Menari Beku Menunjukan Identitas Orang Lembata

suluhnusa.com_Dan karena keindahannnya itu, pemerintah Kabupaten Lembata, melalui Dinas Pariwisata, merancang strategi untuk mempromosikan melalui event Festival Bahari . Festival ini sudah digelar sejak tahun 2013 lalu.

Dan 2016, festival tanggal 12 – 15 Agustus 2016 dengan berbagai kegiatan. Tujuannya cuman satu, menduniakan Lembata melalui Nuhanera.

Hasilnya, berbahai tamu asing dan domesatik berdatangan ke Lembata untuk menyaksikan ragam atraksi budaya dan keindahan alam Nuhanera.

Sebanyak 10 kapal dari New Zaerland bersama satu kapal Pinishi, Beneta namanya. Bahkan kelompok Scuba Diving dari Denpasar Bali sudah berada di Lamawolo sejak tanggal 11 Agustus hanya untuk menikmati indahnya alam bawah laut Nuhanera.

Para tamu disambut Galla Dinner di Pelabuhan Jeti Lewoleba dengn tarian tradisional Beku. Tarian ini dipentaskan secara ko9losal oleh sisawa/I SMP N 1 Nubatukan. Sebanyak hampir 200 siswa/I dilibatkan. Mereka menari dengan indah. Meliuk liuk yang membuat para tamu begitu menikmati tarian ini.

Kepala SMPN 1 Nubatukan, Maria Yustina Luku, kepada media ini mengungkapkan saat sekolahnya untuk membawakan taeian beku pada Festival Bahari Nuhanera, dirinya langsung menyanggupi sebab kegiatan menari tradisional merupakan bagian dari kegiatan extrakurikuler seni.

Foto : siswa/I SMP N 1 Nubatukan menari Beku saat festival bahari nuhanera di lembata, 12 Agustus 2016 (foto : sandrowangak)
Foto : siswa/I SMP N 1 Nubatukan menari Beku saat festival bahari nuhanera di lembata, 12 Agustus 2016 (foto : sandrowangak)

Menurut Yudtina, Tarian tradisional Beku, memang tidak banyak dikenal tapi punya nilai folosofis sangat tinggi. Rugi bila tidak digali dan dipopulerkan. Menari beku menunjukan identitas diri. Orang menyebutnya dengan nama “Beku.”

Menurut catatan lepas Almahrum Drs. Stanis Atawolo (1996), istilah “beku” merupakan adaptasi dari bunyi “bek-ku, bek-ku, bek-kukukuku, be-ku.” Bunyi tabuhan gendang yang digunakan sebagai pengiring tari. Dalam tata irama bunyi tersebut dijadikan sebagai pemandu langkah kaki sekaligus penentu utama irama tari.

Konon katanya tarian beku dibawa oleh sekelompok pengungsi dari pulau Nuha Ata, yang kini menghuni wilayah Leragere. Sebagaimana catatan lepas Almahrum Ambros Oleona (1989), Nuha ata merupakan sebutan lain dari Lepan Batan. Sebuah daratan luas antara pulau Alor dan Lembata. Daerah tersebut diperkirakan tenggelam karena bencana hebat penggenangan wilayah. Efek dari mencairnya es kutub. Peristiwa tenggelamnya daratan inilah yang menyebabkan terjadinya pengungsian besar-besaran (bang pong, leka duli). Setiap kolompok etnik ketika itu pergi meninggalkan kampung halamannya dilanda bencana dengan membawa serta warisan budaya mereka.

Pola tari beku sebetulnya mirip dengan “kolewala” dari daerah Atadei-Lembata, “lili beku” dari Terong-Lamahala dan “Lego-lego” dari Alor. Kalo lili beku dan lego-lego menggunakan instrument gong dan gendang, beku-Leragere hanya menggunakan gendang saja. Beberapa penggalan sair dari tiga ragam beku ini memiliki kemiripan. Contohnya seperti “Laira,” “helero” dan “eleha”.

Menurut tuturan lisan yang diwariskan turun temurun, dari sisi estetika gerak tari beku pada dasarnya merefleksikan gerak seekor ular yang disebut “naga laut.” Ular raksasa tersebut berupaya untuk menolong sekelompok awak perahu yang pecah karena amukan topan.

Tempat kejadiannya diperkirakan sekitar tanjung suba wutun. Refleksi ini nampak pada komposisi tari beku secara keseluruhan. Bahwa komposisi beku dibagi dalam tiga bagian yaitu “waheng,” “lid’o” dan “pur’ing.” Waheng adalah penari berpasangan yang melakukan gerakan gelombang karena pukulan jenggot naga. Dominasi gerakannya meliputi kibasan kiri kanan dan loncatan maju mundur.

Lido adalah ujung kepala naga. Diikuti areal pertengan badan ke arah kepala. Bagian ini diisi oleh kelompok penari laki-laki. Gerakan tarinya meliuk-liuk seperti kepala ular. merupakan pemandu arah putaran. Sifatnya kokoh kaki dan lentur pinggang. Pur’ing adalah bagian ujung ekor mengakhiri barisan dari pertengahan badan ke arah ekor. Bagian ini diisi penari perempuan. Gerakannya lemah gemulai seperti ekor ular. Arahnya mengikuti bagian kepala.

Dan saat menari di hadapan para tamu Festival Bahari Nuhanera, sisawa/I SMPN 1 Nubatukan membentuk tiga kelompok masing masing melingkar, lalu menari meliukliuk seperti ular naga yang menggulung. (sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *