Mahasiswa Alor Bongkar Harga Beras di Hadapan Mentan, Ayahnya Sempat Khawatir Data Tak Akurat

"Dia bicara dengan lantang, dengan berani, dengan jujur, dengan polos, dan dengan data," katanya

KALABAHI — Keberanian Adriano Padama menyampaikan persoalan harga dan distribusi beras di Kabupaten Alor secara langsung kepada Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman membuat ayahnya, Semuel Padama, diliputi perasaan campur aduk.

Ada rasa terkejut, bahagia, haru sekaligus bangga. Namun di balik itu, Semuel sempat menyimpan kekhawatiran. Bukan karena putranya berani berbicara di hadapan seorang menteri.

Kekhawatiran itu muncul karena Adriano membawa persoalan publik yang disertai angka dan data.

Semuel takut data mengenai harga dan distribusi beras yang disampaikan putranya tidak akurat.

Namun kekhawatiran tersebut berubah menjadi kekaguman setelah ia memilih memeriksa kembali informasi yang dibawa Adriano.

“Pertama saya sedikit kaget, lalu bahagia, tetapi bercampur sedih, kagum, karena dia bisa berani seperti itu,” ujar Semuel Padama kepada media, Sabtu (8/8/2026), di kediamannya di Jembatan Hitam, Kalabahi.

Menurut Semuel, keberanian Adriano bukan keberanian tanpa dasar. Mahasiswa tersebut berbicara lantang, tetapi tetap berpijak pada data dan fakta mengenai persoalan harga beras yang dirasakan masyarakat Alor.

“Dia bicara dengan lantang, dengan berani, dengan jujur, dengan polos, dan dengan data,” katanya.

Sebagai orang tua, Semuel tidak langsung menerima begitu saja informasi yang disampaikan putranya. Ia justru melakukan pengecekan ulang.

Semuel mengaku sempat berpikir apakah angka-angka yang disampaikan Adriano benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Saya khawatir, jangan sampai anak saya asal bicara. Data juga harus data yang konkret,” ujarnya.

Ia kemudian mencari dan mencocokkan informasi mengenai harga beras, distribusi, serta masyarakat yang telah maupun belum menikmati beras dengan harga terjangkau. Hasil pengecekan tersebut membuat Semuel semakin yakin bahwa apa yang disampaikan Adriano bukan sekadar klaim.

“Saya cek kembali mengenai harga, menyangkut distribusi, menyangkut siapa yang belum menikmati dan siapa yang sudah menikmati,” tutur Semuel.

Menurut dia, persoalan yang disampaikan Adriano sesuai dengan kondisi di lapangan. Bahkan, ketika dilakukan uji petik langsung di sejumlah wilayah, persoalan serupa kembali ditemukan.

Bagi Semuel, masalah beras tidak boleh berhenti sebagai angka dalam laporan. Harga dan distribusi pangan harus benar-benar dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota dan berada di wilayah pelosok.

“Barang ini seharusnya distribusinya merata, semua harus menikmati,” katanya.

Hal lain yang membuat Semuel terharu adalah respons Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman setelah mendengar langsung persoalan yang disampaikan Adriano.

Menurut Semuel, respons tersebut tidak berhenti pada jawaban verbal. Persoalan yang disampaikan langsung ditindaklanjuti.

Ia bahkan menyebut perubahan harga beras mulai terlihat tidak lama setelah dialog tersebut.

“Pertama saya berterima kasih kepada Menteri, karena dia langsung merespons. Saat itu juga dia langsung eksekusi,” ujar Semuel.

Menurut penuturannya, sekitar satu jam setelah respons tersebut, penjualan beras dengan harga lebih rendah melalui Bulog mulai terlihat di lapangan, salah satunya di Desa Lembur Barat.

Semuel menyebut harga beras yang sebelumnya Rp65.000 per lima kilogram berubah menjadi Rp57.000.

“Harga beras dari yang sebelumnya Rp65.000 menjadi Rp57.000 untuk yang lima kilogram. Ada perubahan harga yang nyata,” katanya.

Untuk itu Bagi keluarga Padama, perubahan tersebut menjadi momen penting. Sebab, aspirasi yang dibawa seorang mahasiswa dari daerah tidak berhenti sebagai percakapan di hadapan pejabat negara, tetapi disebut berlanjut pada perubahan yang dirasakan masyarakat.

Persoalan Lama: Ketimpangan Distribusi Beras di Pelosok Alor

Meski demikian, Semuel berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada momentum tersebut.

Ia meminta agar keterjangkauan harga dan pemerataan distribusi beras terus dijaga, khususnya di wilayah-wilayah terpencil Kabupaten Alor.

Menurut Semuel, masih terdapat sejumlah daerah yang belum menikmati beras program pemerintah.

“Ada beberapa daerah terpencil di Alor yang belum pernah merasakan beras SPHP,” katanya.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan pangan di daerah tidak hanya berkaitan dengan harga di tingkat konsumen, tetapi juga menyangkut bagaimana kebijakan pemerintah benar-benar menjangkau masyarakat di wilayah terluar dan sulit dijangkau.

Bagi masyarakat di daerah seperti Alor, beras murah tidak cukup hanya tersedia di pusat distribusi. Persoalan utamanya adalah apakah komoditas tersebut benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan dengan harga sesuai ketentuan.

Yang membuat Semuel semakin heran, keberanian Adriano menyampaikan persoalan tersebut ternyata tidak datang dari arahan keluarga.

Semuel menegaskan dirinya bersama istrinya, Ady Irma Rtebana, tidak pernah menyuruh Adriano berbicara mengenai persoalan harga beras di hadapan Mentan.

“Saya dan istri tidak pernah suruh dia omong begitu. Makanya saya heran,” ujar Semuel.

Menurutnya, pertanyaan dan keberanian Adriano muncul secara spontan.

“Saya tidak pernah menyuruh dia bertanya soal harga beras. Itu spontan dari dirinya sendiri,” katanya.

Semuel melihat putranya sebagai sosok yang memiliki rasa ingin tahu besar terhadap persoalan di sekitarnya.

Adriano, kata dia, tidak hanya melihat sebuah masalah, tetapi berusaha mencari tahu penyebabnya sekaligus memikirkan kemungkinan jalan keluarnya.

Keberanian itulah yang kemudian membawa persoalan harga dan distribusi beras di Alor ke hadapan seorang menteri.

Semuel menilai momentum dialog tersebut memang terjadi ketika persoalan pangan tengah menjadi perhatian pemerintah secara nasional.

“Jadi mungkin momennya juga pas. Dia angkat masalah ini, dan masalah ini sementara menjadi masalah nasional yang menjadi konsen Pak Menteri,” ujarnya.

Namun bagi Semuel, momentum tersebut seharusnya tidak berhenti pada satu dialog ataupun satu kali perubahan harga. Yang lebih penting adalah memastikan kebijakan pangan benar-benar menjangkau masyarakat hingga pelosok Alor.

Sebab, keberhasilan program beras murah pada akhirnya bukan hanya diukur dari kebijakan yang diumumkan pemerintah, tetapi dari apakah masyarakat di wilayah terpencil benar-benar dapat membeli beras tersebut dengan harga yang terjangkau.

Di titik inilah keberanian Adriano menjadi penting. Ia membawa persoalan yang dirasakan masyarakat di daerah langsung ke hadapan pengambil kebijakan.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar apakah suara itu didengar, tetapi apakah respons tersebut dapat bertahan dan menjangkau seluruh masyarakat Alor yang membutuhkan, tutup Semuel.+++


j.k


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *