PLAN International komit Ciptakan Generasi Emas Lembata

suluhnusa.com – Delapan puluh persen perkembangan otak manusia terjadi di usia dini.

Itu sebabnya, periode ini merupakan momen tepat untuk menanamkan nilai dan pendidikan pada anak, termasuk status gizi yang menjadi salah satu aspek terpenting guna mendukung tumbuh-kembang, pembentukan karakter, serta kecerdasan yang akan dibawa hingga usia dewasanya.

Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi sebuah sarana yang tepat dalam memberikan pengenalan nutrisi yang tepat dengan stimulasi yang sesuai tahapan tumbuh-kembang Si Kecil.

Dalam program PAUD, orangtua dan guru bisa saling bekerja sama dalam menuntun anak menjadi generasi yang hebat. Namun, penyelenggaraan PAUD tersebut masih menghadapi berbagai masalah, sehingga konsep PAUD pun mulai bergeser.

Para ahli pun merekomendasikan perlunya untuk melakukan pengembangan terhadap anak usia dini secara holistik dan terintegrasi. “Peraturan Presiden No. 60 (2013) mengamanatkan agar pengembangan anak usia dini hendaknya dilakukan secara holistik integratif.

Bahkan, UNESCO menyarankan, 75 persen anak Indonesia wajib mendapat hak-hak untuk mendapatkan pendidikan usia dini secara holistik. Namun, kita masih sanggup memenuhinya hanya sekitar 30 persen.

Karenanya, seluruh layanan sosial dasar bagi anak didorong untuk dapat terintegrasi, terutama pada layanan posyandu dan PAUD juga BKB HI.

Hal ini disampaikan Denny Rahardian, dari Plan International Program Area Lembata, saat membawakan materi terkait Road Map Program Pendidikan Anakn Usia Dini Holistik Integratif di Hotel Olympic, Lewoleba Lembata, Senin, 19 Desember 2016.

Rahardian menguraikan pengembangan PAUD holistik integratif adalah pengembangan anak usia dini yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam, meliputi berbagai aspek fisik dan non-fisik, termasuk mental, emosional, dan sosial.

“Pengembangan PAUD holistik integratif juga bertujuan memenuhi 5 pilar hak anak. Mulai dari hak anak untuk terhindar dari penyakit, serta hak terpenuhi kecukupan gizi agar dapat bereksplorasi dan mengembangkan kemampuan otaknya dengan maksimal,” ungkap Rahardian.

Selain itu, anak juga perlu distimulasi sedini mungkin, mendapatkan pengasuhan yang baik, serta hak mendapatkan perlindungan dari kekerasan fisik dan psikologis.

“Lima pilar inilah yang disebut pengembangan PAUD holistik integratif. Ini yang perlu dipertanggungjawabkan agar berjalan dengan baik oleh semua pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Hal ini penting untuk ditindaklanjuti sehingga perlu adanya penyusunan Roadmap dan anggaran PAUD HI Kabupaten Lembata berikut target angka partisipasi.

Sebab, untuk propinsi NTT, misalnya, telah menetapkan angka partisipasi PAUD HI, sebesar 75 persen pada tahun 2019. Dan sampai saat ini baru mencapai 55,73 %. Dan berdasarkan hasil diskusi pada pertemuan pembentukan gugus tugas PAUD HI tingkat propinsi NTT, hanya lima kabupaten yang baru memiliki Gugus Tugas PAUD HI. Yakni, Lembata, TTS, TTU, SIkka dan Nagekeo.

“Terbentuknya Gugus Tugas dilima kabupaten ini juga karena intevensi dan advokasi karya dari Plan International,” jelas Rahardian lokakarya Roadmap PAUD HI kerjasama Plan International Program Area Lembata dan LPM

Untuk Lembata, Plan International sudah melakukan advokasi di 89 desa seluruh Lembata, dan replikasi 10 desa oleh Pemda Kabupaten Lembata.

Untuk itu dia berharap agar, lokakarya roadmap yang menghadirkan semua tenaga Perencana di beberapa SKPD Setda Kabupaten Lembata bias melakukan kebijakan anggaran agar pengembangan PAUD HI di Lembata bias berjalan dengan baik demi menciptakan generasi emas Lembata. (sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *