CERPEN : YURGO PURAB
“Dari mata ayah kutemukan selaput rindu dan keringat mendebur; sebuah semangat yang menjadi riak dalam hidupku. Dari mata ibu yang teduh kutemukan hati yang menampung; sebuah pertanda cinta yang selalu memberi tanpa mengharap kembali. Terima kasih Tuhan, telah memberi ayah yang begitu tegar, dan ibu yang begitu teduh”
Seandainya engkau tidak pergi, natal kali ini pasti lebih hebo dari sebelumnya. Kita akan sama-sama bercerita tentang pulang dan juga ladang yang masih belum digarap. Ayah dan Ibu memang tak sepakat bahwa merantau adalah jalan tuk mencari nasib. Sebab pergi tak seharusnya pulang dengan perahu kebahagiaan. Sejak percakapan kita terakhir dan rencana bangun kios ibu masih saja kita tuangkan, engkau keburu pergi tanpa pamit.
Kami merasa ada yang hilang dari cerita di siang itu. Kepergiaan adalah kesedihan yang benar-benar tak ada. Ayah merasa ia jauh lebih sakit setelah mengenang semasa hidupmu penuh pertengkaran dan salah paham yang belum lunas. Ia berharap kau adalah lelaki tegar yang menjaga mereka ketika usia mereka semakin menua. Tapi ada cerita yang terpotong dari kisah kita. Ibu menangis sesegukan tanpa daya menantimu pulang dari tanah rantau, menyanyikan lagu kesayanganmu dan bercanda ria saat lagu natal terasa getir. Sedang aku kakakmu seakan merasa tak pantas menjadi kakak yang baik. Sebab cerita kita terpotong oleh jarak dan perhatianku tak banyak buatmu. Mencintaimu yang sedang tak ada seperti pura-pura menagih janji. Air mataku tak banyak bercerita. Ia gugur sebelum engkau dikebumikan di liang lahat. Adikmu merasa ada yang hilang setelah engkau mencairkan dana perjalanan ia ke Kupang. Sedang semua keluarga di kampung merindu senyummu yang hilang dan wajahmu yang seakan pergi dalam cerita yang tak habis dikenang.
Semenjak kepergianmu, ibu hanya menatap bingkai foto dan berharap kau masih tersenyum baginya. Tetapi hal itu tak akan terjadi. Ayah terus memikirkanmu sampai dadanya terasa sesak berhari-hari. Sedang aku dan adikmu kehilangan gairah dalam menjalani rutinitas harian. Kepergianmu membuat semuanya telah berubah. Aku memilih diam dan memutuskan jalan hidup yang sekarang aku jalani. Adikmu bekerja dengan semangat dan terus mengingatmu, sedang Ayah dan ibu memang tak siap menerima kenyataan ini. Mereka hanya diam menyimpan luka di hati. Sakit memang.
Kalimantan, 12 Desember 2019
Pagi-pagi sekali engkau bergegas ke tempat kerja. Jarak tempuh yang jauh lagi melelahkan tidak membuat engkau patah semangat. Sesekali engkau menelpon kami menyatakan kebahagiaan yang besar karena bisa mencari duit sendiri. Pagi itu, aku baru saja pulang kuliah, sedang kamu baru saja mengalami peristiwa kecelakan itu. Engkau sempat bangun sambil meraba tas kecil milik koperasi yang berhamburan dekat temanmu yang juga sedang kritis. Entah apa yang kau rasakan saat peristiwa itu, kami tidak tahu. Sakit dan derita telah engkau bawa hingga pada akhirnya engkau menghembuskan nafas terakhirmu. Saya hanya menangis histeris karena tak menyangka engkau harus pergi begitu cepat. Hati saya hancur berantakan hingga akhirnya saya memprotes rencana Tuhan.
Siapa yang tega menguburkan adiknya sendiri saat ia merasa diri penuh luka dan derita? Bukan kah aku kakakmu, Nicolaus? Pertanyaan itu menyerbu kepalaku setelah sebulan kepergianmu waktu itu. Aku cukup tegar bukan? Itu semua karena aku percaya bahwa kepergianmu adalah jalan Tuhan yang paling rahasia.
Lewotolok, 4 Mei 2020
Mengenang adalah cara terbaik untuk tidak melupakan. Setelah beberapa hari berada di kampung, aku selalu merasa sedih melihat pusara tempat engkau dibaringkan. Untuk itu, saya berpikir untuk menulis sedikit curhatan hati ini agar engkau tahu kami masih sangat menyayangimu. Kami merindukan saat-saat ada bersamamu, saat canda dan tawa meletup jauh, saat pertengkaran kecil menyergap kita. Kini canda dan tawamu hanyalah bingkisan sepi yang mesti kami bungkus tanpa cerita lebih jauh. Engkau tetap dikenang walau pun waktu terus berlari. Cerita kita cukup di sini. Semoga Tuhan membangun rumah yang baik sesuai amal ibadahmu.
*Cerita ini saya tulis untuk mengenang Alm. Nikolaus Wurin Purab (Adik kandung saya) yang meninggal di Kalimantan karena kecelakaan Lalu lintas.

Tinggal nama,misteri ini menjadi cerita yang tak luput dari kisah,duka pahit sebagai pukulan telak bagi abang,semoga dengan tulisan ini bisa menghibur perasaannya abangdoaku untuk adiknya abang.