KUPANG – Dua saudara kembar berdarah Jontona, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Avelio M.D. Making (Ino) dan Mario A.U. Making (Rio), akhirnya mengenakan toga setelah menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
Keduanya lahir dan besar di Kalabahi, Kabupaten Alor. Kedua orang tua mereka, Gabriel Emi Making dan Laurensia Meo, bekerja dan menetap di Alor sehingga masa kanak-kanak hingga remaja kedua saudara kembar itu lebih banyak dihabiskan di Kalabahi.
Latar belakang keluarga mereka juga berasal dari dua daerah di Nusa Tenggara Timur. Sang ayah, Gabriel Emi Making, merupakan putra asli Jontona, Ile Ape, Kabupaten Lembata, sedangkan ibunda mereka, Laurensia Meo, berdarah Nagekeo.
Dari Kalabahi, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan pendidikan ke Kupang. Perjalanan menuju gelar sarjana tidak selalu mulus. Keraguan, kegagalan, hingga keinginan untuk berhenti kuliah sempat mewarnai perjalanan mereka sebelum akhirnya berdiri bersama dalam prosesi wisuda, Sabtu (26/9/2026).
Ino meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), sedangkan Rio memperoleh gelar Sarjana Komputer (S.Kom.).
Perjalanan menuju gelar sarjana itu berlangsung dengan cerita dan tantangan masing-masing. Dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan yang membuat keduanya bertahan hingga menyelesaikan pendidikan.
Rio: Mengira Kuliah Komputer Akan Banyak Bongkar CPU
Mario A.U. Making atau Rio mengaku semula memiliki gambaran sederhana ketika mengetahui dirinya diterima di jurusan komputer.
“Waktu saya dengar saya lulus dan masuk jurusan komputer, saya langsung berpikir, wah, ini pasti bongkar-bongkar komputer. Saya pikir bakal banyak bongkar CPU, pasang ini, pasang itu. Jadi saya bilang, gas, tabrak saja,” ujar Rio.
Namun, kenyataan di bangku kuliah ternyata berbeda dari bayangannya.
“Tapi setelah masuk kuliah, ternyata ekspektasi saya tidak sesuai kenyataan. Di dalamnya justru banyak matematika,” katanya.
Di tengah perjalanan kuliah, Rio tetap menekuni hobinya bermain sepak bola. Ketika ada pertandingan sepak bola di daerah asalnya, ia sempat pulang dan bergabung dengan sebuah klub karena membutuhkan pemain.
Meski demikian, aktivitas tersebut tidak membuatnya melupakan tujuan utama menyelesaikan pendidikan.
Bagi Rio, keberhasilan menyelesaikan kuliah bukan semata-mata tentang memperoleh gelar akademik, melainkan tentang kemampuan bertahan ketika kenyataan tidak sesuai dengan rencana.
“Kalau Tuhan sudah membuka jalan, tetapi kita sendiri malas melangkah, ya tidak akan sampai juga,” ujarnya.
Ia mengatakan perjalanan kuliah mengajarkannya untuk tetap berusaha menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mata kuliah, revisi tugas, hingga aktivitas belajar yang menguras waktu dan tenaga.
“Perjuangan ini bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana. Ini tentang bagaimana kita tetap bertahan ketika jalan yang kita lalui tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan,” kata Rio.
Ino Sempat Ingin Berhenti Kuliah
Cerita berbeda disampaikan saudara kembarnya, Avelio M.D. Making atau Ino. Ia mengaku pernah berada pada titik ketika ingin menghentikan kuliahnya.
Pada saat itu, ia merasa lelah karena beberapa kali mengalami kegagalan. Bersamaan dengan itu, di Alor berlangsung turnamen sepak bola.
Teman-temannya bahkan telah memasukkan namanya ke dalam daftar pemain. Mereka mengajaknya pulang dan bermain sepak bola bersama jika dirinya tidak lulus.
Keinginan untuk meninggalkan kuliah itu semakin kuat setelah mendapat dukungan dari sang mama di Alor. Namun, ketika rencana tersebut disampaikan kepada kedua orang tuanya, respons yang diterimanya justru berbeda.
“Kau datang ke sini untuk kuliah, bukan untuk bermain bola. Kampus mana yang masih membuka pendaftaran? Kau daftar saja,” demikian pesan orang tuanya kepada Ino.
Pesan tersebut menjadi titik balik bagi Ino untuk kembali mencoba melanjutkan pendidikan.
Pesan Pater Charles
Dalam homilinya pada perayaan syukur tersebut, Pater Charles, OCD, mengajak Ino dan Rio tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik.
Menurut Pater Charles, ijazah, gelar, dan toga merupakan tanda bahwa keduanya telah menyelesaikan satu tahap penting dalam perjalanan hidup. Namun, setelah menjadi sarjana, masih ada tanggung jawab yang harus dijalani.
“Sarjana seperti apakah yang akan kalian bawa dalam perjalanan hidup selanjutnya?” kata Pater Charles dalam homilinya.
Ia mengatakan pencapaian tersebut tidak terlepas dari jerih payah orang tua, doa, dukungan berbagai pihak, serta penyertaan Tuhan.
“Di balik ijazah, gelar, dan toga yang ada di kepala kalian berdua, terdapat sebuah tanda bahwa kalian kini telah menjadi seorang sarjana,” ujarnya.
Pater Charles juga mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan yang telah dilalui bukan semata-mata hasil usaha pribadi.
“Untuk mencapai titik ini ada jerih payah orang tua, ada doa-doa yang dipanjatkan, ada uluran tangan dari orang-orang yang mungkin tidak selalu kita sadari. Dan yang paling penting, ada penyertaan Allah,” katanya.
Bagi keluarga Making, wisuda Ino dan Rio menjadi momentum syukur sekaligus penanda dimulainya tahap baru dalam perjalanan hidup kedua saudara kembar tersebut.
Dua toga yang dikenakan pada hari wisuda itu bukan hanya menandai gelar akademik, tetapi juga merekam perjalanan panjang yang diwarnai kegagalan, keraguan, perjuangan, dukungan keluarga, serta keyakinan untuk terus melangkah.+++
goe.t
