Cukup Kumpul Seribu Rupiah Saja

suluhnusa.comKalau masing-masing orang bisa menyumbangkan 1000 rupiah setiap bulan maka akan terkumpul 50 juta rupiah setiap bulan

Ada sekitar 50 ribuan warga Buleleng yang tersebar di daerah Badung dan Denpasar, perlu diadakan sebuah organisasi untuk bisa membangun kebersamaan bisa saling kenal, saling bantu satu sama lain.

Sampai saat ini ada sekitar  50 ribu orang buleleng  tersebar di daerah Badung dan Denpasar. Kalau masing-masing orang bisa menyumbangkan 1000 rupiah setiap bulan maka akan terkumpul 50 juta rupiah setiap bulan. Ini akan sangat bermanfaat untuk membantu masyarakat miskin yang ada di Bali khususnya yang ada di Buleleng sehingga tujuan pembangunan Bali yang Mandara akan cepat tercapai

Hal ini dikatakan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, saat melantik pengurus Suka Duka Keluarga Besar “Buldog”  di Lapangan Menumen Gong Perdamaian, Desa Wisata Kertalangu  Denpasar, Minggu 5 Januari 2014.

Dijelaskan Pastika, Buldog harus bisa ikut berkontribusi dalam pembangunan Bali, berguna dan membantu kepentingan masyarakat umum dan bisa bekerjasama dengan organisasi lain untuk kepetingan Bali, Indonesai sampai tingkat Internasional. Karenanya suatu organisasi akan hidup dan eksis kalau berguna untuk msyarakat, maupun anggotanya. Untuk menjadi berguna, maka organisasi harus memiliki program agar bisa membantu masayarakat, baik masyarakat Buleleng, masyarakat Bali maupun masyarakat Indonesia.  

Meskipun organisasi ini bertema primordial, akan tetapi jangan sampai organisasi ini bersifat ekslusif, hendaknya dikemudian hari organisasi ini bisa berkontribusi kepada masyarakat lain maupun organisasi lain untuk Bali dan Indonesia.

“Minimal organisasi ini bisa berkontribusi kepada anggotanya jangan hanya sekedar  hura-hura  dan tidak ada gunanya, “ pungkasnya.

Ketua Umum Buldog, I Komang Nova Sewi Putra menyampaikan bahwa tujuan dari dibentuknya organsasi ini adalah  sebagai wadah suka duka bagi orang-orang Buleleng yang ada di rantau khususnya di Denpasar agar mereka bisa berkumpul bersatu dan bisa mengenal antara satu dengan yang lainnya. 

Program dari organisasi ini lebih banyak untuk kegiatan sosial seperti bakti sosial, tirta yatra, olah raga, pentas seni dan kegiatan sosial lainnya.

Kembali ke persoalan uang seribuh tadi, ada banyak diantara kita yang belum tahu bagaimana memberi harga lebih pada uang seribu rupiah selain nilai materi saja. Akibatnya uang seribu rupiah hanya menjadi “anak tiri” diantara lembaran uang lainnya. Coba lihat saja dimana uang seribu rupiah kita tempatkan. Umumnya tidak di dompet melainkan hanya di saku baju, di laci kendaraan atau malah ditinggalkan di rumah.

Jika pun uang seribu rupiah dibawa serta maka ia lebih banyak digunakan untuk uang parkir dan atau uang untuk diberikan begitu saja kepada pengamen jalanan, si peminta, atau lainnya yang bersifat mengemis. Dan tidak ada sama sekali kegusaran hati manakala uang seribu milik kita jatuh atau hilang.

Atau, sesekali coba perhatikan sikap kita saat usai belanja di supermarket. Jika tidak ada uang kembalian yang nilainya seribu rupiah maka dengan tanpa protes kita terima saja sejumlah permen yang diberikan. Padahal kalau dihitung secara ekonomi itu adalah belanja kita juga.

Padahal uang seribu rupiah itu bisa kita beri nilai lebih yakni dengan melekatkan nilai sosial dan nilai kemanusiaan di dalamnya, secara terorganisir. Ada banyak orang yang membutuhkan uang seribu rupiah.

Sekedar contoh, dengan seribu rupiah anak-anak akan memberi kita sebuah senyum karena ia sudah bisa membeli, minimal permen. Itu kalau uang seribu kita berikan langsung kepada anak-anak yang membutuhkan. Dan lebih dari sekedar senyum manakala potensi uang seribu rupiah itu dibuat menjadi sebuah program bernama Seribu Rupiah untuk Seribu Masa Depan.

Siapa pun pasti senang dan bahagia manakala mendapat kabar bahwa uang seribu rupiahnya menjadi bernilai lebih. Bukan hanya sekedar alat sedekah, juga bukan sekedar mendapat senyum melainkan datang sebuah surat dari anak-anak yang mengabari kalau mereka sudah berhasil meraih cita-citanya berkat uang seribu rupiah yang dulu kita kirim lewat organisasi pengelola gerakan Seribu Rupiah untuk Seribu Masa Depan. Dan karena itu, orang Buleleng cukup memberi seribu rupiah saja melalui Buldog untuk seribu masa depan anak-anak Buleleng. Inspiratif memang.! (sandro wangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *