suluhnusa.com_Sejuta mimpi ketika kita menginjakkan kaki di Las Vegas. Negeri seribu “judi” itu menyimpan magnet yang menghipnotis pengunjung. Negeri itu kebanjiran dollar. Miliaran dollar tergerus dari kocek para Miliader hanya dalam hitungan detik.
Surga dunia memang ada di situ. Pergilah ke sana jika anda ingin menikmati madu kehidupan. Anda akan berdecak kagum melihat polesan lipstick dalam balutan busana jereng-jereng dengan goyang dan lagak para penikmat.
Ada yang sintal, bahenol dan Kutilang Darat (kurus tinggi langsing dada rata). Banyak tawaran untuk memikat hati. Tentu saja upasa renovasi untuk konstruksi tubuh dengan biaya miliaran dollar atas nama awet muda, atas nama “super hero”, atas nama gengsi, atas nama kekuatan dan atas nama keperkasaan menjadi trade agar usia boleh tua tapi penampilan tetap muda.
Tawaran kenikmatanpun mengalun sendu. Para penawar memilih kata-kata yang halus untuk menyampaikan maksud meskipun maksud itu cenderung basa basi, hanyalah polesan bibir bukan lahir dari kedalaman kalbu. Dan itu yang disebut strategi jitu memangsa mangsa. Dan dapat dipastikan banyak nian para “penjelajah” yang bertekuk lutut dengan napas “senin kamis”. Pilihanpun cenderung tidak selektif lagi, yang penting ada daripada tidak ada.
Tawaran “kenikmatan” dengan seribu cerita cinta tidak hanya di Las Vegas. Berhentilah sejenak di beranda rumah sembari membuka kembali lembaran cerita tentang sikap bijak para politisi jelang Pemilu. Sejuta aksara bermakna didesain demi menghipnotis pemilih bekiblat pada ilmu “fisik” kutub senama tolak menolak, kutub tak senama tarik menarik.
Kata-kata yang dipilih memiliki makna yang sangat kompleks dengan seribu alasan, melalui permenungan, pergulatan batin dan dipikirkan secara bijak selama berbulan-bulan. Bahkan untuk itu tak jarang para politiisi menyalin kata-kata dari lembaran buku suci. Kata-kata itupun sangat mantap dan penuh daya.
“Tulus berjuang untuk rakyat, abdiku bagi Negeri, lihat, inilah Ibumu, bersatu untuk maju, yang muda yang bisa, dari orangh kecil untuk orang kecil, berjuang untuk perubahan, baktiku untukmu, akulah abdimu, penyambung lidah rakyat, politik bergaransi, muda dan energik penuh dedikasi dan visioner, tulus berjuang”, inilah sekelumit percikan kalbu para politisi yang dilukis dengan tinta emas dengan kanwas hati dalam setiap lembaran “ surat cinta” yang dikirimkan kepada pemilih.
Surat cinta itu sampai dihariban pemilih. Para pemilihpun linglung, nyaris jatuh pingsan, karena indah nian isi surat itu. Ada yang kemudian menyimpannya dalam perpustakaan hatinya tetapi tak jarang surat cinta itupun kerap dipakai untuk membungkus gorengan, karena, katanya, jika gorengan itu dibungkus dengan surat cinta maka gorengan itu bertambah gurih dan enak. Sedap dinikmati dan pas dimulut.
Sembari menikmati gorengan yang dibungkus dengan surat cinta, alam bawah sadar pemilih kemudian mulai bercerita tentang gerangan siapa yang bakal dipilih pada saatnya nanti. Pilihan pemilih tentu sangat variatif, selain karena kenikmatan kata cinta yang tersulam lewat “pesan sponsor” di sejumlah lembaran berbagai ukuran tetapi juga berdasarkan disposisi batin karena pemilih yang cerdas tentu menjatuhkan pilihan pada politisi yang memiliki rayuan maut, tetapi juga tak jarang banyak nian yang tak mau memilih karena rayuan itu penuh dengan tipu daya, terlalu “gombal” dan hanya membuat kepala sakit.
Bisa jadi, sebelum memilih, pemilih sudah terbaring di UGD RSU. Wah parah ni. Ketika pemilih terbaring sakit, para pengirim surat cinta itupun tak pernah nongol.
Ini sungguh terjadi, ketika kampanye tentang propaganda keadilan bertumbuh dan bersemih di mana-mana, sejumlah politisi bahkan meremuhkan sum-sum tulang para pemilih dengan kata-kata yang tak beraturan.
Pengalaman memilihpun telah mengajarkan kepada pemilih untuk tidak jatuh lagi pada lubang yang digali sendiri. Banyak pemilih yang ternyata salah memilih hanya karena propaganda politik yang dating silih berganti, banyak pemilih yang salah memilih hanya karena kata-kata manis.
Tetapi kemudian bermuram durja karena kecewa. Tak sedikit aspirasi yang dikumandangnkan dengan sikap sempurna keteter seperti pembeli lotrei yang kehabisan duit, bingung dan tak bisa berbuat apa-apa. Banyak juga politisi yang melambaikan tangan ketika sudah terpilih, sekedar bertegur sapa pun sudah mahal.
Dan, politisi yang terpilih kerap lupa pada kata-kata manis yang pernah dibisikannya pada malam ketika bulan purnama terbit, saat dimana sebuah kemesraan terpantul bening di keremangan malam, saat di mana suara hati mulai tergerus untuk memilih, saat di mana para politisi memamerkan keintiman. Tapi karena itu kemudian kita tak perlu memilih?
Pilihlah politisi yang tidak hanya menawarkan idealisme, juga tidak seperi tukang sulap yang “sim salabim” langsung jadi, tapi pilihlah politisi yang memiliki integritas dengan segudang paradigma tentang dinamika pembangunan agar ketika “berparlemen”, pikiran dan perkataannya tidak menabrak tembok regulasi, karena di gedung DPRD telah ada “kitab suci dan aturan main.
Dan politisi yang baik, ketika terpilih, harus sudah menanggalkan jubah kebiasaan “buruk” di luar rumah rakyat, tidak boleh tersulut emosinya, dan bijak mengatur lalulintas pembangunan melalui upaya “religius” untuk kepentingan khalayak sama persis dengan tawarannya sebelum menjadi anggota DPR dan bukan jadi anggota DPR yang bermimpi di atas mimpi.
Sponsor politik propaganda para politisi saat ini sedang menghangat, belum lagi tampilan fisik politisi yang direkayasa melalui teknologi. Sejumlah politisi yang telah usur ternyata sangat awet terlihat dikartu nama, baliho maupun layar lebar.
Sejumlah politisi yang tampilan kesehariannya porak poranda ternyata mulus, cantik dan bening disejumlah media. Bahkan mungkin ketika berkampanye, mulutnya sedikit dibengkokan agar suaranya terdengar sahdu, romantis dan penuh makna, gaya jalannyapun pasti seperti para peraga busana. Pemilu legislative bakal datang….saatnya mengurut nurani untuk tidak terjebak pada kenikmatan “sponsor” politik propaganda, karena nikmat sesaat bisa merusak peri kehidupan bangsa. Katakanlah dengan satu bahasa, jadilah padaku menurut kehendakku bukan menurut kehendakmu agar tidak tercipta lagi luka baru di atas luka lama.
Tulisan ini ku dedikasikan untuk para “pemberani” yang telah menyatakan sikap menjadi Caleg DPR. Maju terus. Jadilah petarung yang masuk dan keluar gelanggang dengan kepala tegak, jangan berubah ujud setelah membacanya. (Sultan Ali Geroda)
