LEWOLEBA — Pemerintah Kabupaten Lembata terus memperluas peluang bagi generasi muda untuk mengakses pendidikan tinggi dan dunia kerja internasional. Melalui penjajakan kerja sama dengan Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali, pemerintah daerah membuka kesempatan bagi anak muda Lembata untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang, melanjutkan kuliah secara daring, dan mempersiapkan diri bekerja di Jepang.
Pendaftaran calon peserta dibuka pada 16–25 Oktober 2026 melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Kabupaten Lembata. Program ini dirancang sebagai salah satu alternatif peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus perluasan akses kerja bagi lulusan SMA/SMK sederajat yang ingin membangun masa depan melalui pendidikan dan pengalaman kerja internasional.
Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten Lembata, Rafael Betekeneng, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut pembicaraan intensif antara Bupati Lembata dan pimpinan STIKOM Bali di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sebagai tindak lanjut, perwakilan STIKOM Bali telah datang ke Lembata dan bersama Dinas Nakertrans melakukan sosialisasi kepada para pelajar di sejumlah sekolah di Kecamatan Nubatukan.
“Kuliah sambil kerja ini sangat bagus dan strategis. Anak-anak, di samping kuliah, juga bisa magang di Jepang,” kata Rafael Betekeneng kepada media usai peresmian BLKK Ile Lewotolok Nusantara, Kamis (15/10/2026).
Pemerintah Kabupaten Lembata selanjutnya berencana menggelar pertemuan dengan para kepala desa se-Kabupaten Lembata untuk memperluas sosialisasi program. Melalui langkah ini, informasi diharapkan menjangkau generasi muda hingga ke desa-desa, sehingga kesempatan mengikuti program tidak hanya diketahui oleh mereka yang tinggal di pusat kota.
Dalam skema yang ditawarkan, peserta akan menjalani pelatihan bahasa Jepang selama enam bulan di Lembata, sembari direncanakan mengikuti perkuliahan daring melalui STIKOM Bali. Tahap persiapan ini diharapkan menjadi bekal awal sebelum peserta memasuki proses pendidikan lanjutan dan peluang kerja di Jepang.
Meski demikian, Rafael menjelaskan bahwa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Lembata dan STIKOM Bali masih dalam tahap persiapan. Penandatanganan direncanakan ketika program memasuki tahapan pelatihan sesuai kesepakatan kedua pihak.
“MoU belum, kita sedang jajaki. Peserta pelatihan di sini selama enam bulan, pendidikan bahasa di sini. Nanti ketika mau dilakukan pendidikan pelatihan, baru kita penandatanganan MoU,” ungkapnya.
Dalam penjajakan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lembata berperan memberikan dukungan, bimbingan, pemantauan, dan koordinasi, sekaligus memfasilitasi proses perekrutan dan pendaftaran melalui Dinas Nakertrans. Pemerintah daerah juga memberi perhatian pada aspek keterjangkauan biaya agar peluang ini dapat diakses oleh anak muda dari berbagai latar belakang ekonomi.
Rafael Betekeneng mengatakan pihaknya telah meminta STIKOM Bali mempertimbangkan kondisi ekonomi calon peserta, mengingat sebagian besar berasal dari keluarga dengan kemampuan finansial terbatas. Menurut dia, skema pembiayaan perlu dirancang agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak muda yang ingin meningkatkan pendidikan dan kompetensinya.
“Saya sudah tekankan ke STIKOM Bali bahwa berkaitan dengan dana ini coba dipikirkan juga, karena para peserta yang ikut rata-rata orang susah semua. Jadi bisa dipertimbangkan, dibantu dulu lalu dikembalikan seperti apa. Intinya, peserta harus dibantu pakai uang punya mereka (Stikom Bali) dulu,” kata Betekeneng.
Karena itu, rincian biaya pendidikan, pelatihan bahasa, mekanisme bantuan, dan kemungkinan pembayaran bertahap masih perlu diperjelas bersama penyelenggara sebelum peserta mengambil keputusan. Transparansi pembiayaan menjadi bagian penting agar program benar-benar membuka kesempatan, bukan justru menambah beban keluarga.
Materi sosialisasi mencantumkan dua jalur pekerjaan di Jepang, yakni Visa Ikusei Shuro dengan penghasilan sekitar Rp18,5 juta per bulan dan Visa Tokutei Ginou dengan penghasilan sekitar Rp21,5 juta per bulan.
Besaran tersebut masih perlu dikonfirmasi berdasarkan jenis pekerjaan, ketentuan kontrak, jam kerja, potongan, pajak, dan biaya hidup, termasuk apakah angka yang dicantumkan merupakan gaji kotor atau bersih.
Calon peserta juga perlu mendapatkan penjelasan resmi mengenai status program magang atau pekerjaan, perusahaan penerima, persyaratan visa, mekanisme penempatan, serta perlindungan hukum selama bekerja di Jepang. Kejelasan ini penting untuk memastikan bahwa kesempatan yang ditawarkan memiliki tahapan yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Persyaratan awal yang tercantum dalam materi sosialisasi meliputi kepemilikan KTP Lembata, laki-laki maupun perempuan, lulusan minimal SMA/SMK/MA atau Paket C dari semua jurusan, berusia maksimal 30 tahun, sehat jasmani dan rohani, serta tidak bertato. Program terbuka bagi pelamar yang belum menikah maupun sudah menikah.
Pendaftaran dilakukan di Kantor Dinas Nakertrans Kabupaten Lembata mulai Jumat, 16 Oktober, hingga 25 Oktober 2026. Masa pendaftaran masih dimungkinkan untuk diperpanjang. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui Umar di nomor 0812-3745-3781 dan Rahman di nomor 0878-5917-5793.
Bagi Pemerintah Kabupaten Lembata, penjajakan program ini merupakan bagian dari upaya memperluas pilihan masa depan generasi muda melalui peningkatan keterampilan, akses pendidikan, dan kesempatan kerja.
Namun, keberhasilan program tidak semata-mata ditentukan oleh keberangkatan peserta ke luar negeri, melainkan juga oleh mutu pelatihan, kepastian pendidikan, keterbukaan biaya, kejelasan kontrak, dan jaminan perlindungan pekerja.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus mengawal proses persiapan bersama STIKOM Bali agar setiap tahapan memiliki dasar kerja sama yang jelas dan informasi yang transparan. Dengan persiapan yang matang, peluang bekerja di Jepang sambil kuliah dapat menjadi jalan bagi generasi muda Lembata untuk meningkatkan kompetensi, memperluas pengalaman, dan membangun masa depan yang lebih baik.
ProkompimPemkabLembata
