Utang Nelayan Les Belum Lunas Terbayar

[dropcap]S[/dropcap]ejak tahun 1988 sampai dengan tahun 2003, nelayan di Desa Les melakukan penangkapan ikan hias dengan menggunakan potasium. Selama lima belas tahun mereka menjelajah lautan di seluruh timur Indonesia hanya untuk menangkap ikan. Lautan sulawesi, Banda sampai laut Flores pun diarungi. Perilaku nelayan menangkap ikan dengan potas merusak hampir 80 persen terumbu karang dan biota laut. Saat ini mereka sudah sadar. Dan utang untuk mengembalikan terumbuh karang yang rusak saat itu belum lunas dibayar.

Nyoman Gombal, salah seorang nelayan ikan hias di desa Les kepada  suluhnusa.com, diDesa Les megaku dirinya pada era 1980an sampai dengan awal 2000 menangkap ikan dengan pola potasium. Perilaku ini disadari merusak terumbuh karang dan biota laut. Bukan hanya diperairan Bali tetapi juga sampai ke Pulau Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Flores, Alor dan Solor.

Kami dulu menangkap ikan hias bukan hanya di peraian bali tetapi sampai ke Alor dan Solor bahkan di Sulawesi dengan menggunkan potasium,” ungkap Gombal yang pernah masuk penjarah tahun 1994 selama enmopat bulan di Sulawesi ini.

Dia menceritakan, nelayan zaman dahulu menggunakan potasium karena belum mengerti tentang kerusakan lingkungan. Tuntutan hidup dan ekonomi keluarga yang membuat mereka harus berperilaku demikian. Ya itu tadi, tangkap ikan dengan potas.

Disinggung soal bagaimana dirinya bisa sadar dari perilaku demikian, Gombal mengungkapkan, pada awal tahun 2000-an Yayasan Telapak yang konsen terhadap konservasi terumbuh karang masuk ke Desa Les. Memperkenalkan penangkapan ikan hias yang ramah lingkungan yakni jaring penghalang.

Yayasan Telapak menurut Gombal, memberikan penjelasan tentang bahaya potasium bagi biota laut, kerusakan terumbuh karang juga berbahaya bagi nelayan sendiri. “Awalnya kami tidak percaya. Karena kebiasaan kami yang menggunakan potasium. Akan tetapi lama kelamaan kesadaran itu muncul dengan sendirinya,” ungkap Gombal.

Awalnya, lanjut Gombal, nelayan yang sadar menggunakan jaring penghalang hanya lima orang yakni Made Eka Merta, Nengah Artiawan, Nengah Arsana, Ketut Arta dan dirinya sendiri, Nyoman Gombal.

Kelima orang ini lalu diadvokasi Yayasan Telapak, mendirikan kelompok Nelayan Ikan Hias Mina Bakti Soansari. Dari lima orang nelayan tersebut, saat ini seluruh nelayan ikan hias di desa les berjumlah 70 orang sudah sadar semua.

Syarat utama menjadi anggota kelompok ini adalah berjanji untuk tidak boleh menggunakan potasium syanida. Kami nelayan desa les bebas potasium,” tegas Gombal.

Gombal mengunmgkapkan Nelayan di Desa Les memiliki utang budi terhadap kelestarian pantai di Kabupaten Bulelang yang panjangnya mencapai 144 kilometer. “Sekitar 19 kilometer melewati Kecamatan Tejakula dan kilometer berada di wilayah Desa Les. Ini kewajiban kami untuk menjaganya,” ungkapnya.

Sementara itu Koorditor Yayasan Telapak Desa Les, Gede Yudarta, menjelaskan, pihaknya ketika melakukan sosialisasi penangkapan ikan ramah lingkungan memang sungguh berat. “Kami masuk pertama kali dengan berpura-pura menjadi pengepul ikan hias. Dengan begitu kami bisa diterima,” kisah Yudarta. Dia lalu menjelaskan penyadaran akan bahaya racun potas dimluai dengan pemutaran DVD “Fish Don’t Cry” di Bale Banjar awal tahun 2000an. Program ini berdampak turunnya pendapatan nelayan. Untuk mengatasi hal itu, para nelayan didorong untuk membentuk koperasi yang diberi nama Kelompok Nelayan Mina Bakti Soansari.

Kelompok Nelayan Mina Bakti Soansari ini kemudian bekerja sama dengan Yayasan Bahtera Nusantara, mendirikan perusahaan ikan hias milik bersama pada bulan September 2003, yang diberi nama PT Bahtera Lestari, sahamnya antara lain dimiliki oleh Kelompok Nelayan Mina Bakti Soansari (23,5 persen), pemilik tanah (22 persen), desa dinas dan adat (10 persen), serta Yayasan Bahtera Nusantara (26 persen) dengan total modal perusahaan sebesar Rp 112 juta.

Bayangkan, modal kami hanyalah keyakinan dan kebersamaan untuk meningkatkan kesadaran nelayan akan bahay potasium itu,” ungkap Yudarta.

PT Bahtera Lestari kemudian mengkoordinir penangkapan ikan hias bebas sianida dan menjualnya langsung ke eksportir di Denpasar. Ikan yang ditangkap setiap hari harus sesuai pesanan eksportir.

Selain itu, ikan yang ditangkap harus berukuran kurang dari 10 sentimeter dan lebih dari lima sentimeter, sehingga ikan mempunyai tenggang waktu untuk berkembang biak secara alami.

Sejak meninggalkan botol semprot berisi sianida, jumlah dan pendapatan para nelayan menurun. Jika biasanya mereka mampu meraup pendapatan lebih dari Rp 30.000 per hari, kini justru berkurang. Alasannya, tidak semua jenis ikan hias dapat ditangkap.

Saat ini, baik Yudarta maupun Gombal merasa bangga dengan hasil jerigh paya mereka. Pasalnya, kelestarian alam bawah laut yang telah dibangun selama 12 tahun memberi janji dan kepuasan. “Walau utang kami belum terbayar tetapi kami melakukan ini untuk warisan anak cucu kami ke depan,” tegas Gombal diamini Yudarta

Setelah PT Bahtera Lestari terbentuk, maka dikembangkankanlah pendidikan pelestarian ekosistem bawah laut, yang difasilitasi LSM Telapak Indonesia, melalui program Candi Siu (TheThousand Underwater Temples), yaitu membangun ribuan stupa tempat menempel terumbu karang di dasar laut. Lalu para perempuan dan istri-istri nelayan diajar untuk menyetek terumbu karang untuk ditanam di dasar laut dan di Candi Siu.

Tempat di bawah laut dimana nelayan Desa Les bermimpi mendukung dunia pariwisata melalui wisata bawah air (diving dan snorkeling).

Saat ini, program candi siu sudah diluncurkan ke laut sebanyak dua kali, yang pertama pada tahun 2005 dan kedua pada tahun 2009. Dan tahun 2012 ini melalui swadaya nelayan sebanyak berjumlah Rp. 40 juta, untuk membuat rumah/candi siu dan akan dilepas ke laut dalam waktu dekat.

Utang kesadaran Gombal bersama kawan-kawan ini memberi dampak positip terhadap perkembangan pariwisata laut. Duniapun tau, Desa Les terkenal dengan budidaya ikan hias dan pariwisata bawah laut yang indah dalam program mina wisata di Desa Les.

Profil Desa Les:

  • Desa Les berbatasan dengan Desa Tejakula di barat
  • timur dengan Desa Penutukan.
  • Jarak dari Denpasar 130 kilometer melalui jalur Bedugul.
  • Dan lewat Kintamani, jaraknya dari Denpasar 90 kilometer.
  • Pekerjaan masyarakjat sebagian besar nelayan ikan hias, ikan konsumsi dan petani.
  • Potensi laut : 420 jenis ikan hias ada di Laut Desa Les sebut saja Dascyllus trimaculatus (dakocan hitam), (angle BK), Balistodes conspicillum (triger kembang), Paracanthurus hepatus (leter six), Pamacanthus xanthometapon (angle napoleon), dan Pomacanthus imperator (angle batman).

**Sumber : data Desa Les

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *