Pak Tua di Pohon Kamboja

Hari itu Minggu. Hitungan Minggu Pertama Bulan November. Tahunya 2013. Hujan lebat sejak siang hingga sore. Karena tak bermantel saya lalu memutuskan untuk berteduh sejenak di depan Indomaret-Sesetan, beberapa meter dari POM Bensin Sesetan, di Kota Denpasar Bali. Hujan tak kunjung berhenti.

Beberapa batang rokok sempat habis kuisap, sekedar menghalau dingin yang menusuk. Luruh butiran hujan diujung atap Indomaret basahi badan dan Pak Tua yang terparkir di depan Indomaret.

Tak ada firasat apapun. Memang saat menunggu hujan redah saya kadang berdiri dan duduk. Lalu bergeser sedikit di teras sempit Indomaret itu. Sempat beberapa kali saya mengambil foto Pak Tua yang berdiri. Masih ada sisa-sisa kegantengan disana. Guratan kegantengan, bah Pria Jepang masih enak untuk dipandang. Ternyata itu foto terakhir yang saya ambil.

Dua kali saya ambil foto dirinya. Pak Tua itu memang kelihatan sudah agak peot tapi tak pernah terseok-seok saat berlomba dengan Raja Jalanan-King Kobra itu. Tak pernah kalah dengan Pria Tampan bernama Vixion walau sudah uzur usianya. Pak Tua memang tangguh. Ketika  itu hujan baru redah saat matahari hendak tenggelam. Saya lalu membuang puntung rokok terakhir dijepitan tanganku. Lalu melangkah turun dari teras Indomaret itu.

Bergegas saya menuju ke tempat Pak Tua berdiri. Karena dia berani beradu di deruh Jalanan maka saya sering memanggilonya dengan Si Merah, agar Pak Tua merasa dihargai seperti anak muda penjantan tangguh. Saat itu, mungkin karena sudah tua, dia kedinginan dan terkena rheumatic. Roda pedati kuinjak hampir rata tanah, tetapi tidak juga bergeming. Tak ada suara. Saya lalu berbisik.

“Mari kita pergi dari sini. Agar tubuhmu menjadi hangat saat kita dirumah sana,” . Pun tak bergeming. Saya memohon-memohon kapadanya agar segera membuang rasa dinginnya dan kami pergi. Tetap tidak mau. Hari sudah gelap.

Bukan sekedar gelap malam, tapi gelap karena listtrik juga mati saat itu. Kembali saya berbisik mesrah, sedikit merayu diujung daun telinga Pak Tua. “sahabtku, mari kita pulang. Hari sudah terlalu malam. Saya tidak ingin engkau sakit dan kedinginan disini. Mari. Mari kita pulang dan bercumbu diatas ranjang kita di Pondok Djati,”. Ternyata Pak Tua masih tak bergeming.

Dia melengos kearahku. Menusuk mataku. Dan mengggeleng kepalanya lesuh. “Maafkan saya” ujarnya.

Saya mengerti. Sungguh saya memahami karena saat Hujan tiba, Penyakit Pak Tua pasti kambuh kembali. Rheumatic.

“Hujan sudah redah, tetapi engkau masih dingin jadi biarkan engkau mengeringkan badanmu dulu disini. Ditempat ini. Di bawah pohon kamboja samping Indomaret. Dan saya harus ke kantor,” kataku lirih.

Karena waktu deadline sudah tak bias diajak kompromi. Benar-benar mepet semepet perasaanku dengan Pak Tua. Saya pamit baik-baik. Mencium keningnya.  Mengusap dahinya dan mengelus pipinya. Masih sempat kukecup bibirnya sejenak. Saya pergi dengan galau. Meninggalkan Pak Tua  di bawah Pohon Kamboja malam itu.

Sampai di kantor beberapa berita saya kerjakan dengan napas memburu. ada peluh keluar dari dahi. Semua berita dikirim dan sudah diterbitkan di suluhnusa.com, media yang saya rintis itu bersama Pak Tua itu.

Selesai kerja saya bergegas pulang dengan si cantik jelita baju orange-scoopy-anak sahabat baikku. Jam dua belas lewat lima menit saya tiba di tempat Pak TUa itu. Dia masih berdiri disana. Di bawah pohon kamboja itu.

Saya, menyapanya. Berbisik selamat malam. Dan menanyakan keadaannya. Tak ada jawaban. Tak ada sahutan. Saya menepuk pundaknya. Dia sempat membuka matanya dan menatapku sejenak. Lalu terpejam kembali.

Sialnya, rasa ngantuk menyerang saya malam itu. Ngantuk sekali. Lelah. Saya masih menemaninya sampai pukul satu l ewat dua puluh menit dini hari. Kami bercerita tentang kisah kami. Kisah mesrah sewaktu masih di buleleng dua tahun lalui. Tentang nostalgia di bedugul. Tentang sahabat kami Pak Aly di pelabuhan Lama Singaraja. Tentang senyuman manis gadis dakocan.

Dia masih sempat bergumam tentang kerinduannya menapaki jalan raya singaraja, dari Pelabuhan Lama ke Air Sani menuju ke Desa Les. Tentang perjalanan kami ke Kintamani. Kisah mesrah di pantai Jimbaran. Dan bali clief. tentang, catatan separuh malam dipantai kuta.

Kisah kami di Pelabuhan Benoa. Tanah Lot, Celukan Bawang sampai Jalanan berdebuh di Gianyar dan Karangasem, Bangli. Tentang rasa arak Bali di karangasem. Rindu tentang, halaman belakang kantor DPRD Bali dan tempat parkiran Kantor Gubernur. Di sana ada sahabat kami, pak Gde suwardiyana, seorang Pamong Praja yang mengurus taman dan kebun kecil persis disamping Gedung I, Gedung dimana ada ruangan kerja Gubernur Bali.

Pak Tua masih sempat ingat tentang sekelumit kisah di Tukad Bangkung, bunga-bunga Gemitir di Belokan Sidan, tentang senyuman manis seorang gadis kecil diatas perahu ditengah danau beratan.

Dia masih sempat tersenyum ketika saya menyinggung, tentang tali celananya yang putus waktu kami berdua mendaki di tikungan Gitgit.  Tentang sebuah hati di Tikungan Antasura. Secarik kisah pedagang di Pasar Agung Peguyangan. Tentang seorang Bapak Penjual nasi Jinggo di Depan DPD II Golkar, Buleleng.

 Ada tetesan kisah tentang cinta di Beteng Sari, Jalan Darma itu. Tak sengaja dia menggelitik, ini bulan November dua tahun kita bersama. Saya terus bercerita. Dan tak sadar ternyata dia sudah pulas. Saya bangunkan, tetapi tetap tak mau bangun. Saya putuskan malam itu untuk pulang ke Pondok Djati di Tanjung Bungkak, kawasan Hayam Wuruk-Denpasar Bali.

 Dan karena saya sudah terlalu lelah, tak sempat membuka baju. Sendal Carvil di kaki masih melekat. Pulas malam itu saya ngorok di Pondok Djati. Esok hari, saat matahari baru menukil di pukul tujuh, saya terbangun. Tanpa ba-bi-bu, dengan si cantik jelita baju orange, anak sahabatku yang menemaniku pulang malam kemarin, kembali ke Sesetan untuk menjemput Pak Tua.

Pergilah kami ke Sesetan. Baru terasa dalam perjalanan di Waturenggong, hati mulai risau. Gelisah. Dan bayangan wajah dan senyuman Pak  Tua itu lekat-lekat datang menghantui. Belokan Pasar Sanglah pandanganku sudah tertujuh jauh ke depan menmbuh lampuh merah tepat dipertigaan Pasar Sanglah dan Jalan Raya Sesetan.

Dan…

Oh Tuhanku..

Pak Tua tak ada lagi.

Dia tidak lagi berdiri disana dibawah Pohon Kamboja itu..

Tak Percaya…

Dekat… semakin dekat.

Oh Tuhan..

Ternyata benar..

 

Dia sudah tidak ada di situ. Sempat saya tanya ke Penjaga Indomaret dan tukang sapu jalan.

‘Kami tidak tau om’ jawab mereka serempak. Dengan memohon-mohon, seorang penjaga Indomaret sempat membuka rekaman CCTV ternyata tidak terrekam disana kejadian lima jam belakangan..

Pak Tua Hilang..Dia pergi. Pergi tanpa pamit. Pergi tanpa meninggalkan sepatut kata. Bahkan Pak Tua belum sempat bilang terimakasih kepada abang kami di Igo Motor, Bhuana Kubu.  Ahhhh.. saya menyesal telah meninggalkannya di pinggir jalan.

Saya tidak kuatir jikalau Pak Tua, Sahabatku itu berada ditangan yang tepat. Saya iklas Dan Pak Tua juga pasti iklas. Tetapi saya tidak iklas ketika membayangkan kakinya dipotong, matanya dicungkil. Tangannya dipenggal-penggal. Celananya dipeloroti. Lidahnya digunting. Dan air kencingnya dijadikan darah penggerak untuk memotong melucuti tubuhnya satu persatu dengan cara dipenggal-penggal. Itu yang saya tidak iklas.

Saya memang salah..tetapi pak tua tidak pernah menyalakan saya. Dia selalu tersenyum kepadaku selama kami bersama, menjalin kemesraan selama dua tahun. Dan entahlah… kapan dan dimana saya temukan Pak Tua, saya dan dia pasti masih saling menyapa, walau dia sudah didandan bah seorang pangeran muda dari Negeri Sakura.

Pak tua, saya merindukanmu selalu. Pak tua, tuhanmu tau bagaimana caranya memperlakukanmu sebagai seorang Pak Tua yang bijak. Saya belajar banyak darimu tentang hidup ini.  Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Tentang kesabaran. Dan tentang persahabatan. Sebab, Pak Tua, engkau tau tentang saya. Luar dan dalam. Atas dan bawah. Muka dan belakang. Bahkan berapa jumlah bulu yang ada di tubuhku pun engkau tau Pak Tua.

Pak tua engkau tetap menjadi Pak Tua dengan petuah-petuah tentang hidup yang engkau tuahkan kepadaku. Pak tua, engkau bukan sekedar Motor Suzuki A100, made in japan itu engkau sahabat dan petuahku, Pak Tua.

Ini  bukan kisah sastra. Ini hanya sebuah kisah tentang saya dan Motor Suzuki A 100 Made In Japan DK5977VB yang sering saya panggil Pak Tua. (sandro wangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *