Kekasih Jiwa

suluhnusa.com_Kekasih jika waktuku tiba, renggut nafasku yang terhembus perlahan melalui setiap pori agar kau tak sepi menyusuri lorong panjang itu sendiri. Kau tahu sayang, seperti kata Kierkegaard, hidup bukanlah sekedar sesuatu sebagaimana kita pikirkan, melainkan sebagaimana kita hayati. Makin mendalam penghayatan kita perihal kehidupan, makin bermaknalah kehidupan. Itulah yang kasat mata, dan harus dijalani sebab manusia tidak mengidamkan pengertian dan kesaksian dari sesama manusia. Hidup adalah roda dengan beban di atas yang harus dipikul hari lepas hari.

Kau ingat di ambang kerinduan yang kita kembangkan, semua bak layar terbuka yang memagut sepi di antara kita berdua, kau menungguku di sudut taman dengan seonggok ingatan bahwa di sana ada janji yang kau tulis pada sehelai kertas tipis merah dadu, kertas yang telah mematri segenap kenangan yang kita rajut bersama. Seperti cinta Kierkegaard pada Regina yang terekam hingga kematiannya, di situ juga telah kusisakan jejak-jejak rindu yang kukumpulkan bersama penantian panjang yang tak berbalas, ah, namun kau lenyap tanpa bekas. Kekasih jiwa, inilah rindu terberat yang memaksa air mata untuk selalu mengalir dan mengalir.

Dalam kenanganku, bolehlah kusebut kau kekasih jiwa, sebab meski segala luka telah terangkai dengan semua proses yang kemudian tersemai dalam belanga rindu, cintaku padamu tak pernah tercemar oleh ribuan debu yang membuatnya menjadi kusam. Kau tak lagi berujud manekin bisu yang membuat ingatanku tentangmu hanya sebatas siluet tanpa makna.

Kekasih jiwa, kau tetap manusia dengan hati yang tak bisa kutebak seberapa dalam kau mencintaiku. Ya, benar kata Berdyaev, manusia adalah mahluk yang kompleks dan ditandai oleh suatu dualisme dasar yang tak bisa disangkalnya, yaitu di satu pihak manusia adalah mahluk Tuhan, sedang di lain pihak manusia adalah produk daripada alamnya. Kau adalah produk dari alammu yang menciptakan cinta untuk kurengkuh meski itu samar sekali pun. Atau, apakah kau menyerupai Nietzsche? Yang menganggap bahwa dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang? 

Lagi-lagi aku tercenung. Kekasih, jika jemariku kian lemah untuk menggapai uluran yang kau berikan, jangan salahkan bila dalam imajiku, aku kerap mengingat akan janjimu seperti yang pernah kau tirukan di dalam prolog yang diucapkan Nietzsche dalam Dendang Zarathustra: aku menanti-nanti kehampaan, menikmati, melampaui baik dan buruk, sekarang ini cahaya dan bayangan yang ada hanya hari, danau, siang, waktu tak berujung. Maka, kawan, tiba-tiba satu menjadi dua, dan aku dilewati Zarathustra…

Itulah kehampaan yang prima, aku mendekap rindu dan berharap yang ada dan tiada. Ketika sosokmu kian samar dan tak terjangkau olehku, aku harus terus berusaha mengejar mimpi dan menggigilkan diri dalam danau berbuih es yang kini telah membeku. Kuberlari mengejar rindu yang kian menggelegar bergejolak di dalam raga, tapi siluetmu kian menjauh. Hingga pada akhirnya, aku tersentak ketika tersadar, peradaban yang kita lalui telah berubah menjadi siklus mengerikan yang tak lagi menyisakan rasa belas kasih di antara sesama. Dan seperti kata Nietzsche, peradaban membawa serta perbudakan, manusia dijadikan budak oleh peradaban. Dan aku tetap mengejar imaji tentangmu di segenap gerak langkahku, di peradaban yang telah tercipta kemudian. Kekasih jiwaku, inilah rindu yang tercipta dari meletupnya kenangan untuk menangkap bayangmu…

Fanny J. Poyk

Depok, Januari 2014

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *