suluhnusa.com_ Debat Calon Presiden (capres) Konvensi Bernegara yang diusung partai Demokrat tinggal menghitung hari, tepatnya tanggal 18 Februari 2014 yang akan dilangsungkan di Hotel Aston, Denpasar.
Setelah kota Surabaya, Bali menjadi sasaran 11 peserta calon presiden (capres) untuk menunjukkan ‘tajinya’ agar masyarakat khususnya di Bali bisa mengetahui sosok calon presiden yang akan mereka pilih di Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 9 April mendatang.
Peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat berturut-turut yang dipastikan akan hadir dan mengikuti debat yang akan disiarkan secara live oleh salah satu stasiun televisi swasta:
- Ali Masykur Musa
- Marzuki Alie
- Pramono Edhie Wibowo
- Irman Gusman
- Hayono Isman
- Anies Rasyid Baswedan
- Sinyo Harry Sarundajang
- Endriartono Sutarto
- Gita Wirjawan
- Dino Patti Djalal
- Dahlan Iskan
Lalu bagaimana tanggapan para kader Demokrat Bali terhadap konvensi yang dilakukan partainya? Dan benarkah dengan konvensi partai Demokrat akan kembali berjaya dan bisa kembali memegang tampuk RI I kembali?
Sebagai partai penguasa, Demokrat disebut-sebut sebagai partai nomor empat terkorup di Indonesia. Oleh karena itu, kini para kader di daerah dituntut untuk membersihkan imageburuk yang bisa membawa demokrat ke ambang kehancuran. Selain itu, calon legislative (caleg) di daerah juga harus bekerja keras untuk dapat meningkatkan elektabilitas partainya jika masih ingin menjadi partai penguasa.
Anggota DPRD kota Denpasar, AA.Ngurah Susruta yang merupakan incumbent dari partai Demokrat, optimis dengan konvensi bisa membawa perubahan. Jika konvensi diukur untuk bisa mendulang suara menurutnya mengapa tidak.
Lebih jauh Susruta mengatakan, jika capres tidak hanya mempunyai kemampuan ‘blusukan’ namun juga harus memiliki kemampuan komunikasi internasional.
“Capres bukan hanya blusukan tapi harus punya komunikasi secara global, yang sekarang capres Demokrat semuanya punya kemampuan global bukan lokal, untuk komunikasi seorang presiden nanti itu harus bisa komunikasi internasional dan nasional, yang diurusin kan bukan hanya SDM dalam negeri saja tapi dunia luar juga,” jelasnya, saat dihubungisuluhnusa.com.
Sementara itu menurut caleg Demokrat Dapil Sukasada, Buleleng, Jero Mangku Made Ariawan, konvensi yang tengah berlangsung saat ini, setiap peserta konvensi memang dituntut untuk bisa mendulang suara sebesar satu persen.
“Capres partai Demokrat diharapkan setiap calon peserta konvensi presiden itu menyumbangkan minimal satu persen mendulang suara, seperti pak Dahlan Iskan, dia punya elektabilitas pribadi itu sudah tembus diatas 12 persen, berarti kita harapkan pak Dahlan Iskan itu bisa memberikan kontribusi minimal 10 persen,” kata mantan Ketua Kadin, Badung, Kamis 13 Februari 2014 di Denpasar.
Saat ini, untuk bisa meraup satu persen saja itu sudah diamini oleh partai asuhan presiden Susilo Bambang Yudhono (SBY), mengingat elektabilitas partai Demokrat di tahun 2014 jauh dari yang diharapkan.
“Kalau di Bali menurut saya Demokrat itu tidak signifikan tapi kalau di kota Denpasar, 500 ribu suara untuk Demokrat itu pasti,” aku Susruta.
Hal yang sama diakui oleh Ariawan, dibandingkan Pemilu yang dulu, menurutnya untuk mendapat suara 1000 saja sudah cukup modal jadi anggota dewan. Namun kini caleg yang harus bekerja keras untuk mendulang suara demi menaikkan elektabilitas partai.
Oleh karena itu, kesuksesan konvensi partai Demokrat yang masih dalam tahapan debat di kota-kota besar di Indonesia, sangat bergantung pada kesebelas peserta konvensi ini, dimana mereka dituntut untuk bisa menarik perhatian masyarakat, menyentuh konstituennya agar dapat mengembalikan citra partai yang terpuruk karena di bunuh oleh karakter.
Baik itu karakter dari kadernya yang terlibat kasus korupsi maupun pembunuhan karakter oleh media itu sendiri. (kresia)
