Media WLN – Tite Hena, adalah Bahasa Lamaholot. Secara harafia dapat diartikan sebagai Kita. Plesetan dialeg Lembata dapat dimaknai Kita Kita Saja. Kita kita saja, kita baku tau badan-Kita saling mengenal.
Pemaknaan dari kalimat dua kata di atas, Tite Hena pun berragam. Misalnya, Kita Berkeluarga.Kita Bersahabat. Kita masih satu keturunan. Kita berasal dari satu desa atau kampung. Atau dapat dimaknai sebagai menjadi milik kita bersama.
Tite Hena, nama sebuah arisan kelompok yang terdiri dari berbagai kalangan. Mereka berasal dari satu kampung yang masih ada hubungan keluarga secara genelogis, menyatukan diri, merasa saling memiliki dan saling tolong menolong. Bergotong royong meringankan kesulitan. Tite Hena, kelompok arisan orang Muruona, Kabupaten Lembata, NTT.
Saat pandemic corona merebak dan banyak arisan mati suri, tidak demikian dengan arisan Tite Hena. Mereka saling peduli. Meringankan beban hidup yang kian sulit di tengah pandemic covid 19.
Mereka masih mengumpulkan sepeser demi sepeser tiap tiap minggu sejak didirikan 18 April 1998,sampai saat ini. Asetnya pun sudah ratusan juta rupiah.
Terbukti saat mereka arisan, Minggu, 17 Mei 2020, Kelompok Arisan Tite Hena ini menggelontorkan uang mendekati Rp. 50 an juta untuk membantu semua anggotanya yang terdampak Covid 19. Salut.
Ketua Arisan Tite Hena, Pius Kapitan Soromaking melalui Sekretaris Pilipus Kapitan-Pichan Matarau, kepada media ini, 17 Mei 2020 menceritakan, kelompok ini melakukan kegiatn arisan setiap minggu, selain itu kelompok ini juga mempunyai usaha simpan pinjam.
“Dan saat anggota mengalami kesulitan ekonomi di tengah pandemic covid 19, kami membantu meringankan beban mereka dengan membantu Rp. 350.000/anggota, kepada semua anggota tanpa kecuali. Jumlah anggota saat ini, 128 orang,” ungkap Pichan Matarau.
Selain memberikan bantuan langsung tunai (BLT), Arisan Tite Hena juga membebaskan denda terhadap pengembalian angsuran pinjaman selama 3 bulan kedepan yaitu Mei, Juni, Juli.
“Selain arisan kami juga ada usaha siman pinjam. Dan kami bebaskan denda tunggakan pinjaman selama tiga bulan. Setelah 3 bulan itu baru kami evaluasi lagi,” ungkap Matarau.
Lebih jauh dia menjelaskan, jumlah anggota saat ini 128 orang berada dalam 35 Kepala Keluarga, dari 170 KK yang ada di Desa Muruona. Total bantuan langsung tunai yang digelontorkan Rp. 44.800.000,00-empat puluh empat juta delapan ratus ribuh rupiah.
“Ada KK yang jumlah anggotanya 2 sampai 8 orang, sehingga yang terima BLT ada KK terima Rp. 700.000 karena anggota 2 orang dan ada yang terima Rp. 2.800.00 anggota 8 orang,” jelas Pichan.
Kelompok ini memberikan pinjaman kepada anggota tanpa jaminan apalagi agunan. Jaminan hanya kesadaran anggota saja.
“Puji Tuhan karena kesadaran pengembalian pinjaman lancar. Kami berjalan hanya dengan kesepakatan dan kesadaran bersama. Terimakasih kepada semua anggota,” tuturnya.
Terkait usaha simpan pinjam dia menjelaskan pinjaman mulai Rp. 500.000 sampai dengan Rp. 20.000.000. Pinjaman di bawah Rp. 10.000.000 pengembalian selama 10 bulan sedangkan di atas Rp. 10.000.000 pengembalian selama 20 bulan.
Saat memberikan bantuan langsung tunai dalam arisan tite hena, siang tadi, 17 Mei 2020, Pius Kapitan Soromaking, sebagai ketua berpesan agar semua anggota tetap mengindahkan protap kesehatan dari Pemerintah. Cuci tangan. Memakai Masker. Jaga jarak serta senantiasa menjaga ketahanan tubuh dengan banyak istirahat di rumah. Mengkonsumsi makanan yang dibutuhkan untuk menjaga imun tubuh, agar terhindar dari penularan covid 19.***
sandrowangak



