LEWOLEBA – Teater Embun di Padang Laut adalah sebuah teater yang mengisahkan perjuangan seorang anak muda yang peduli terhadap usaha konservasi laut menggunakan kebudayaan sebagai atmosfer larangan pada aktivitas bernelayan di tengah kehidupan masyarakat Etnik Lamaholot (Lembata).
Ekokritik Teater (sering dikaitkan dengan ecotheatre atau ecodramaturgy) adalah pendekatan interdisipliner yang mengkaji hubungan antara teater dan lingkungan hidup, baik dari segi tekstual naskah maupun praktik pementasannya.
Pendekatan ini melihat bagaimana seni pertunjukan merespons isu-isu lingkungan seperti krisis iklim, kerusakan alam, dan eksploitasi bumi, sekaligus mengkritik pandangan antroposentrisme (yang menganggap manusia adalah pusat dari segalanya)¹
Konflik Ekologis
Isu pengerusakan laut direpresentasikan dengan adengan Kopong menemui anaknya di pantai kemudian berdialog secara verbal antara tokoh Kopong dan Lukas yang ditandai dengan kalimat
“Sementara kita sudah lebih mudah menangkap ikan dengan bom ikan.”
Kalimat diatas mendeskripsikan tentang pengerusakan ekosistem dibawah laut dengan cara pengeboman ikan.
adverorial
Selain kalimat tersebut adapun kalimat lain yang mendeskripsikan demikian. Adegan Lukas duduk bersama Kedua orang tuanya ( Kopong dan Kewa) ditandai dengan kalimat :
“Lihat! Laut indah dengan sampah. Tubuhnya lebam karena ledakan bom.”
Kalimat diatas merepresentasikan aktivitas masyarakat yang melakukan pengerusakan laut dengan membuang sampah dan pengeboman ikan dilaut.
Kedudukan Laut dalam pementasan Teater Embun di Padang Laut?
Kedudukan laut dalam pementasan Teater Embun di Padang Laut sebagai latar belakang cerita. Dibalik demikian itu, Laut juga sering dijadikan sebagai subjek yang sedang menderita yang ditandai dengan kalimat
“Laut sudah sangat indah dengan sampah, tubuhnya sudah lebam karena ledakan bom ikan.”
Kalimat diatas mengibaratkan laut sebagai manusia ketika dibom maka tubuhnya menjadi lebam. Kata “Tubuh” mengindikasikan laut menjadi subjek yang sedang menderita.
Relasi Manusia dan Laut
Teater Embun di Padang Laut menggambarkan tentang relasi manusia dan Laut bersifat timbal balik, Laut menjadi penopang kehidupan masyarakat yang bermatapencaharian nelayan.
Akan tetapi dalam pementasan tersebut menunjukkan adanya tindakan yang condong merugikan laut sebagai ekosistem penopang kehidupan masyarakat.
Hal ini dibuktikan dengan adanya tindakan buang sampah pada laut dan penangkapan ikan dengan cara pengeboman ikan. Relasi ini dikhianati oleh tindakan manusia yang berlebihan.
Olland Prawine sebagai penulis dan sutradara pertunjukan tersebut, meletakkan konflik ekologi sebagai bentuk kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi laut sebagai usaha melestarikan ekosistem bawah laut.
Pertunjukan ini dipersembahkan oleh Bidang Ekstrakurikuler Teater SMA Negeri 1 Ile Ape dengan harapan masyarakat memiliki rasa kepedulian terhadap ekosistem bawah laut sebagai padang mata pencaharian mereka.
Referensi
¹ Ningsih, A. M., Kristiana, V., Nurmala, D., & Risnawaty, R. (2026). Eco-consciousness and human-nature relations in contemporary British drama: An ecocritical study of selected plays. ELSYA: Journal of English Language Studies, 8(2). unilak.ac.id
