KALABAHI – Kampung Adat Latifui yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Matalafang, Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU) Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus melestarikan tradisi leluhur melalui Ritual Balai Hateel, sebuah upacara adat sakral yang menjadi penanda Tahun Baru Kalender Pertanian Abui.
Balai Hateel merupakan ritual permohonan petunjuk kepada Lahataala, Penguasa Alam Semesta, untuk menentukan lokasi pertanian pada musim tanam yang baru. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Abui karena mengandung nilai spiritual, penghormatan terhadap alam, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Ritual dilaksanakan setiap purnama Muok Iya, tepat pada 14 Muok Iya, sebagai awal dimulainya siklus kalender pertanian masyarakat Abui. Momentum ini menandai dimulainya rangkaian aktivitas adat yang mengiringi perjalanan musim tanam hingga panen.
Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan Lasak Hoo Nukda pada 19 November, yaitu ritual tanam atau “memberi makan kepada tanah” sebagai ungkapan syukur sekaligus doa memohon kesuburan lahan.
Selanjutnya, pada 15 Mei, masyarakat menggelar Fat Hiyel, tradisi Makan Baru sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen pertama yang dipersembahkan sebelum dinikmati bersama.
Seluruh rangkaian ditutup dengan Fut Haluuk pada 19 Juni, yakni pesta panen yang menjadi simbol sukacita dan ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Ritual Buka Lahan Baru/ Balai Hateel yang artinya “goyang pisang yang sudah di bakar”.
Kini, rangkaian ritual tersebut telah menjadi kalender event budaya masyarakat Abui dataran rendah di Desa Lembur Barat.
Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dijaga, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menawarkan pengalaman autentik bagi wisatawan untuk menyaksikan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah diundang untuk berkunjung ke Kampung Adat Latifui, merasakan keramahan masyarakat Abui, serta menyaksikan secara langsung ritual adat yang sarat makna, spiritualitas, dan nilai-nilai luhur warisan budaya Kabupaten Alor.+++
j.k
