Gua Maria, Sahabat Para Korban KM. Sahabat

suluhnusa.com_Mulanya, sebelum tragedy KM. Sahabat II, lokasi itu merupakan pasar Longot. Pasar barter masayakata sekitar Pulau Adonara yang didirikan 1940.

Di pasar ini terjadi sistem barter antara masyarakat Adonara dengan masyarakat dari seberang pulau seperti Lamakera, Lamalera bahkan Alor.

Pusaran arus Gonsalu yang deras tak mampu menciutkan semangat penyeberangan kami dari pelabuhan kota Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT) ke seberang, pulau Adonara.

Selain kaya akan Sumber Daya Alam (SDA),salah satu daya pikat yang ditawarkan pulau Adonara adalah obyek wisata rohani.

Dari kota Larantuka ke pulau Adonara Adonara, kita boleh menggunakan lima jasa penyeberangan laut, yaitu penyeberangan Pantai Palo-Tanah Merah, pelabuhan Larantuka-Waiwadan, pelabuhan Larantuka-Tobilota, pelabuhan Larantuka- Wailebe, pelabuhan Larantuka-waiwerang.

Bersama teman-teman Komunitas Wisata Menulis (KMW) Flores Timur, kami memilih menggunakan jalur penyeberangan Pelabuhan Larantuka-Tobilota dengan menumpang KM Sabar Menanti berukuran kecil dengan hanya menyita waktu lima menit.

Setibanya kami di pelabuhan Tobilota, perjalanan kami dilanjutkan dengan mengendarai roda dua. Jarak 26 KM dari Desa Tobilota menuju kota Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur kami tempuh dalam waktu kurang lebih empat puluh lima (45) menit dengan kondisi jalan yang didominasi aspal berlubang. Jarak dari Kota Waiwerang Kecamatan Adonara Timur menuju desa Bajunta’a Kecamatan Ile Boleng 15 KM.

Ini hari, kami menyambangi sebuah Gua Maria yang berlokasi di Desa Bajunta’a Kecamatan Ile Boleng. Perjalanan dari kota Waiwerang kami tempuh dengan enteng lantaran jalan yang sudah terpoles aspal dengan baik meskipun masih saja ada bopeng jarang di permukaan aspal.

Kami disuguhkan pemandangan alam nan indah dan lahan penduduk yang diramaikan hasil pertanian. Sayur-sayuran dan deretan ubi yang rapih digawangi julang pohon kelapa dan lontar berjejer di tepi jalan.

Setelah tatap kami dimanjakan dengan panorama alam, roda dua kami akhirnya berhenti di sebuah kios di pinggir jalan raya di desa Bajunta’a di siang yang sirik. Kami pun melepas penat di sebuah kios dan berbagi cerita dengan Bapak Leonardus yang kebetulan bertandang ke kios.

Kami menyampaikan niat berkunjung ke Gua Longot dan Bapak Leonardus menawarkan diri untuk mengantar kami terlebih dahulu ke rumah Bapak Petrus Boro Demon, salah seorang tokoh masyarakat dan tokoh agama Desa Bajunta’a.

Sapaan khas Tanah Boleng yang lembut menyulap perjumpaan kami lekas akrab. Dengan bahasa Indonesianya yang fasih, Bapak Petrus menceritakan asal muasal berdirinya Gua Maria yang berlokasi di pantai Longot Desa Bajunta’a.

Mula-mula pantai Longot dikenal sebagai pasar Longot kisaran tahun 1940an. Di pantai ini terjadi barter antara masyarakat Adonara dengan masyarakat dari seberang pulau seperti Lamakere, Lamalera bahkan dari Alor.

Masyarakat Adonara membawa hasil pertaniannya dan menukarkannya dengan hasil laut milik masyarakat Lamakere, Lamalera dan Alor.

Selang beberapa tahun kemudian, pasar ini dipindahkan ke desa tetangga, Lamahelan yang sampai sekarang lebih familiar dengan sebutan pasar Senadan.

Kisah beliau, di sekitar pantai terdapat sebuah sumur yang dibangun pasa masa kerajaan Kakang Tanah Boleng puluhan tahun lampau. Sumur ini menjadi satu-satunya sumber air yang dimanfaatkan masyarakat Bajunta’a dan sekitarnya dari tahun 1940an sampai sekarang.

Pada tahun 1995 masyarakat Bajunta’a membangun tiga sumur lagi yang lokasinya di sekitar pantai Longot. Lanjut beliau, di pesisir pantai Longot juga terdapat tiga sumber mata air antara lain Wai Ina Rana, Wai Kemoti, Wai Puuk Wutung yang terbenam bersama laut ketika pasang naik dan menyisakan genangan air tawar di kala pasang surut.

Siang kala itu, Rabu tanggal 25 Februari 1986, teriakan rombongan menyeruak dari arah laut. KM Sahabat II bernasib naas dalam rute perjalanan dari Lewoleba ke Waiwerang tak jauh dari pesisir pantai Longot.

Kecelakaan laut yang tragis ini menghanyutkan puluhan korban di bawah kepungan arus Watowoko.

Lokasi pekuburan missal Korban Tragedi KM. Sahabat II di Selat watowoko (foto: berelanan)
Lokasi pekuburan missal Korban Tragedi KM. Sahabat II di Selat watowoko (foto: berelanan)

Untuk mengenang para korban, saya yang menjabat ketua dewan stasi St. Donatus desa Bajunta’a kala itu, bersama umat merancang sebuah gua dengan menempatkan sebuah patung Bunda Maria dan membangun kubur korban kecelakaan laut yang berasal dari Paroki St.Yosep Tanah Boleng di dekat gua.

Setahun kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei 1987, di pantai ini dilaksanakan Siarah Kalvari Sedekenat Adonara dan menyumbangkan sebuah salib yang ditempatkan di samping gua.

Semenjak itu pantai Longot lebih dikenal sebagai obyek wisata rohani Gua Maria Sahabat Orang Beriman, Longot. Di gua ini juga sering menjadi pusat siarah St.Anna dan Sekami sedekenat Adonara.

“Selama masa kepemimpinan saya selama 19 tahun, setiap tanggal 25 Februari kami merayakan misa requiem di gua untuk mengenang para korban peristiwa tragis itu. Kebiasaan ini masih terpupuk subur sampai saat ini,” ungkap Petrus.

Setelah kenyang dengan informasi dari Bapak Petrus, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi gua dikawani Bapak Leonardus. Jalan masuk ke Gua yang berjarak 900 meter dari muka jalan raya dengan badan jalan yang sudah dibalut semenisasi.

Setibanya di pantai Longot, kami disambut dengan debur ombak tinggi yang menampar barisan batu karang di tepi pantai. Buih putih biasan amukan arus Wotowoko mengendus bibir pantai yang luas.

Beberapa ibu-ibu mengitari sumur mencuci pakaiannya. Para nelayan sementara menambatkan sampannya di pantai setelah pulang melaut.

Sekelompok remaja sedang asyik menyiram sayur-sayuran yang ditaman di sekitar sumur.

Arsiran oranye melirik dari sela rimbun pepohonan yang menudungi area gua. Siulan burung Nuri bersahutan menguntit langkah kami menghampiri pelataran gua. Batu karang berbentuk setengah lingkaran membentengi gua. Angin senja berdesis tipis memercikan hawa sejuk, menambah suasana shyadu.

Deru ombak yang terus melumat batu karang menyemburkan perasaan mistis, mengingat cerita Bapak Petrus tentang kecelakaan laut dua puluh sembilan tahun silam di tempat ini. Sebuah patung Bunda Maria berdiri kokoh di dalam gua menerawang jauh ke laut.

Disebelah kiri gua sebatang salib tertancap kokoh di antara rongga batu karang. Di sebelah kiri salib, sejumlah kuburan korban kecelakaan laut berjejer rapih di atas batu karang.

Nama korban masih nampak jelas di tiap-tiap salib kubur. Irisan oranye berangsur kemerah-merahan mengintip dari puting bukit semakin menyempurnakan senja.

Dipenghujung kebersamaan, Bapak Leonardus melontarkan harapan bergema ajakan kepada masyarakat Flores Timur dan dari luar Flores Timur untuk sesering mungkin berkunjung ke Gua Maria yang menjadi salah satu ikon wisata rohani di pulau kelapa ini.

Selain bersiarah di Gua Maria Sahabat Orang Beriman para pesiarah juga akan menikmati panorama alam pantai Longot yang mistis diawasi Gunung Boleng yang eksotik.

Benediktus Bereng Lanan,
Anggota Komunitas Wisata Menulis (KMW) Flores Timur,
Wakil Ketua Seksi Publikasi dan Dokumentasi Agupena Flotim,
Email:berenglanan@yahoo.com,
HP :0823 0182 8022.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *