Seturut Ajaran Hindu, Bumi Seibarat Tubuh Manusia

suluhnusa.com_Hari Raya Galungan yang dilaksanakan umat Hindu baru saja berlalu. Galungan yang jatuh setiap 210 hari sekali atau pada tahun ini dirayakan tanggal 21 Mei 2014 dan 17 Desember 2014, adalah sebuah puncak peringatan kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (kebatilan).

Kemeriahan puncak kemenangan dharma ini ditandai dengan upakara yang dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Kuasa termasuk di pasangnya penjor atau batang bamboo yang dihiasi janur di depan masing masing rumah.

Rangkaian Hari Raya Galungan ini sesungguhnya sudah dimulai sejak Tumpek Wariga, Sugihan, Galungan, Kuningan dan Buda Kliwon Pahang. Sekilas mengenai Tumpek Wariga, adalah hari dimana dihaturkannya sesaji atau persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai penguasa tumbuh tumbuhan.

Hari Tumpek Wariga dirayakan setiap 210 hari atau 25 hari sebelum galungan yaitu pada Saniscara Kliwon wuku Wariga (dalam kalender Bali) yang dalam rangkaian Galungan tahun ini jatuh pada tanggal 22 Nopember 2014. Pada hari itu, dimaknai dengan memohon agar tumbuh tumbuhan terutama yang akan digunakan dalam Hari Raya Galungan berbuah atau berdaun lebat sehingga bisa dipakai pada saat Galungan tiba, misalnya buah buahan seperti Mangga, jeruk dll, bunga bungaan seperti kenanga, cempaka, kamboja dll, atau kelapa agar bisa dimanfaatkan buah atau daun janurnya.

Hari Tumpek Wariga ini menandai dimulainya pendakian umat secara spiritual untuk mempersiapkan diri merayakan Hari Raya Galungan.

Setiap tahap dalam rangkaian Hari Raya Galungan ini sangat penting untuk dilaksanakan dengan hati yang tulus iklas, mempersembahkan apa yang sudah di berikan Yang Maha Kuasa sebagai tanda mohon ijin untuk menikmati atau memanfaatkannya. Setiap tahap dilaksanakan secara sekala (nyata) dan secara niskala (gaib).

Berkaitan dengan Hari Sugihan , ada tiga macam Sugihan yang dilaksanakan yaitu Sugihan Pengenten, Sugihan Bali, dan Sugihan Jawa. Dengan mengutip dari berbagai sumber , penulis mencoba memaparkan tentang Hari Sugihan berikut ini.

Sugihan Pengenten dilaksanakan pada Budha Pon Sungsang (kalender Bali) atau tujuh hari sebelum Galungan. Pengenten artinya mengingatkan, yaitu mengingatkan kembali bahwa Hari Raya Galungan sudah dekat. Pada hari ini umat Hindu menghaturkan sesajen kepada Ida Sang Hyang Widhi, memohon agar dapat mengendalikan diri untuk menyongsong kemenangan dharma atau Hari Galungan sehingga butha kala (kekuatan negatif) dapat dikendalikan dan tidak mengganggu perayaan Hari Galungan.

Secara mitologi, berkaitan dengan kedatangan mpu Baradah ke Bali, menghadap kepada Mpu Kuturan dalam usahanya menjadikan salah satu putra dari Raja Airlangga sebagai raja di Bali.

Namun Mpu Kuturan menolak sehingga membuat Mpu Baradah tersinggung lalu pulang kembali ke Jawa dengan penuh kemarahan. Disanalah Mpu Baradah lepas dari pengendalian diri.

Sugihan yang kedua yaitu Sugihan Jawa. Sugihan Jawa jatuh satu hari setelah Sugihan pengenten atau enam hari sebelum Galungan. Kenapa ada kata ‘Jawa’ ? Apakah Hari Sugihan ini berasal dari Jawa ?

Jawa dalam hal ini adalah jaba. Jaba artinya luar. Jadi Sugihan Jawa adalah hari dimana dilaksanakan upakara pembersihan alam makrokosmos atau lingkungan sekitar. Secara niskala umat Hindu menghaturkan sesajen, mohon agar Ida Sang Hyang Widhi berkenan membersihkan alam semesta dari segala bentuk kekuatan negatif.

Secara sekala atau nyata, umat Hindu membersihkan lingkungan sekitar rumah dan tempat suci. Misalnya mencabut rumput liar yang tumbuh di tempat suci, pura, sanggah atau merajan. Membersihkan lumut, memangkas pohon yang tumbuh di areal tempat suci, dan lain sebagainya.

Sedangkan Sugihan Bali yang jatuh sehari setelah Sugihan Jawa atau lima hari sebelum Galungan bermakna membersihkan alam mikrokosmos atau pembersihan diri dan pikiran. Dalam hal ini dilakukan dengan menghaturkan sesajen yang berfungsi sebagai pembersihan diri disertai dengan tirta yatra ke sumber mata air atau samudra.

Membersihkan tubuh dan pikiran, meningkatkan kesucian batin untuk menghadapi gempuran dan godaan menjelang Hari Raya Galungan.

Sesungguhnya setiap tahap dari rangkaian upacara Hari Raya Galungan bermakna untuk semakin mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang upacara dalam Agama Hindu.

Luh Widyastuti.
berbagai sumber

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *