suluhnusa.com – Malaria masih menjadi ancaman serius bagi warga Lembata.
Pasalya, daerah endemik malaria itu masih menjadi penyebab kematian bagi ibu dan balita di Lembata.
Dan karena itu, Lembata menjadi daerah endemik malaria nomor satu untuk NTT.
Kondisi ini diperburuk minimnya dukungan APBD II pada program pemberantasan malaria. Program pemberantasan malaria di Lembata bergantung pada uang Global fund. Mengenaskan.
Lusia Sandra G.A. Kepala Dina’s Kesehatan Kabupaten Lembata menjelaskan, malaria menjadi nomor urut pertama dalam daftar 10 penyakit pada triwulan kedua tahun 2016.
Sementara dalam kurun waktu 2011-2016, terjadi lonjakan kasus kematian disebabkan malaria. Pihak Dinkes Lembata mencatat, sejak 2011 terjadi 3 kasus kematian karena malaria, pada 2012 menurun mejadi 2 kasus, pada 2013, nol kasus, namun pada 2014 melonjak tajam menjadi 11 kasus.
Sementara angka kematian balita disebabkan malaria di Lembata menunjukan trend yang relatif tinggi. Pada 2011, terjadi 58 kasus kematian disebabkan malaria, pads 2012 meningkat menjadi 62 kasus, pada 2013 menjadi 65 kasus kematian, pada 2014 menjadi 13 kasus, pada 2015 meningkat menjadi 41 kasus.
Kematian disebabkan malaria juga menimpa ibu. Pada 2011 terjadi 4 kasus, pada 2012, 5 kasus, pada 2013 terjadi 3 kasus, pada 2014 terjadi 2 kasus, pada 2015 melonjak menjadi 5 kasus.
“Masih tingginya angka kematian disebabkan malaria di Lembata disebabkan berbagai kendala yakni kurangnya obat-obatan disebabkan lambannya persediaan obat Dari Propinsi, kurangnya promosi penggunaan kelambu berinsektisida pada balita, kurangnya dukungan Dari pemerintah daerah Dan masyarakat do daerah resiko tinggi malaria, agar pengobatan efektif malaria berupa boat ATC, yng diperoleh penderita malaria maksimum 24 jam,” ujar Kadis Kesehatan Kabupaten Lembata.
Selain kendala teknis, secara politics dukungan anggaran untuk program malaria masih sangat rendah. Program berantas malaria di Lembata didukung dua pos anggaran yakni APBD dan Global Found.
Naifnya, dukungan dana APBD II, pada tahun 2011 hanya berkisar 2 juta, dan tahun 2015 sebesar 6 juta, sementara itu tahun 2014 dana APBD II nihil alias nol rupiah. (sandrowangak)
