​Remaja Kampung ​D​ilarang ​M​enjadi ​C​erdas?

suluhnusa.com_Orang cerdas bukan orang yang tahu dan diam, melainkan pandai mengungkapkan pikiran kepada orang lain dan mampu memberikan pendapat atas pikiran orang lain.

Pagi berburu menyapa semesta. Matahari masih nongol malu malu. Gerombolan remaja kompak mengerubungi ruangan gedung sekolah di pusar desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga.

Gerombolan remaja. Usia sekolah. Usia pubertas. Mereka memintal senyum. Membersitkan semangat pada wajah polos. Wajah luguh. Beraura orang kampung. Jauh dari keramaian kota.

Hari itu. Remaja usia sekolah ini, djadikan sebagai subyek. Mereka sebagai pelaku utama,. Melibatkan diri melakukan kegiatan, dalam bingkai Bulan Bahasa Nasional dan mengisi Hari Sumpah Pemuda tahun 2015.

Sebab, OSIS SMPN Satu Atap Riangpuho menggelar beberapa kegiatan di sekolah yang dimulai pada hari Jumad, 23 Oktober 2015 dan ditutup pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015.

Kegiatan ini mencakup pertandingan bola voly putra/putri dan beberapa perlombaan yakni, catur putra/putri, quiz mata pelajaran, debat, pidato, membaca puisi dan menceritakan cerita rakyat secara lisan Tiap-tiap kelas mengutus perwakilannya sebagai kontestan pada tiap mata lomba.

Kata Thobias Tobi Ruron, S.Pd, Pembina OSIS, pada moment kali ini,OSIS SMPN Satu Atap Riangpuho mulai berkonsentrasi pada kegiatan publik speaking siswa/siswi. Perlombaan publik speaking ini bertujuan mengasah mentalitas siswa-siswi untuk tampil di depan khalayak.

“Sesuatu yang baru pasti terseret-seret namun bukan menjadi penghalang untuk kita memulai sesuatu yang baru. Orang yang mampu melawan kesulitannya adalah orang-orang yang bakal menjadi orang yang sukses. Orang cerdas bukan orang yang tahu dan diam, melainkan pandai mengungkapkan pikiran kepada orang lain dan mampu memberikan pendapat atas pikiran orang lain,”Thobias bercakap cakap saat itu.

Pada perlombaan membaca puisi, Yohanes Doan Koten, mewakili siswa kelas IXB membacakan sebuah puisi karya seorang penyair NTT, Diana Timoria yang berjudul Sang Penenun.

Lantunan instrument menyentil syaduh. Bait demi bait tertatih-tatih pada bibir mungilnya. Suaranya mulai terdengar gemetar seolah sedang Orang cerdas bukan orang yang tahu dan diam, melainkan pandai mengungkapkan pikiran kepada orang lain dan mampu memberikan pendapat atas pikiran orang lain.menikmati getaran puisi yang sedang dibacakannya.

Air mata menggenang di kelopak matanya yang indah. Doan Koten terlihat tegar dan berusaha membacakan puisi sampai tuntas. Siwa-siswi yang bersimpul kaki di lantai ruangan tampak hening menikmati pagi.

Perwakilan dari kelas VIII yang juga menjabat sebagai ketua OSIS, Yuliana Kia Benu dalam penampilannya terlihat penuh percaya diri dengan pidatonya berjudul ,”Pentingnya Berbahasa Indonesia Di Lingkungan Sekolah”.

Tanpa selembar kertas, Kia Beni mengucapkan deretan kalimat dengan lancar. Wajah polosnya yang tampak ekspresif dan intonasi yang melantang diselingi sentilan yang cerdas semakin mengakrabkan waktu yang beranjak ke ubun-ubun ruangan.

Stefanus Kolo Koten perwakilan dari kelas IXA menceritakan sebuah cerita rakyat dengan judul Asal usul Danau Waibelen. Cerita yang sesekali dibalut dengan bahasa semi satra terluncur manis dari mulut generasi Waibao ini. Kolo Koten merunutkan kronologi cerita rakyat dari desa Waibao, Kecamatan Tanjung ini dengan baik.

Di akhir penampilannya, Koten mengajak para teman-temannya untuk selalu merawat cerita rakyat lokal dengan membiasakan diri mendengar cerita dari orang tua.

Pada partai final debat mengangkat judul, ”Pentingkah Danau Waibelen di Desa Waibao Dijadikan Obyek Wisata”? Kelompok pro dari kelas VIIIC tampak semangat memberikan argumennya, Dominikus Dowen Sogen, salah satu peserta dari kelompok pro dengan mata berbibar-binar melontarkan argumennya.

Dari jaman nenek moyang kita, orang Tanjung Bunga selalu dianggap terbelakang, oleh karena itu danau Waibelen penting untuk dijadikan salah satu obyek wisata di desa kita agar daerah kita boleh dikenal masyarakat luas.

Viktorianus Suban Hokon,salah satu peserta dari kelompok kontra tak mau ketinggalan. Tegas, Viktor berkata, banyak daerah obyek wisata melahirkan dampak negatif misalnya, gaya hidup dan perilaku wisatawan sering menyebarkan dampak yang kurang baik bagi generasi,misalnya pergaulan bebas.

Kedua kelompok akhirnya menyepakati sebuah solusi yakni, jika danau Waibelen dijadikan salah satu obyek wisata maka perlu adanya peran pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk selalu mengawal perilaku para wisatawan saat berkunjung ke danau Waibelen.

Setiap perlombaan dinilai oleh guru-guru pada SMPN Satu Atap Riangpuho secara bergilir yang sudah dijadwalkan sesuai rapat panitia kegiatan. Andriana Golan Koten,S.Pd guru Bahasa Inggris yang menjadi salah satu juri pada perlombaan membacakan puisi mengaku sangat senang telah dipercayakan panitia untuk menjadi juri.

Berharap OSIS terus menggalakan perlombaan publik speaking sebagai ajang melatih siswa untuk menjadi generasi yang pandai berbicara di depan umum dan mencintai ruang berdiskusi.Kalah atau memang bukan soal. Kepada siswa-siswi peserta lomba, suguhkan penampilan terbaikmu demi memuaskan para audiense, pesan ibu guru yang lebih suka disapa Ibu olin ini.

Selepas mentari menegak, gerombolan Remaja Kampung itu pulang ke rumah. Ada sumringah di wajah luguh. Pun bangga bergelayut di dada mereka. Dalam hati, mereka bangga. Bahagia menjadi remaja yang tumguh dan berkembang ala kampung. Walau hanya sekedar berdebat sekelas kampung, di ruangan kelas sekolahnya. Jauh di kampung udik. Riangpuho namanya. Apakah Remaja Kampung dilarang menjadi cerdas ?

Ama Bereng, Guru Bahasa Inggris SMPN Satu Atap Riangpuho.
Wakil Ketua Seksi Dokumentasi dan Publikasi Agupena Flotim.
Email: berenglanan@yahoo.com,
Handphone: 0823 1082 00 22

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *