Suluh Nusa, Kupang – Buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer menarik perhatian Natalylian Benidau. Dia memilih buku tersebut lantaran penasaran dengan sosok Kartini, surat-surat yang ditulisnya, serta apa saja yang Kartini lakukan.
Walaupun beberapa bab dalam buku tersebut sempat membuatnya merasa bingung, perempuan yang akrab disapa Nataly itu tak mempermasalahkan hal itu. Dia paham bahwa buku yang sedang dia baca itu merupakan gabungan dari beberapa buku.
Bagi Nataly, keinginan membaca buku harus sesuai dengan selera bacaannya. Jika buku yang dibacanya tidak tren, dia pun akan tetap membacanya lantaran itulah buku yang bisa menjawab keingintahuannya. “Kalau ikut tren tidak. Tren menyita banyak duit. Ikuti saja apa yang ingin dibaca, belum tentu tren sekarang saya suka,” kata Nataly dilansir Republika belum lama ini.
Dalam setahun, Nataly membaca minimal tiga hingga lima buku. Tak hanya bentuk fisik, dia juga menikmati buku digital. Selama ini, perempuan yang tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu gemar membaca buku sejarah, biografi, romansa, politik, dan budaya.
Seiring bertambahnya usia, dia lebih menggemari buku sejarah, biografi, dan budaya. Selain itu, jika dulu dia menggemari novel, kini dia lebih suka membaca buku untuk pembentukan pola hidup, seperti kesehatan dan gaya hidup minimalis. Perubahan genre itu lantaran dirinya sudah bosan dengan kisah-kisah percintaan, serta ingin menjauh dari politik yang menyajikan banyak sandiwara.
Melalui buku-buku budaya, Nataly mempelajari beberapa agama yang historisnya meninggalkan banyak peninggalan sejarah, seperti Hindu dan Buddha. Nataly juga tertarik belajar tentang sejarah perang. Membaca buku membuatnya mengubah cara berpikir. Jika dahulu selalu menggunakan perasaan, kini dia lebih cenderung berlogika dan berusaha simpel.
Selain itu, dia juga mengatakan menjadi lebih dewasa dalam mengambil sikap terhadap satu peristiwa. Kemudian, buku-buku tentang feminisme yang jarang dibaca, sekarang menjadi bahan bacaannya. Bahkan, Nataly menjadikan beberapa tokoh yang lantang menyuarakan kesetaraan untuk menjadi panutan.
Nataly mengatakan tidak mengalokasikan anggaran khusus untuk membeli buku. Namun, dia berencana melakukan hal itu. Nataly berniat membaca lebih banyak buku sejarah.
“Saya seperti ada di negeri dongeng kalau baca sejarah Mesir, Persia dengan segenap mitologi-mitologinya. Ada Yunani, Mesir, Eropa, suku Inca, Indian, tambah lagi mitologi dan UFO,” tutur Nataly.
Dan untuk membangun 1000 generasi NTT yang cerdas, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, melalui Dinas PK Propinsi NTT, terus mengembangkan budaya literasi.
Linus Lusi kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, dalam zoom meeting bersama PGRI Flores Timur, menyampaikan satu visi bersama untuk mewujudkan Provinsu NTT sebagai Provinsi Literasi.
Linus mengungkapkan, Dinas PK saat ini sedang merancang program konkrit peluncuran 1000 buku.
“Melihat geliat literasi di NTT, saya punya mimpi dan menjadi mimpi kita bersama yakni, Propinsi NTT sebagai Propinsi Literasi. Salah satu program kongrit terdekat yakni, pada Bulan Mei 2021, bertepatan dengan Perayaan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), akan dilakukan Peluncuran 1000 Buku Karya Guru NTT. Kiranya, PGRI Flores Timur, turut berkontribusi dan mendukung penuh perealisasian mimpi ini,” kata Linus Lusi.
Lusi mengatakan anggaran 20% yang dialokasikan pada Pos Anggaran Pendidikan adalah langkah cerdas, urgen dan penting yang secara umum memenuhi hak setiap orang untuk memperoleh pendidikan. Walau demikian Lusi menekankan Pendidikan maju jika harkat dan martabat guru dimuliakan.
“Jangan berharap lebih untuk tingkat kemajuan pendidikan, jika kita belum memuliakan harkat dan martabat guru. Kewenangan Dinas PK Propinsi dalam melakukan Tata Kelola diantaranya, Pengangkatan Kepala Sekolah, Mutasi Guru SMA/K, upaya untuk meningkatkan kesehjateraan dengan memprogramkan Tambahan Penghasilan (Tamsil), memberikan pendapatan bagi Guru Honor sesuai Upah Minimal Regional, pemetaan mutu, dan lain-lain. Memang, saat ini masih ditemukan gaji guru honor yang yang mesti perlu ditingkatkan. Kita terus berupaya untuk hal ini,” kata Linus Lusi.
Terkait peluncuran 1000 buku ini, Mantan Guru SD Bertingkat Kelapa Lima ini memiliki berbagai alasan, yakni membaca buku, mengurangi risiko 2,5 kali lebih rendah akan terserang penyakit Alzheimer untuk genrasi NTT. Penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif atau perlahan-lahan yang ditandai dengan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir, serta perubahan perilaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain itu, meningkatkan jumlah kosa kata dan kemampuan berbicara sebanyak 5-15% dari hasil membaca untuk generasi NTT mendatang.
“Generasi NTT yang rajin membaca buku, bisa meningkatkan kemampuan berpikir analitis yang membantu menilai secara obyektif fenomena sosial yang ada di masyarakat,” ungkap Lusi pada kesempatan lain. Bahwa misi 1000 buku membangun visi cerdaskan 1000 generasi NTT. (y.edangwala/amberkabelen)

Taman Baca Poco Ndeki Cakrawala Borong Manggarai Timur Flores Nusa Tenggara Timur, sangat mendukung program pemerintah dalam hal ini Dinas pendidikan dan kebudayaan mengenai peluncuran buku ini dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan literasi.