LEWOLEBA – Festival Lamaholot kembali digelar untuk ketiga kalinya di Kota Lewoleba, Lembata, yang diawali dengan karnaval budaya, Rabu, 1 Juli 2026). Peserta karnaval tidak hanya mengenakan pakaian adat Lamaholot, tapi juga ada peserta karnaval yang mengenakan pakaian adat dari luar kawasan Lamaholot.
Busana adat dari daerah lain di Indonesia yang turut memeriahkan karnaval budaya antara lain dari daerah Sumba, Sabu Raijua hingga Batak Karo (Sumatera). Namun karnaval budaya ini tetap didominasi tenun khas Lamaholot.
Tak cuma menampilkan pakaian tradisional Lamaholot dengan berbagai motif khas daerah asal, tapi juga tampak pula pagelaran musik tradisional dan tarian daerah Lamaholot.
Karnaval dimulai dari alun-alun eks kantor bupati Lembata hingga ke pusat pagelaran even Festival Lamaholot 2026 di lokasi eks Harnus, Wulen Luo. Ribuan pasang mata menyaksikan parade motif tenun ikat yang dipadukan dengan musik daerah tersebut.
Pantauan media ini, Karnaval budaya ini bukan sekadar pawai biasa. Beragam kekayaan budaya Lamaholot ditampilkan secara meriah melalui motif tenun ikat, busana adat, tarian tradisional, hingga alunan musik khas yang menggema sepanjang perjalanan karnaval.
Peserta yang terdiri dari instansi pemerintah daerah, komunitas seni, hingga berbagai paguyuban daerah di Kota Lewoleba tampil dengan identitas budaya masing-masing.
Keunikan budaya Lamaholot semakin terasa melalui ragam sarung tenun dan busana tradisional yang dikenakan peserta. Tidak hanya menampilkan kekayaan budaya Lembata, karnaval ini juga menjadi panggung persatuan budaya Nusantara. Ini ditandai dengan hadirnya peserta karnaval yang mengenakan busana daerah lain dari luar kawasan Lamaholot, seperti dari Sumba, Sabu Raijua hingga Batak Karo. Kehadiran mereka menambah warna sekaligus memperkuat semangat keberagaman dalam Festival Lamaholot 2026.
Festival Lamaholot di Kabupaten Lembata, Nusa Tengara Timur sendiri kembali menorehkan prestasi dengan terpilih untuk ketiga kalinya dalam daftar 125 Karisma Event Nusantara (KEN) Tahun 2026, yang merupakan program strategis Kementerian Pariwisata.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Lamaholot. Festival ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
Para pelaku seni dan UMKM terlibat dalam penyelenggaraan festival. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Festival Lamaholot bukan sekadar perayaan budaya, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan keberagaman, Festival Lamaholot terus mengukuhkan diri sebagai salah satu agenda budaya di kawasan timur Indonesia sekaligus menjadi kebanggaan bersama masyarakat Lamaholot.+++
prokopim.kab.lembata
