Ini Rumah Tua Jero Wacik di Kintamani

suluhnusa.com_Keluarga Jero Wacik membantah dengan keras jika kerabatnya itu melakukan tindak pemerasan. Ditemui di kawasan Kintamani, kabupaten Bangli, I Nengah Martono, kerabat dekat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu mengaku belum memikirkan langkah selanjutnya, termasuk memberikan bantuan hukum jika memang diminta oleh Wacik.

“Kami belum membicarakan akan memberikan bantuan hukum atau langkah apa yang akan dilakukan oleh keluarga besar kami, karena kami harus urun rembug dulu,” katanya, di Bale Bengong, Desa Pakraman Batur, Kintamani, Bangli.

Martono belum bisa memastikan kapan keluarga akan ke Jakarta. “Yang jelas komunikasi terakhir itu tanggal 9 Agustus, kebetulan beliau datang ke acara Ngaben,” imbuhnya.

Saat terakhir kedatangannya itulah, Jero Wacik sempat berpesan meminta doa jika terjadi sesuatu padanya. Martono pun tidak berpikiran negatif, kala itu dia hanya menganggap sebuah pesan biasa.

“Ya sempat berpesan itu terakhir kami bertemu tanggal 9 Agustus itu beliau minta doanya jika terjadi sesuatu pada beliau,” kata Martono.

Saat ini, pihak keluarga dan warga desa hanya bisa mendoakan supaya kasus yang menimpa sepupunya yang sejak kecil sudah menjadi pemangku itu cepat selesai.

Martono, Sahabat Jero Wacik (foto: kresia)
Martono, Sahabat Jero Wacik (foto: kresia)

Sementara itu Keluarga besar Jero Wacik yang berada di Banjar Batur Tengah Kota, Desa Batur Tengah, Kintamani, Bangli kaget sekaligus kecewa begitu mendengar saudaranya ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Rabu 3 September 2014.

Seperti yang dituturkan oleh pak Martono, kerabat Jero Wacik ini sangat kecewa dengan pemberitaan bertubi-tubi yang mengatakan jika Jero Wacik seorang pemeras. Menurutnya dari lahir Jero Wacik sudah di takdirkan sebagai pemangku, karena itu sangkaan menjadi pemeras sangat-sangat membuat keluarganya terluka.

“Di Batur pemangku tidak ada pemerasan apa itu beritanya kok seperti itu, yang jelas pemangku tidak boleh melakukan pemerasan, pantang seorang pemangku memeras, bapak kan seorang pemangku desa,” katanya, ditemui di kediamannya di Desa Batur Tengah, Kintamani.

Dia pun sangat yakin jika yang dituduhkan oleh KPK itu tidak benar sama sekali. Karena sosok Jero Wacik baik di keluarga dan di masyarakat sekitar Desa Batur dikenal sosok yang sederhana

Rumah seluas kurang lebih 10 are itu tampak tua dimakan usia, suluhnusa.com yang berkunjung ke rumah warisan pemberian orang tua Jero Wacik ini menurut Martono sama sekali belum pernah dipugar. Seluruh keluarganya hidup sederhana tanpa bantuan dari Jero Wacik.

“Saya jualan kain di pasar Kintamani, itu saja dan tidak ada bantuan dari Bapak, ” ungkap Martono.

Senada dengan Martono, Putu Puspawati juga menegaskan jika dirinya hanyalah seorang penjual kopi di pasar Jeruk Kintamani, karena itu adanya sangkaan aset Jero Wacik senilai Rp16,6 milyar diapun kaget. Martono dan Puspa sangat percaya jika Jero Wacik tidak pernah melakukan pemerasan.

“Sekali lagi saya yakin bapak tidak melakukan hal itu, memang saya nonton terus beritanya sejak 2 bulan tapi bapak tidak pernah cerita apapun perihal masalah pekerjaannya tidak pernah sama sekali,” tegasnya.

Sebagai kerabat dekatnya, diapun mendoakan semoga saudaranya itu selalu sehat dan bisa melewati semua cobaan yang tengah dihadapinya itu. (kresia)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *