Pemuda Hari Ini, Pemimpin Masa Depan

Di Jayapura, komunitas "Papuan Voices" melatih generasi muda memproduksi film dokumenter yang mengisahkan kehilangan tanah adat.

ADOBARA – Di tengah deru lalu lintas Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, di sebuah bangunan tua bernomor 106 di Jalan Kramat Raya, berdiri ruang kecil yang menjadi saksi sejarah besar.

Di sinilah, 96 tahun silam, sekelompok anak muda dari berbagai penjuru Nusantara bersepakat menyatukan suara, bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan momentum kesadaran kolektif. Ia lahir dari ruang sempit namun, berpandangan luas menembus batas bahasa dan identitas kedaerahan menuju kesatuan cita. Kini, hampir seabad kemudian, pertanyaan itu kembali menggema: bagaimana wajah pemuda Indonesia di tengah zaman yang serba digital, cepat, dan terhubung tanpa batas?

Dari Pena ke Layar Sentuh

Jika pemuda 1928 menulis sejarah dengan pena dan tekad, pemuda masa kini menulisnya lewat layar sentuh dan jejaring digital. Mereka tidak lagi berorasi di podium, melainkan bersuara lewat podcast, video pendek, atau thread panjang di media sosial. Namun, semangatnya tetap sama: mencipta, menggugah, dan menggerakkan.

Pada 2023, kampanye digital bertajuk “BersihkanIndonesia” menyatukan ribuan anak muda untuk menolak eksploitasi tambang yang mengancam ekosistem hutan dan laut.


Di Jayapura, komunitas “Papuan Voices” melatih generasi muda memproduksi film dokumenter yang mengisahkan kehilangan tanah adat. Sementara di Nusa Tenggara Timur, Pondok Baca Wewit Ledo Hukun menjadi ruang literasi digital bagi anak-anak pedalaman menyambungkan dunia kecil mereka dengan cakrawala luas. ‘Anak muda kini punya cara baru memperjuangkan nilai,” ujar Najwa Shihab dalam refleksi Hari Sumpah Pemuda 2024.


“Mereka mungkin tak lagi berbaris di jalan, tapi mereka berdiri tegak di ruang digital, membawa ide, bukan amarah.”


Persimpangan Zaman dan Krisis Arah

Namun di tengah kemudahan itu, paradoks juga tumbuh. Banyak pemuda yang tersesat dalam lautan informasi membaca banyak, tapi memahami sedikit; berpendapat cepat, tapi merenung jarang. Dalam budaya serba instan, nasionalisme kadang kehilangan kedalaman hanya menjadi slogan, bukan kesadaran.

“Generasi yang terkoneksi dengan dunia, tapi kerap terputus dari dirinya sendiri,” begitu kritik sosiolog muda Devie Rahmawati (UI). Ia mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan ulang dalam konteks zaman yang kini menuntut “critical thinking”, literasi digital, dan empati sosial.

Pemimpin Tanpa Panggung

Tidak semua pemuda ingin jadi politisi atau pejabat, tapi banyak yang memimpin dengan caranya sendiri. Seperti Wahyu di Lombok yang menciptakan alat pemurni air dari bahan bekas untuk desa kekeringan. Atau Maria, gadis muda dari Lembata, yang memimpin komunitas penanam mangrove demi menahan abrasi laut. Atau Ria Atasoge yang mendirikan Rumah Tenun Milenial untuk melestarikan warisan tenun Adonara. Rahman Tukan Hanafi yang memaksimalkan potensi kelapa Adonara dalam inovasi VCO, sabun, minyak goreng dengan kualitas dunia. Mereka semua mungkin tak dikenal publik luas, tapi merekalah wajah otentik dari Sumpah Pemuda hari ini yang bekerja diam-diam, tapi meninggalkan jejak panjang. Kepemimpinan di era ini tidak lagi soal jabatan. Ia tumbuh dari kejujuran, kepedulian, dan kemampuan mendengar. Pemimpin masa depan lahir bukan dari ambisi, tapi dari pengabdian yang tenang.

Menyalakan Lagi Api Itu

Sumpah Pemuda tak boleh berhenti sebagai ritual tahunan. Ia harus menjadi sikap mental, cara berpikir, dan etika berkolaborasi lintas zaman. Dulu para pemuda berikrar di ruang pertemuan kecil di Jakarta. Kini, para pemuda berikrar di ruang virtual, membangun Indonesia lewat gagasan, jejaring, dan kerja nyata. Tantangan zaman boleh berubah, tapi panggilan sejarah tetap sama untuk menjaga kemerdekaan dengan cara yang sesuai dengan zamannya.

Menulis Sejarah yang Baru

Ketika kelak kita menoleh ke belakang, kita akan menemukan bahwa generasi hari ini bukan sekadar penonton sejarah, melainkan penulisnya. Mereka menulis dengan kode, dengan kamera, dengan pena, dengan empati. Mereka membangun dari bawah, dari yang kecil, dari yang mungkin tak terlihat. Sebab api yang dinyalakan di Kramat Raya 106 hampir seabad lalu itu belum padam. Ia hanya berpindah tangan ke generasi yang kini menggenggam dunia di ujung jari, nnamun masih punya ruang dalam dada untuk mencintai tanah airnya.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan”. Dan masa depan itu, pelan-pelan, sedang mereka ciptakan dengan cara yang indah dan penuh harapan.+++

Asy’ari Hidayah Hanafi. Penulis Buku Dari Pulau Ke Pulau

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *