Temukan Namamu Di Atas Kain Tenun

suluhnusa_Wanita Dewasa di Tior pada umumnya menenun untuk membantu ekononi keluarga.

Seiring berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi khususnya pada bidang perancangan busana yang kian pesat akhir-akhir ini, tenun ikat sebagai salah satu aset masyarakat serta bangsa perlu terus didorong untuk dikembangkan.

Karena saat ini tenun ikat menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Khususnya NTT dan terlebih di Pulau Timor dan sekitar,umumnya wanita memanfaatkan waktu luangnya untuk menenun atau membuat kain adat.

Yang hasilnya dijual untuk menopang kehidupan ekonomi Keluarga.  Demikian dikatakan Aram Pukuafu Kolifai, SH Pengelolah Rumah Pintar Soet Hinef Naioni Kota Kupang.

Yang beberapa waktu lalu membina sejumlah wanita di wilayah itu dengan pelatihan Tenun ikat. Aram berharap Pemda Kota Kupang terus mendorong dan mendampingi kratifitas masyarakat khususnya kaum ibu di bidang tenunan untuk terus dikembangkan pada waktu-waktu yang akan datang.

Jublina Ibu sedang menenun di rumahnya (Foto : goristakene)
Jublina Ibu sedang menenun di rumahnya (Foto : goristakene)

Jublina Ibu (56) warga RT 08 RW 04 Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang NTT yang ditemui WF dikediamannya belum lama ini mengaku hanya dengan hasil menenun dapat menyekolahkan ke-7 orang anaknya.

Bahkan 3 orang diantaranya telah bergelar sarjana dan 4 lainya masih di bangku kuliah. Janda 4 cucu itu mengaku sejak 23 tahun meninggalnya suami dirinya mulai aktif menekuni tenun ikatdan  selama ini modal yang di peroleh dari hasil kain tenunan yang terjual tidak pernah mendaptkan modal dari pihak lain.

“Sejak suami saya meninggal anak-anak masih kecil saya mulai tekun menenun dengan modal awal usaha tenunan saya ini hanya Rp 80 000 (delapan puluh ribu rupiah) lalu saya belikan benang dan membuat tenunan selendang, dan hasil dari jual selendang itu yang berkembang hingga saat ini usaha terus berkembang meski kecil,” tandasnya.

Jublina mengaku selama ini tidak pernah berniat untuk meminjam modal dari lembaga keuangan seperti Bank, pihak swasta maupun pemerintah Kota Kupang karena terkendala dengan proses. Sebab selama ini usaha yang ditekuni masih bersifat sekedar mengisi waktu luang, sebab ada tugas lain seperti mengerjakan kebun dan urusan rumah tangga.

Ketika ditemui suluhnusa.com Jublina terkesan cukup bersahabat dan ia menceritakan kalau pengetahuan menenun ini didapatkannya dari sang ibu yang telah meninggal.

Sebab masih menurut mama Jublina, bagi orang Timor khususnya kaum wanita yang telah menginjak usia dewasa yang sudah mampu atau bisa menenun hal itu menandakan diri wanita tersebut telah siap untuk berumah tangga. 

 Sehingga sejak menginjak usia dewasa ia sudah dilatih oleh sang ibu untuk bisa menenun. Karena pada jaman dahulu kain adat tenunandibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai busana penutup dan pelindung tubuh, kemudian berkembang untuk kebutuhan adatseperti pesta, upacara, tarian, perkawinan, kematian dan lainnya, hingga sekarang kain tenunan merupakan bahan busana resmi dan modern yang didesain sesuai perkembangan mode, juga untuk memenuhi permintaan/ kebutuhan konsumen, demikian kata Mama Jublina akrab. Masih menurut Jublina, pernah dirinya mengalami kesulitan menerima pesanan yang jumlahnya mencapai 20 potong sarung wanita.

Sehingga terpaksa saat itu ia meminta bantuan sesama teman di wilayah itu untuk membantu. Untuk saat ini ia mengaku tidak berniat untuk bekerja dalam kelompok, mengingat usia tidak memungkinkan, sehingga saat ini ia hanya menenun ketika ada pesanan.

Pesananya yang datang kata mama Jublina masih dari orang-orang yang sama yang pernah menghubunginya untuk menenun karena sejauh ini tidak pernah bahkan belum banyak diketahui banyak orang. Jenis kain tenunan yang dikerjakan berupa, selendang, kain untuk wanita dan laki-laki dengan harga berfariasi Rp 150.000 – Rp 5.000.000 tergantung jenis pesanan.

Karena menurut Jublina biasanya harga kain tenunan ikat jauh lebih mahal dibanding kain sotif. Tenunan ukat karena jenis atau motif maupun bentuk bunga yang dihasilkan dengan cara diikat kemudian direndam dengan berbagai ramuan hingga beberapa malam untuk mendapatkan hasil yang sempurnah sehingga prosesnya cukup lama memakan waktu. Sedangkan kain Sotis tidak melalui proses ikat maupun rendaman tetapi langsung proses menenun sehingga harganya relatif murah.

Anda yang membutuhkan kain tenunan sesuai selera baik ada tulisan maupun motif gambar bisa mendapatkannya dengan menghubungi mama Jublina tentu dengan harga yang bisa dijangkau. (Goris Takene)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *