MERDEKA HARUS 100% !!!
MEDIA WLN – Ibrahim Datuk Tan Malaka atau dikelan dengan nama yang popular yaitu Tan Malaka, dengan kesungguhan hati dan disiplin idealism yang kuat telah mengkampanyekan independensi di negeri ini. Tak bisa dipungkiri, sosok beliau sangat mempengaruhi jalannya kemerdekaan bangsa ini, pribadi yang langka karena gagasan-gagasannya tak lahir di ruang personal di antara tumpukan buku, melainkan di tengah gelanggang perjuangan bangsa ini.
Pria yang dijuluki sebagai ‘Bapak Republik Indonesia’ oleh Moh Yamin itu bahkan dibuang oleh Belanda pada 1922 dan tak diperkenankan kembali ke tanah air karena idealisme dan perjuangannya dinilai membahayakan kedudukan pemerintah kolonial saat itu. Namun, hal itu tak membuat Tan justru menjadi layu. Dari luar tanah air, Tan Malaka justru tetap melahirkan pikiran dan ide-ide perjuangan kemerdekaan. Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah soal ‘Merdeka 100 Persen’. Banyak hal dijabarkan Tan Malaka dalam konsep ‘Merdeka 100 Persen’. Salah satu yang menarik adalah bahwa kemerdekaan haruslah 100 persen tak boleh ditawar-tawar. Sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing.
Lantas bisakah konsep ‘Merdeka 100 Persen’ diterapkan di era globalisasi ini?
Jika dilihat pada zaman revolusi kemerdekaan, konsep ‘Merdeka 100 Persen’ sangat relevan diterapkan. Sebab, saat itu ada dua aliran yang mendominasi yakni tokoh-tokoh bangsa yang kooperatif dan yang nonkooperatif. Nah kemudian “Tan Malaka termasuk yang nonkooperatif jadi tak bisa berkolaborasi dengan Jepang, tidak mau berkolaborasi dengan Belanda, jadi merdeka harus merdeka 100 persen, menentukan kedaulatan sendiri tidak mau hasil pemberian dan sebagainya,”
Namun berbeda dengan era sekarang. Di era globalisasi saat ini sebuah negara tak bisa menentukan segala sesuatu secara sendirian. Sebab ada ketergantungan satu sama lain dan kerjasama internasional. Selain itu, kemajuan teknologi yang membuat waktu dan jarak semakin pendek dan dekat mengakibatkan saling ketergantungan antara satu negara dengan negara lain. Namun demikian, konsep ‘Merdeka 100 Persen’ soal kedaulatan tetap relevan pada masa kini. “Jadi kedaulatan 100 persen itu relevan, kita menentukan nasib kita sendiri, kita menentukan perjalanan kita sendiri, kita menentukan mau ke mana arah Indonesia itu sendiri,
Dari buku ‘Tan Malaka: Merdeka 100 Persen’ karya Robertus Robet, kelima tokoh kiasan itu membicarakan seputar kondisi politik, rencana ekonomi berjuang, hingga soal muslihat. Dalam pembicaraan politik dibahas soal makna kemerdekaan dan sebagainya. Inti dalam bagian itu, kemerdekaan haruslah 100 persen tak boleh ditawar-tawar. Sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing. Sementara, dalam bahasan ekonomi berjuang, dibahas soal perampokan yang dilakukan negara-negara kapitalis terhadap negara lain termasuk Indonesia hingga soal rencana ekonomi yang tepat bagi Indonesia. Dalam bahasan muslihat dibahas soal iklim perjuangan, diplomasi hingga syarat serta taktik berjuang. Buku tersebut menjadi salah satu bacaan wajib para aktivis era itu dan setelahnya.
Pemikiran ‘Merdeka 100 persen’ puncaknya disampaikannya untuk menanggapi sikap pemerintahan Presiden Soekarno terhadap Jepang dan Belanda pasca-proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Saat itu, Tan Malaka melihat pemerintah yang dipimpin Soekarno hanya menghamba kepada penjajah. Dia melihat pemerintah hanya berharap kedaulatan dan kemerdekaan diberikan oleh penjajah, bukan direbut lewat perang dan perjuangan. Begitu pula dengan pemerintahan Perdana Menteri Sjahrier. Dia melihat tokoh sosialis-demokrat itu lembek karena mengutamakan jalan diplomasi dengan Belanda. Alhasil, melalui organisasi Persatuan Perjuangan (PP) yang didirikan pada Januari 1946, Tan Malaka membuat tuntutan agar pemerintah saat itu melaksanakan jalan ‘Merdeka 100 Persen’. Namun sayang, ide Tan Malaka itu dinilai pemerintah kala itu terlalu frontal. Tan Malaka dan para pengikutnya seperti Soekarni, Sajoeti Melik dkk lantas ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah karena dinilai membahayakan persatuan dan perjuangan bangsa.
Kemerdekaan yang hakiki semestinya lahir dari kepribadian bangsa itu sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Bung Karno: Nasionalisme suatu bangsa itu adalah nasionalisme yang bukan copy paste, nasionalisme yang lahir dalam naluri dan roh suatu bangsa, demikian dalam bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi”. Artinya jika kita memotret arah kemerdekaan bangsa saat ini sudah sangat jauh dari harapan dan perjuangan para pendiri bangsa ini, artinya gagasan kemerdekan hilang secara jati dirinya, bangsa kita dikoyak, digilas dan ditindas hingga sampai ke akar persatuan kita.
Saat ini Indonesia memasuki usia 75 tahun, dengan kematangan usia seperti ini, kata merdeka itu masih jauh dari harapan dan cita-cita. Hantaman covid19 dan dengan segala keragaman isue yang dimainkan oleh para elite yang berkepentingan adalah salah satu tanda mundurnya kekuatan persatuan dalam membangun sebuah bangsa. Artinya kita telah dijajah secara kekuatan politik ekonomi nasional dan internasional, kita telah kehilangan kekuatan politik nasional apalagi internasional. Sehingga dengan mudahnya kita dijajah secara pikiran, ideologi, dan lain-lain. Bangsa ini telah kehilangan arah kedaulatannya, kemerdekaan kita direbut, diinjak dan bahkan ditelan oleh neoliberalisme dan kapitalisme yang masih bercokol di negeri ini. Kenapa saya menggunakan kata “Neoliberal” karena saat ini kita telah difokuskan dengan penggiringan opini dan isue yang tidak substansial, akhirnya kita tidak punya musuh secara bersama (“Common enemy”) sebagai bentuk perlawanan secara bersama sama. Jadi jangan salahkan jika hari ini telah hilangnya idealisme pemuda, mahasiswa dalam merespon isue yang lagi bergulir dipermukaan. Secara pribadi dengan tegas saya mengatakan bahwa idealisme pemuda hari ini adalah idealisme semu.
Dengan demikian diakhir tulisan ini saya ingin mengutip bahasanya Pramoedya Ananta Toer “ dalam menyikapi idealisme anak muda hari ini “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”.***
Midun Husein Ratuloli
