JAKARTA – Ketua Umum Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) periode 2025–2030, Arsjad Rasjid, meminta seluruh pengurus KPOTI di daerah memperkuat konsolidasi organisasi dan membangun jejaring kemitraan dengan berbagai pihak untuk menghidupkan kembali permainan rakyat dan olahraga tradisional sebagai bagian dari pelestarian budaya bangsa.
Arahan tersebut disampaikan dalam rangka penguatan organisasi pasca-Musyawarah Nasional (Munas) II KPOTI yang berlangsung di Jakarta pada belum lama ini.
Menurut Arsjad, permainan rakyat dan olahraga tradisional tidak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi juga sarana efektif untuk membentuk karakter generasi muda Indonesia.
“Konsolidasi organisasi harus segera bergerak cepat. Daerah perlu memperkuat jejaring dengan pemerintah, sekolah, komunitas, dunia usaha, dan berbagai mitra lainnya agar permainan rakyat kembali hidup di tengah masyarakat. Dari permainan tradisional lahir nilai gotong royong, sportivitas, disiplin, dan kebersamaan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan karakter anak bangsa,” ujar Arsjad.
Ia menegaskan, penguatan permainan rakyat harus menjadi gerakan bersama yang menjangkau hingga tingkat akar rumput. Selain menjaga warisan budaya, langkah tersebut dinilai penting untuk menghadirkan ruang bermain yang sehat, edukatif, dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal.
Ketua KPOTI Nusa Tenggara Timur, Krisantus Boro, menyatakan siap melaksanakan arahan Ketua Umum KPOTI hingga ke tingkat daerah dan komunitas masyarakat.
“Instruksi Ketua Umum KPOTI harus menjadi gerakan nyata sampai ke tingkat akar rumput. Kami di daerah siap memperkuat kemitraan dengan sekolah, komunitas, pemerintah, dan berbagai pihak untuk menghidupkan kembali permainan rakyat serta olahraga tradisional,” kata Krisantus yang kerap dipanggil Sandro Wangak ini.
Menurut dia, upaya tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ketergantungan anak-anak terhadap telepon genggam dan permainan digital.
“Permainan rakyat bukan sekedar alternatif tapi harus menjadi keutamaan gerakan bersama yang sehat dan mendidik bagi anak-anak. Melalui permainan tradisional, mereka belajar bekerja sama, bersosialisasi, menghargai aturan, dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Permainan rakyat dan olahraga tradisional itu identitas. Kami berharap gerakan ini dapat membantu mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai dan permainan daring yang semakin mengkhawatirkan,” ujarnya.
Dukungan terhadap arahan Ketua Umum KPOTI juga datang dari Pengurus KPOTI Maluku, Marco Pascal Latumeten.
Menurut Marco, penguatan jejaring budaya di daerah merupakan langkah strategis untuk memastikan permainan rakyat tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda.
“Arahan Ketua Umum KPOTI sangat relevan dengan kondisi saat ini. Permainan rakyat bukan sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga media pendidikan karakter dan sarana memperkuat identitas budaya daerah. Karena itu, seluruh pengurus daerah perlu membangun kolaborasi yang kuat dengan sekolah, komunitas budaya, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan,” kata Marco.
Ia menambahkan, daerah-daerah di Indonesia memiliki kekayaan permainan tradisional yang beragam dan perlu didokumentasikan, dilestarikan, serta diperkenalkan kembali kepada anak-anak melalui kegiatan yang berkelanjutan.
“Gerakan menghidupkan kembali permainan rakyat harus menjadi gerakan nasional yang dimulai dari daerah. Jika dilakukan secara konsisten, permainan tradisional akan menjadi benteng budaya sekaligus sarana membangun generasi yang sehat, kreatif, dan berkarakter,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KPOTI Kota Kupang, Goris Takene, menilai arahan Ketua Umum KPOTI menjadi momentum penting untuk mempercepat penguatan organisasi hingga ke tingkat komunitas dan satuan pendidikan.
“Kami siap mengamankan dan melaksanakan instruksi Ketua Umum. Fokus kami adalah memperluas sosialisasi permainan rakyat, membangun teras main di sekolah-sekolah, serta memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak agar manfaat permainan tradisional dapat dirasakan langsung oleh anak-anak,” kata Goris.
Menurut Goris, permainan rakyat memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya lokal di tengah arus modernisasi.
KPOTI di berbagai daerah, lanjutnya, perlu bergerak cepat melakukan sosialisasi, pendataan permainan tradisional, pembentukan teras main, serta penguatan komunitas pelestari budaya agar program yang dicanangkan kepengurusan pusat dapat diwujudkan secara nyata di tengah masyarakat.
Para pengurus daerah optimistis kepemimpinan Arsjad Rasjid akan membawa KPOTI menjadi organisasi yang semakin kuat, inklusif, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman, sekaligus memperkuat peran permainan rakyat sebagai instrumen pelestarian budaya dan pembangunan karakter generasi muda Indonesia.+++
goe
