Diduga Transportir “Kencing” BBM, Lembata Nyaris Lumpuh, Parta Niaga Masa Bodoh

Krisis BBM Di Lembata Akibat Buruknya Tata Kelola Distribusi yang dibiarkan memburuk selama lebih dari Dua Dekade

LEWOLEBA – AKTIVITAS masyarakat Kabupaten LEMBATA nyaris lumpuh total. Kantor kantor pemerintah sepih. Jejeran kendaraan roda empat dan roda dua di tiga SPBU di Lembata mengular walau tidak ada pelayanan pengisian sejak lima hari belakangan. BBM di dua SPBU kosong.

Alasannya mereka kecewa. Rugi akibat ulah mafia di tingkat transportir. Pasalnya, kuota BBM untuk dua SPBU di Balauring dan Waijarang selalu kurang 100 liter per jenis setiap kali diantar transportir.

Ada dugaan transportir BBM ke Lembata yang selama ini dipegang oleh PT. Hikam “kencing” BBM di tempat lain sebelum diantar ke SPBU. Akibatnya kuota selalu kurang 100 liter setiap jenis BBM.

Persoalan ini sudah berulang kali terjadi dan dilaporkan ke Parta Niaga, sayangnya mereka masa bodoh.

Persoalan tata kelola distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, rupanya menjadi biang kerok krisis BBM di Lembata.

Dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), yakni SPBU Waijarang dan SPBU Balauring, menghentikan pelayanan, Kamis (5/11/2026), sebagai bentuk protes atas dugaan penyusutan volume BBM yang diterima dari transportir.

Pengelola kedua SPBU mengeluhkan kekurangan volume BBM yang berulang kali terjadi dalam setiap pengiriman. Jumlah BBM yang diterima disebut tidak sesuai dengan pesanan. Bahkan, selisihnya mencapai 100 liter untuk setiap jenis produk BBM.

Akibat penutupan tersebut, dari tiga SPBU yang beroperasi di Lembata, hanya SPBU Tanah Merah yang melayani kebutuhan masyarakat pada Kamis, 5 November 2026. Kondisi ini semakin memperburuk pelayanan di tengah krisis BBM yang telah berlangsung lebih dari dua pekan.

Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Kabupaten Lembata, El Mandiri, kepada wartawan, Kamis (5/11/2026), mengatakan kedua SPBU tersebut akan kembali beroperasi hari ini, Jumat (6/11/2026). Pada hari yang sama, pihak Pertamina Patra Niaga Maumere dijadwalkan turun ke Lembata untuk membahas persoalan tersebut.

“Besok (Hari ini, Jumad_Red) SPBU Waijarang dan SPBU Balauring sudah buka kembali. Besok (Hari Ini) juga dari Pertamina Patra Niaga Maumere turun ke Lembata,” ujarnya.

El Mandiri menjelaskan, aksi protes kedua SPBU dipicu persoalan selisih volume atau losses BBM yang berulang kali mereka alami. Pengelola SPBU mengaku menerima BBM dari transportir dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan volume yang dipesan.

Keluhan tersebut, kata dia, telah berulang kali disampaikan kepada Pertamina Patra Niaga Maumere. Namun, hingga kini belum ada respons yang memuaskan.

Kondisi itu membuat pengelola SPBU memilih tidak melakukan pemesanan atau loading order harian sebagai bentuk protes.

“Misalnya mereka melakukan loading order atau permintaan ke Pertamina sebanyak 10 ton, tetapi yang diterima dari transportir hanya 9,9 ton. Ada kekurangan 100 liter untuk setiap produk, baik Pertalite, Solar maupun Pertamax. Mereka rugi 100 liter dikalikan harga dasar masing-masing jenis BBM,” jelasnya.

Meski pelayanan sempat dihentikan, kedua SPBU dipastikan kembali beroperasi dengan persediaan yang telah disiapkan.

SPBU Waijarang memiliki stok Pertalite 10 ton dan Pertamax 5 ton. Sementara SPBU Balauring menyiapkan Pertalite 5 ton dan Pertamax 10 ton.

Pemerintah daerah berharap kedatangan Pertamina Patra Niaga Maumere dapat memberikan penjelasan sekaligus menyelesaikan persoalan dugaan penyusutan volume BBM tersebut, terutama yang berkaitan dengan pelayanan transportir PT Hikam.

El Mandiri menjelaskan, distribusi BBM untuk SPBU di Lembata selama ini dilayani PT Hikam. Sementara PT Trans Florety melayani kebutuhan khusus BBM untuk PLN Lembata. Apabila terdapat kelebihan pesanan dari empat SPBU yang tidak dapat diangkut PT Hikam, barulah BBM tersebut dititipkan melalui PT Trans Florety.

Pemerintah daerah berharap persoalan distribusi dan selisih volume BBM tidak terus berulang. Sebab, di tengah kelangkaan yang belum sepenuhnya teratasi, terganggunya pelayanan SPBU semakin membebani masyarakat yang membutuhkan BBM untuk aktivitas sehari-hari.

Sementara Yoga, SBM Pertamina Patra Niaga Rayon NTT enggan memberi konfirmasi ketika dihubungi wartawan.

Pertamina Patra Niaga diharapkan tidak hanya merespons keluhan pengelola SPBU, tetapi juga memastikan transparansi volume BBM sejak pengiriman hingga diterima di masing-masing SPBU.

Pihak transportir PT. Hikam pun belum memberikan klarifikasi dengan alasan atasan tidak sedang berada ditempat. +++


sandro.wangak


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *