Keluarga Puslitjak Kemendikbud Merawat Silaturahmi Melalui Tradisi Halalbihalal

Suluh Nusa, Jakarta – Bersilaturahmi setelah lebaran Idul Fitri pada bulan Syawal melalui acara Halalbihalal sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Diketahui bahwa istilah Halalbihalal digagas oleh seorang ulama bernama K.H. Wahab Chasbullah. Semula gagasan tersebut untuk mengatasi situasi politik yang terjadi saat itu. Di mana pada tahun 1948 Indonesia dilanda disintegrasi bangsa. Sejak saat itu instansi-instansi pemerintah mulai menyelenggarakan Halalbihalal, dan juga diikuti oleh masyarakat luas. Dari berbagai sumber dihimpun bahwa Halalbihalal memiliki makna mengurai kekusutan, kekeruhan, maupun kesalahan yang telah dilakukan selama ini. Artinya, dengan menyelenggarakan Halalbihalal semua kesalahan melebur, hilang, dan kembali bersih.

Tradisi Halalbihalal terus berkembang di Indonesia hingga saat ini. Kata Halalbihalal sudah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesai (KBBI) dan memiliki dua arti, Yakni: Pertama hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Kedua sebagai bentuk silaturahmi, biasanya oleh sekelompok orang berkumpul di suatu tempat yang luas, bersalam-salaman dan makan Bersama. Oleh karena kondisi saat ini masih pandemic, maka suasana yang biasanya berkumpul di suatu tempat ditiadakan dan beralih dilakukan secara daring.

Pusat Penelitian Kebijakan merupakan unit penelitian di bawah Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud yang memiliki tugas dan fungsi mendukung kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Dalam rangka optimalisasi pelaksanakan tugas dan fungsinya, Puslitjak secara rutin melakukan berbagai kegiatan atau program yang melibatkan banyak orang. Sehingga adakalanya dalam melakukan kerja sama dan komunikasi tidak luput dari salah dan khilaf. Pada kesempatan baik ini keluarga besar Puslitjak, Kemdikbud mengadakan acara Halalbihalal bertajuk “Mempererat Silaturahmi di tengah Pandemi” pada Rabu, 19 Mei 2021 menghadirkan penceramah dari UIN Jakarta, yakni Dr. Fuad Thohari, M.Ag., serta mengundang mantan kepala pusat, dan peneliti yang pernah berkarir di Puslitjak.

 

Rendah Hati, Bersyukur, dan Egaliter

Mengawali acara, sebagai bahan renungan Bersama, dilakukan pembacaan ayat suci Al Quran Surat Al Fajr ayat 15-30 dilantunkan oleh Drs. Widodo, M.Pd., sementara sari tilawah dibacakan oleh Meni Handayani, SS, M.Si. Dalam sambutannya Plt. Kepala Puslitjak Irsyard Zamjani P.hD., mengatakan secara harfiah bulan Ramadan merupakan bulan pembakaran, bulan penyucian dan bulan pembelajaran. Di bulan puasa kita sering diingatkan agar menjadi orang yang bertakwa. Bila dicermati dalam ayat suci Al Quran surat Al Fajr ayat 15-30 yang sudah dilantunkan, sesungguhnya tujuan kita berpuasa selama satu bulan penuh adalah agar kita dapat menjadi orang yang rendah hati dan penuh rasa syukur. Rendah hati adalah prasyarat mutlak agar kita mau dan terus belajar untuk mencapai kebesaran, ini merupakan proses terus menerus (lifelong learning) “Puslitjak adalah salah satu lembaga di lingkungan Kemdikbud-Ristek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk terus belajar karena kita memberikan masukan-masukan  penting kepada stakeholder agar dapat membuat kebijakan-kebijakan yang terukur dan berbasis bukti” ujar Irsyad. Selain itu, selama berpuasa kita juga didik untuk menjadi orang yang memiliki kemampuan untuk selalu bersyukur. Bersyukur sangat penting, lebih menghargai hidup yang telah diberikan oleh Tuhan, menjaganya dengan sepenuh jiwa, menjaga kesehatan dan juga peduli dengan keselamatan orang lain. Makna lebih besar bersyukur dalam hidup kita adalah bekerja dan beribadah sebaik-baiknya, mengerjakan kebajikan, serta menunaikan kewajiban ibadah yang diberikan kepada kita. Dengan demikian hidup kita akan jauh lebih bermakna.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Agung Purwadi, mantan kepala Puslitjak yang telah purna tugas menyampaikan permintaan maaf apabila selama berinteraksi terdapat kesalahan dan kekhilafan. Agung juga menyampaikan kesannya selama mengabdi di Puslitjak perihal ekosistem egaliter yang selama terbangun di Puslitjak merupakan modal positif dalam berinteraksi dan memajukan Puslitjak. Sejalan dengan pendapat tersebut, Muktiono Waspodo yang juga mantan kepala Puslitjak membenarkan bahwa sikap egaliter memiliki makna positif dalam mendukung kebijakan-kebijakan Kemdikbud.

 

“Jadilah Hamba Allah yang Sesungguhnya”

Pada puncak acara, keluarga besar Puslitjak mendapat siraman rohani oleh Ustaz Dr. Fuad Thohari, M.Ag. dari UIN Jakarta. Dalam ceramahnya, Ustaz Fuad menyampaikan bahwa saat Ramadan datang sambutan umat Islam di bagi menjadi tiga kelompok, yakni: Pertama orang-orang yang menganggap bulan Ramadan sebgai hal biasa, sama seperti bulan-bulan lainnya, sehingga tidak melakukan persiapan dan ibadah secara khusus. Kedua bulan Ramadhan disambut dengan suka cita sebagai tamu agung, sehingga ketika masuk bulan Ramadan ada perubahan pada sikap, perilaku, dan perubahan beribadah. Ketiga adalah mereka yang “tersiksa” atau tidak bersuka sita dengan datangnya Ramadan, karena kesenangannya dibatasi dan hobinya dilarang.

Selanjutnya bila Ramadan pergi apa yang akan dirasakan? Untuk kelompok pertama dan ketiga akan merasa senang kegirangan, karena bisa kembali melakukan kesenangan duniawi, namun bagi kelompok kedua akan bersedih karena tamu agungnya sudah pergi. Fuad memberikan penguatan, bahwa tidak perlu bersedih bila bulan Ramadan pergi, karena Ramadan akan kembali menemui kita. Namun bersedihlah, bila bulan Ramadan kembali datang tapi posisi kita sudah pergi meninggalkan dunia ini. Meski demikian Fuad berpesan “Jadilah hamba Allah yang sebenarnya, dan jangan sekali-kali setiap tahun bertemu bulan Ramahan, tetapi selama itu pula kamu hanya menjadi budaknya bulan Ramadhan”. Kenapa tidak boleh menjadi budaknya Ramadan? “sebab apabila kamu hanya menjadi budaknya bulan Ramadan, tiap tahun bulan Ramadan datang kamu hanya menjadi budaknya bulan Ramadan saja, maka pasti ketika bulan Ramadan pergi meninggalkan kamu, maka ajaran-ajaran Allah juga akan ikut pergi bersama perginya bulan Ramadan”. Kemudian Fuad menutup ceramah dengan pesan bahwa berpuasa selama bulan Ramadan seharusnya dapat meningkatkan kualitas keimanan kita, yakni meningkat dari mukmin menjadi muttaqin, yakni insan yang senantiasa bertakwa, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *