kaki gunung itu sulit, karena semak kering dan tebal. Apalagi kondisi angin dan panas. Sampai malam ini api masih menjalar, dan tetu saja mengacam rumah-rumah adat di Lewuhala,” Katanya.

Kendati mengaku kesal terhadap Pihak Pemda Lembata dalam hal ini Dinas terkait, karena belum terlihat upaya nyata dalam memadamkan api, tetapi, Loys masih berharap adanya bantuan tenaga pemadam dan logistik perbekalan dari pihak Pemerintah Kabupaten Lembata.***

 

Ama.k

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *