Allahu Akbar Allahu Akbar
Pagi ini adalah hari dimana aku mampu berdiam diri sejenak menikmati kumandang adzan subuh dan menunaikan ibadah sholat berjamaah. Hening disekitarku. Negeri ini mengingatkanku kepada kelahiran sosok pemuda yang sungguh sangat ingin kudekap erat tak lepas, nabi khatamul anbiya wal mursalin; Nabi Muhammad SAW. Begitu luhur kepribadian beliau hinggga di sepanjang perjalananku beberapa hari kemarin, bibir ini tak terhenti mengucap sholawat atasnya, mengagumi setiap jengkal perjuangannya dan memendam berjuta rindu untuk segera dapat menatap lekat wajah gagah itu.
Masjid Nabawi adalah salah satu masjid yang juga menjadi tempat tujuan pelaksanaan umrahku bersama para ulama-ulama tersohor di negeriku, Indonesia. Aku bersyukur, meskipun aku hanya bekerja sebagai pembantu di rumah Ustadz Jeffry dan keluarganya tapi beliau sangat memperhatikanku.
Beliau mengajakku untuk ikut berbenah mengikuti segala aktifitas umrahnya bersama keluarga besar dan para ulama lainnya. Dan disinilah aku sekarang, memandang langit-langit masjid yang gemerlap dengan pernah pernik tulisan arab yang kurang mampu ku telaah maksud dan artinya. Maklum, ijasahku hanya tamatan madrasah tsnawiyah. Sungguh takjub dengan ukiran dan pahatan di dalam masjid ini yang begitu indah, suasananya begitu khidmat, lantunan kalam-kalamNya terdengar berkumandang silih berganti membuatku ingin berada di ranah Arab sekali lagi.
“Assalamu’alaikum Ukhti Husnul. Kayfa haaluka?” teguran Nurul, sesama rekan kerjaku yang bekerja kepada Ustadz Jeffry seolah menyadarkanku dari rasa kagum yang sesaat terlintas.
“Wa’alaikumsalam ya Ukhti Nurul. Bikhair alhamdulillah. Sungguh tidak terbayang kita masih diberi kesehatan untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Masjid Nabawi,” jawabku seraya mengusap butiran bening air mata yang tak terasa telah memenuhi mukenaku.
“Anaa sa’iidun jiddan lima’rifatik ya Ukhti. Kamu selalu bersyukur di setiap sujudmu, sungguh bangga menjadi saudarimu.”
“Wanaa aydhan ya Ukhti. Engkau pasti demikian adanya karena engkaulah yang lebih dahulu bersama keluarga Ustadz Jeffry. Mengenal keluarga ini, saya menjadi lebih dekat dengan jalan menuju surga,” imbuhku.
“Insya Allah. Yassaralah lanal khaira haitsuma kunna.” Nurul memegang erat jemariku. Ada rasa yang begitu kuat dalam hati kami. Senandung cinta kepada Rabb yang unggul. Cinta yang tak pernah kukira akan singgah dan mendalam lebih dari biasanya. Cinta yang membuatku rela menjalani kehidupan untuk selalu mengenal hikmah dari sebuah ujianNya. Cinta itu jua yang mengajarkanku rasa untuk terus bersyukur atas karunia hidup yang telah dianugerahkanNya, mengingat aku adalah seorang anak yatim piatu dan dipungut oleh keluarga besar Ustadz Jeffry. Beliaulah yang mengajarkanku budi pekerti dan mengenalkanku tentang agama. Sungguh tak terbalas jasa beliau dan semoga Allah jua tempat melabuhkan doa untuk kebahagiaan dunia akhirat mereka sekeluarga. Ku aminkan doa pagi ini seraya bersiap-siap untuk menjamu sarapan para ulama.
Ratih Febrian K.
***
Kayfa haaluka : Apa kabar
Bikhair alhamdulillah : Alhamdulillah, baik-baik saja
Anaa sa’iidun jiddan lima’rifatik ya Ukhti: Senang sekali saya dapat berkenalan denganmu
Wanaa aydhan ya Ukhti : Saya pun demikian
Yassaralah lanal khaira haitsuma kunna : Semoga Allah memudahkan kita dalam kebaikan, dimana pun kita berada