Potret Cinta

“Selamat ulang tahun, Sayang! Semoga Allah SWT lekas memberikan kado terindahNya untukmu, kesehatan yang begitu kunanti dan cukup akulah cinta liar yang sempat lengah dan menyakitimu. Cinta yang tak sengaja terbina lewat semilir angin dan aroma bunga tulip ini. Cinta yang selalu disampingmu ‘tuk setia menjaga. Apakah kau masih mengingat kenangan indah itu?” ujarku sembari menggenggam jemari Ardiansyah, kekasihku yang terbaring lemah diruang rumah sakit ini sejak 3 bulan lalu dan ku letakkan seikat tulip biru untuknya.

 Ardiansyah adalah sosok lelaki yang telah menghipnotisku untuk selalu menunggunya di beranda rumah. Membawa kejutan-kejutan indah yang ia selipkan di dadanya untukku. Bercengkerama di taman milikku yang penuh dengan wangi khas bunga tulip; lambang kemesraan kita. Ya, bunga tulip itu yang sempat menyatukan kami waktu itu. Ardiansyah, seorang fotografer yang senang berpetualang dengan alam hingga suatu hari ia tak sengaja menjamah taman milikku ini. Aku memergokinnya sedang asyik memotret kuncup-kuncup tulip biru yang hampir merekah.

“ Assalamu’alaikum. Maaf, Anda siapa?” ujarku waktu itu.“Hmm… Wa’alaikumsalam. Kenalkan, nama saya Ardi, seorang fotografer. Taman Nona sangat indah, bolehkah menjadikannya bahan studi saya?” tanyanya penuh harap.

“Terimakasih. Silahkan masuk kedalam saja, tak perlu memotretnya sembunyi-sembunyi seperti itu. Mencurigakan, tidak enak jika dilihat oleh tetangga saya, lagian memotret seperti itu tak akan seindah memotretnya dari jarak terdekat, Ardi.” Ku persilahkan ia masuk melewati gerbang rumah ditengah taman. Dan semenjak itulah perkenalan sesaat menjadi awal benih-benih cinta.

“Ardi, bisakah kau memotretku dengan beberapa tulip biru, aku ingin sekali menyatukannya dengan langit, ketika embun mungil mengalir lembut dalam tangkai dan kelopak-kelopak tulipku itu,” pintaku manja.

“Boleh, sepertinya aku juga ingin memotretmu bersama kincir-kincir angin yang beberapa pekan lalu menjadi bahan fotoku. Lengkap rasanya jika cinta dan keindahan alam ini akan terkenang bersamamu dalam potretku, Sayang,” ujarnya.

Pagi buta itulah, kami bersenandung alam. Menapak belukar dengan riang, hanyut dalam kabut tipis yang bersorak. Membawa serangkaian tulip yang telah kuhias untuk menebarkannya pada kincir-kincir itu. Memasuki gubuk tua milik tetangga untuk sampai pada atas menara kincir.

“Aaarrggg………,” pekik Ardiansyah ketika mendapati tangga yang dinaikinya roboh. Tubuh Ardi juga ikut lambung bersamaan tulip-tulip biruku yang kulepas untuk segera berlari menghampirinya. Namun sayang, darah segar itu mengalir cepat di ubun-ubunnya dan lengan yang sempat menghangatkan rengkuh pundakku ikut tergores reruntuhan atap kayu. Teriakan mautku ternyata tak mampu membuatnya lekas terbangun. Para tetangga yang sempat mendapati sebesit ujarku memopoh tubuh kekasihku itu; terhuyung.

“Tidak, ini salahku,” tangisku membuncah saat itu. Dokter memvonis bahwa Ardiansyah, kekasihku mengalami gegar otak dan harus dirawat intensif selama beberapa waktu agar kondisinya sembuh seperti semula.

Kini, ruangan rumah sakit inilah yang menjadi saksi cintaku, kelalaian gelora cinta yang sesaat mengharuskanku mengenang semua masa-masa indah yang kulalui bersamanya. Tulip biru bersanding langit dan secercah awan putih mengarak, gubuk tua dan hempasan kincir-kincir telah mengabadikan cintaku untuk terus menunggu kesembuhan Ardiansyah, kekasihku. “Ya Rabb, kesekiankali menghatur pinta agar kiranya sehat itu masih miliknya, ijabahlah doa hati wanita yang teraniaya rasa, hingga ku dapati kekasihku menghela desah,” nuraniku menengadah dalam hembusan doa.

Ratih Febrian K.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *